Kamis, 06 April 2017

Unek-unek Perihal Program Televisi

Televisi telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat modern. Televisi telah menjadi all in one entertainment yang murah meriah khalayak ramai. Semua program televisi sejatinya ada untuk menghibur penonton sehingga sejenak bisa melepaskan penat pikiran mereka.

Akan tetapi, kini hiburan itu semakin tidak jelas arahnya. Sebab, seluruh program televisi saat ini mayoritas setipe dan monoton. Beberapa televisi bahkan menjual sinetron murahan dengan plot cerita yang mudah tertebak. Bahkan, ada beberapa sinetron yang menjual romansa tidak sesuai dengan usianya.

Mata kita saat ini sangat lumrah melihat adegan anak sekolah bercinta-cintaan dengan berbagai intrik yang di luar nalar. Selain itu, kita juga dipertontonkan gaya anak muda yang sangat jauh dari kondisi sebenarnya anak sekolah, khususnya perihal gaya hidup.

Hal ini sangat mengganggu saya lantaran banyak anak-anak yang akhirnya meniru berbagai tontonan "sampah" itu dalam kehidupan sehari-harinya. Sebagai orang tua, saya melihatnya sebagai kondisi yang miris lantaran sulitnya bagi orang tua untuk menyortir berbagai tontonan itu pada anak. Mereka, anak-anak, terpaksa disuguhkan tontonan yang belum sepenuhnya mereka pahami.

Bila membuka lembar kenangan masa lalu saya, dulu begitu banyak tontonan layak untuk anak. Berbagai serial kartun di hari minggu bertebaran memanjakan anak-anak era tahun 90-an. Bahkan, bagi generasi 80-90-an yang kini telah dewasa, kenangan itu membekas dan membuat sebagian besar mereka ingin me-rewind kenangan itu hingga mencari tontonan kartun kenangan di internet.

Seandainya para pemilik televisi itu bisa melupakan sejenang perihal rating program yang dijual oleh lembaga rating program televisi Nielsen dan membuat tontonan yang layak, tentu berbagai acara "sampah" tak akan berkeliaran di stasiun televisi mereka.

Sayangnya, hal itu kiranya tidak akan mereka lakukan. Sebab, uang lebih penting ketimbang masa depan anak-anak Indonesia.

Tapi, bila boleh memberikan sedikit pemikiran saya, ada baiknya para pengusaha televisi tidak lagi bergantung pada rating yang notaben penilaiannya kurang jelas. Coba fokus untuk membuat program televisi berkualitas yang tidak melulu meniru program lainnya.

Saya rasa, banyak anak muda kreatif dengan ide cemerlang dan brilian yang bisa diajak diskusi untuk membuat sebuah program televisi berkualitas. Pastinya, akan banyak variasi program televisi yang tak melulu menjual cinta-cintaan khas sinetron "alay".

Hingga saat ini, mungkin program televisi cukup "aman" ditonton baru ada di NET TV (bukan promosi). Alasan saya mengatakan hal itu lantaran stasiun televisi itu menyajikan banyak tontonan variatif dan tidak melulu meniru patron yang ada.

Segi sinematografinya pada sinema serinya berbeda dengan berbagai sinetron "alay" yang tersebar hampir di seluruh stasiun televisi nasional. Selain itu, penonton NET TV tidak melulu disuguhkan drama semata, ada berbagai bentuk variety show yang berbeda-beda karakternya.

Tontonan semacam itu yang saya rindukan sejak lama. Mantengin NET TV tidak membuat saya jenuh dan bosan lantaran beragam variasi programnya. Kiranya, televisi nasional yang sudah lebih dahulu ada bisa belajar kepada juniornya itu untuk membuat program televisi berkualitas.

Saya rasa, banyak penonton televisi yang merindukan program televisi berkualitas. Jadi, bagi pengusaha televisi nasional, cobalah untuk menurunkan bebal otak kalian dan mulai berpikir jernih untuk menyajikan program televisi berkualitas.

Cerdