Minggu, 19 Desember 2010

Kepercayaan Pada Pasangan

Mencintai seseorang tidak harus memaksakan kehendak bersama. Cukup dengan kesederhanaan dalam saling memahami, bagi saya, sudah cukup. Percaya dengan pasangan merupakan tindakan paling dewasa dan gentlemen. Saya banyak melihat pola berpacaran pemuda jaman sekarang, namun jarang terdapat pasangan yang bisa saling percaya dengan tulus dan menjaga kepercayaan yang diberikan dari kekasihnya.

Kepercayaan pada pasangan dapat melatih diri dan pasangan untuk tahan terhadap kabar miring atau gosip tentang pasangan. Selain itu, kepercayaan juga dapat melatih untuk mengoptimalkan komunikasi. Memang saya akui untuk membiasakan percaya pada pasangan itu sulit, tetapi dapat dilakukan. Perlu pembiasaan dan upaya untuk mencoba. Latihan dasarnya ialah memberikan ruang gerak kepada pasangan. Fungsinya ialah agar pasangan kita dapat berekspresi dan berusaha untuk menjaga sebuah tanggung jawab kepercayaan yang telah diberikan kepadanya.Selain itu, dengan mencoba untuk memberikan ruang gerak kepada pasangan, maka kita juga mendukung pasangan kita agar lebih bisa percaya diri atas segala tantangan hidup.

Langkah kedua ialah memberikan reward kepada pasangan jika pasangan kita mampu menjaga kepercayaan kita. Reward yang saya maksud bukan sekedar hadiah saja, namun itikad untuk terus membina hubungan yang lebih baik dengan pasangan kita. Selain itu, diri kita juga harus adil, jika pasangan kita bersusah payah menjaga kepercayaan yang kita berikan, maka kita juga harus menjaga hubungan kita dengan pasangan dengan setulus-tulusnya dan sebaik-baiknya, jangan ada selingkuh. Ketika pasangan melakukan apa yang kita inginkan, maka kita juga harus adil kepadanya.

Langkah ketiga ialah menenangkan hati atas segala kabar yang belum teruji kebenarannya mengenai pasangan kita. Cara menenangkan hati mudah-mudah sulit. Karena, kita dapat saja berterus terang mengenai apa yang kita rasakan, baik perasaan yang positif maupun yang negatif. Berterus-terang itulah yang mungkin agak sulit dilakukan, mungkin karena hadirnya gengsi dari dalam diri atau faktor lainnya. Misalnya, ketika kita merasakan cemburu pada seseorang, baik teman ataupun penggemar pasangan kita, yang mendekati pasangan kita, maka akan lebih baik jika kita jujur mengatakan kalau kita cemburu dengan orang itu, tapi jangan dengan emosi.

Ketiga langkah tersebut merupakan langkah awal untuk menumbuhkan kepercayaan kepada pasangan kita. Dengan membiasakan diri mempercayai pasangan, maka hati kita akan terbebas dari rasa cemburu yang membabi-buta. Biasakan terus berkomunikasi dengan pasangan, walau tidak harus sering, agar dapat lebih memahami karakteristik pasangan dengan sangat baik.

Kamis, 02 Desember 2010

Bolamu Masih Berputar Garuda

Bravo, itu yang saya katakan ketika menonton kemenangan tim Garuda menang atas lawannya, Malaysia, dalam pertandingan AFF Suzuki Cup tadi malam. Lima gol buah tangan dari tim asuhan Alfred Riedl dipersembahkan kepada para ribuan suporter yang hadir di Stadion Utama Gelora Bung Karno. Meski kemenangan atas Malaysia itu sudah cukup meyakinkan, namun perlu adanya kewaspadaan dan kerendahan hati untuk para jagoan-jagoan lapangan hijau merah putih. Karena, akan masih banyak pertandingan-pertandingan yang menanti mereka ke depannya.

Permainan apik dari dua stater naturalisasi, Cristian Gonzales dan Irfan Bachdim, merupakan bukti yang mereka persembahkan dari kepercayaan Riedl. Status pemain naturalisasi yang mereka sandang sangat penuh kontroversi jauh sebelum pertandingan AFF Suzuki Cup akan dimulai. Ada yang setuju, dan ada yang tidak. Permasalahan sepele yang mempengaruhi idealisme para pecinta sepak bola di Indonesia. Pernah saya berbincang dengan kawan di kantin kampus saya mengenai masalah pemain naturalisasi. Ada yang berpendapat memang harus diberi kesempatan pada pemain naturalisasi, dan ada yang berpendapat bahwa tidak perlu adanya pemain naturalisasi di susunan pemain timnas Indonesia.

Bagi saya, masalah pemain naturalisasi dalam timnas Indonesia, merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas permainan dan sentilan kepada klub sepakbola tanah air untuk melakukan regenerasi pemain dengan serius. Masalahnya adalah, Indonesia masih lamban dalam regenerasi pemain sepakbolanya. Memang bukan masalah sepele, namun cukup berarti bagi perkembangan kualitas timnas merah putih yang kita banggakan.

PSSI harus berani untuk "menyekolahkan" para muda berbakat ke seluruh penjuru dunia. Hal itu dirasakan penting karena, dengan biasa merasakan atmosfir permainan di berbagai kompetisi dunia, diharapkan agar mentalitas dari para generasi muda berbakat akan terlatih menjadi mental juara. Tak usah segan, berlaku nekatlah, demi kebaikan, kemajuan, dan perkembangan dunia persepakbolaan Indonesia juga. Jika ditelisik, sebenarnya banyak bakat-bakat bagus, baik di luar negeri maupun di dalam negeri, yang tidak terjamah oleh para pencari bakat PSSI. Bakat-bakat tunas muda itu akhirnya akan layu sebelum berkembang, karena tidak terjamah oleh tangan-tangan profesional.

Indonesia sebenarnya mampu menjadi juara di Asia ataupun Dunia. Bukan omong kosong, namun memang kualitas pemain kita yang sebenarnya bagus, tapi kurang terlatih. Pemain Indonesia masih kurang terlatih mental, fisik, dan emosinya. Jika saja PSSI banyak uang, mungkin akan bagus jika membuat sebuah kerjasama dengan klub-klub dunia untuk membantu dalam proses regenerasi para pemainnya. Masa negara ini kalah dengan negara-negara di Afrika yang pemainnya sudah banyak merasakan atmosfir permainan tingkat dunia.

PSSI harus berani pasang target, agar piala dunia selanjutnya Indonesia dapat merasakannya. Meskipun bukan sebagai juaranya, setidaknya merasakan rumput hijau di ranah pertarungan dunia. Semoga kemenangan atas Malaysia merupakan titik awal perkembangan persepakbolaan Indonesia. Semoga saja.

Selasa, 30 November 2010

Karim Raslan, Bercerita Tentang Indonesia

Baru-baru ini saya sedang membaca buku "Ceritalah Indonesia" karya dari seorang jurnalis dan pengamat politik dari Malaysia, Karim Raslan. Buku yang berisikan esai-esai beliau itu menarik perhatian saya untuk terus membaca. Ketertarikan saya ialah pada penggambaran suasana Indonesia yang di tulis oleh Karim Raslan begitu terlihat nyata, meskipun baru separuh buku saya baca, dan ia juga cerdas dalam menyuarakan pendapat serta sudut pandangnya akan hal-hal yang terjadi di Indonesia.

Tulisan Karim tersebut seakan-akan membawa saya untuk melihat Indonesia dari mata seorang warga negara asing. Tidak mencerca, namun memberikan pembelajaran sederhana dan berharga. Semakin terus dibaca, semakin saya yakin, bahwa saya tidak mengenal Indonesia. Saya salut dan juga kagum padanya. Ia (Karim) sudah seperti bercerita tentang kampung halamannya. Secara terbesit, ia juga menunjukkan rasa kekagumannya kepada masyarakat Indonesia.

Selain itu, juga terlihat ada kekagumannya kepada almarhum KH. Abdurrahman Wahid atau dikenal dengan nama Gus Dur. Karim memberikan gambaran kekagumannya pada mantan presiden ke empat tersebut. Ia melihat bahwa Gus Dur merupakan sosok yang unik, mampu memberikan kejutan dalam setiap geraknya, dan lincah dalam bermanuver politik. Sungguh, Karim Raslan memberikan sebuah informasi baru pada saya yang tidak begitu menyenangi dunia perpolitikan di Indonesia.

Mata Karim lebih Indonesia daripada mata masyarakat Indonesia pada umumnya dan mata cendekiawan muda Indonesia pada khususnya. Jika dibandingkan antara Karim Raslan dengan para mahasiswa muda di Indonesia, lebih terkesan cinta Indonesia Karim Raslan lebih besar. Saya katakan demikian karena, dalam buku itu (Ceritalah Indonesia), Karim memberikan beberapa pandangan positif tentang negara kita daripada para mahasiswa kita yang hanya bisa protes dan kecewa. Mahasiswa di Indonesia, rata-rata, dapat saya katakan sebagai Barsati (Barisan Sakit Hati).

Buku "Ceritalah Indonesia" akan saya rekomendasikan sebagai buku yang layak untuk dibaca bagi para pejuang muda Indonesia (mahasiswa). Perlunya buku itu dibaca agar para mahasiswa dan pemuda penerus bangsa lainnya mampu membuka hatinya kepada potensi yang dimiliki oleh Indonesia sebagai sebuah negara kesatuan. Jangan hanya menelurkan protes tanpa henti, cobalah berkarya dengan jujur demi kebersamaan rakyat Indonesia.

Obama, Gayus, dan Ariel

Masyarakat Indonesia memang unik. Keunikannya dalam hal euphoria kegempitaan suatu peristiwa. Mungkin masih hangat di ingatan kedatangan Presiden Amerika, Barrack Obama, di Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat, Indonesia. Hanya seorang Barrack Obama dapat membuat suasana kampus UI menjadi gegap gempita dan histeris. "Pulang kampung nih", kata Barrack Obama yang membuat ribuan hadirin di ruangan Balairung UI histeris dan memberikan tepuk tangan.

Mengapa terjadi histeria semacam itu? Mungkin karena Obama pernah tinggal di Indonesia saat masih kecil. Namun, apakah dengan fakta itu akan merubah negara ini lebih maju? Atau akan membuat negara kita ini akan terbebas dari hutang-hutangnya? Saya rasa tidak. Karena, meskipun ia pernah tinggal di Indonesia,bukan berarti ia akan benar-benar memberikan kita kekuatan atas Amerika. Untuk menjadi sebuah negara sekelas Amerika, Indonesia harus banyak belajar dan banyak merenung.

Lalu, peristiwa yang membuat geger masyarakat kita ialah kasus Gayus "Raja Fulus" Tambunan. Gayus membuat geger Indonesia dengan kasus perilaku mafia pajaknya. Kasus mafia pajak semacam itu sebenarnya sudah terjadi jauh sebelum Gayus tertangkap. Pertanyaan saya mungkin sederhana, kenapa baru sekarang ada penyidikan? Kenapa harus muncul Gayus si Raja Fulus barulah ada penyidikan mafia pajak? Aneh memang Indonesia, jika saya lihat dari kacamata saya, Gayus bak pahlawan yang membeberkan segala kebobrokan sistem perpajakan Indonesia. Saya katakan demikian karena, dengan tertangkapnya Si Raja Fulus, barulah ada penyidikan mafia pajak, kalau Gayus tidak tertangkap, mungkin praktek semacam itu akan terus tak tersentuh.

Meskipun sudah mulai diselidiki, penanganan kasus mafia pajak masih tanggung dan terkesan tidak serius. Lolosnya Gayus ke Bali, baik benar atau tidak, merupakan salah satu blindspot hukum yang dimanfaatkan Gayus untuk, mungkin saja, melanjutkan bisnis penggelapan pajaknya. Jika blindspot itu saja bisa dimanfaatkan oleh Gayus, maka dapat saya asumsikan bahwa penanganan kasus Si Raja Fulus masih kurang serius. Perlu banyak perombakan dan diperbaiki sitem humu di Indonesia. Saat ini memang masih kacau, tapi saya yakin, suatu saat nanti, hukum di Indonesia dapat terlaksana dengan baik dan tegas.

Dan peristiwa terakhir, menurut saya, yang membuat heboh masyarakat kita ialah kasus video porno artis Nazril Ilham atau yang lebih dikenal dengan nama Ariel Peterpan (Nama bandnya sekarang kalau tidak salah adalah Feather Band). Awal Juni 2010, video porno yang menampilkan sosok miripnya (saya katakan demikian karena saya belum tahu faktanya dari kepolisian, anggap saja sesosok) dan kekasihnya Luna Maya beredar di dunia maya. Tak lama setelah video itu menyebar, menyusul video Ariel denga Cut Tari (Menurut kabar yang saya dengar, Cut Tari telah mengakuinya).

Kasus itu menjadi heboh karena, video porno itu muncul ketika karir Ariel sedang ada di puncaknya. Selain itu, Ariel juga sudah menjadi ikon pria idaman para perempuan di Indonesia, dan ia juga sudah menjadi idola dari orang dewasa hingga anak-anak. Pendapat saya mengenai kasus Ariel Peterpan ialah biarkan aparat hukum menindaklanjutinya dengan sebaik-baiknya, tidak usah repot-repot berdemo di depan gedung tempat Ariel di sidang dan mengatasnamakan agama, moral, etika dan lain sebagainya. Lebih baik berkarya untuk dijual atau bekerja dengan rajin saja. Pendapat sinis saya tersebut karena, saya jengah dengan perilaku sok suci dari sekelompok masyarakat itu. Percayakan pada aparat hukum saja.

Kasus Ariel itu bukanlah hal yang besar, karena masih banyak pelaku video porno lainnya yang masih bebas. Kenapa mereka tidak digubris dan didemo? Apakah karena mereka cuma rakyat biasa? Bukan artis seperti Ariel, Luna, dan Cut Tari? Cobalah dijawab dengan bijak. Lalu, ada satu lagi pertanyaan saya untuk mereka yang merasa dirinya suci, pernah atau tidak melihat video porno Ariel tersebut? Jika sudah silahkan berkomentar, namun jika tidak, cukup duduk kalem dan anteng.

Obama, Gayus, dan Ariel tengah mengguncang Indonesia dengan segala pemberitaannya. Obama yang membuat rakya Indonesia sedikit sombong kepada Amerika, Gayus yang membuat rakyat Indonesia gerah dengan kriminalnya, dan Ariel yang membuat orang merasa lebih suci dari orang lain. Apakah bisa kita tidak usah terlalu menggubris hal-hal yang sepele? Masih banyak rakyat kita yang kelaparan dan bodoh berkeliaran. Mereka masih lebih butuh perhatian dan gerak kita daripada ketiga nama yang saya sebutkan tersebut. Berbuatlah buat mereka, jangan urusi hal yang tidak penting.

Minggu, 28 November 2010

Curhat 1: Antara Band, Impian, dan Kebahagiaan Sahabat

Pada hari minggu tanggal 28 November 2010, saya berkumpul dengan teman-teman saya di sebuah studio band, di Petamburan, Jakarta Pusat. Sebuah studio sederhana dengan alat-alat musik yang tidak terlalu mewah namun terjaga bagus. Seorang penjaga studio yang dikenal dengan nama Apenk adalah seorang pria mungil yang bersahaja. Ia bekerja rajin dan penuh dedikasi pada studio sederhana itu.

Saya pribadi memang tidaklah akrab dengannya, namun dengan hanya bertegur sapa selang setahun, sudah dapat saya simpulkan bahwa Apenk adalah seorang mempunyai impian besar. Impiannya besar dan sederhana, yakni menjadi terkenal dengan bandnya yang bernama Joe Cool. Saya pribadi tak pernah menanyakan apa arti di balik nama tersebut. Asumsi saya pribadi ialah nama Joe Cool maksudnya ialah band yang dapat dinikmati dan dijual lagunya ke pasar musik Indonesia.

Sebenarnya saya tidak terlalu mengenal band itu. Saya baru mengenalnya ketika dua orang sahabat saya, bernama Imam Fauzi dan Sudrajat, ditarik menjadi personil di dalam band itu. Sejujurnya saya takjub dengan semangat para personil di dalamnya, begitu gigih dalam mengejar impian mereka. Secara penuh, band Joe Cool berisikan lima orang personel, yaitu Imam pada Vokal, Lote pada Gitar, Apenk pada Gitar, Rahmat pada Bass, dan Sudrajat atau Ajat pada Drum.

Namun, jauh di lubuk hati, saya iri terhadap kebahagiaan sahabat saya, Imam dan Ajat, karena saya selalu tidak bisa membentuk band seperti itu. Ada saja yang terjadi pada band yang saya buat dan keinginan saya sebenarnya ialah membuat band bersama kedua sahabat saya, Imam dan Ajat. Band yang dapat membuat saya menikmati bermain musik, band yang dapat membuat saya lepas dan fresh, band yang tidak memberikan stres, dan band yang ada Imam dan Ajat di dalamnya.

Harapan saya itu tidak dapat saya wujudkan, karena saya sudah melihat kedua sahabat saya bahagia dengan band Joe Cool-nya. Saya hanya akan berdoa untuk keberhasilan kedua sahabat saya dan bandnya, Joe Cool. Mereka (Joe Cool) sudah tinggal beberapa langkah lagi menuju impian mereka. Begitu konsisten dan presisten dalam mengejar impian tersebut. Langkah yang tepat dalam mengejar impian. Harus konsisten dan presisten, karena akan banyak ujian dan cobaan yang akan dihadapi.

Doa saya kepada Imam dan Ajat hanya satu, semoga impian menjadi seorang musisi dapat tercapai. Jangan lihat ke belakang, terus maju dan maju. Jika ada masalah, jangan mundur atau menghindar, hadapi dengan berani. Semua demi impian kalian berdua.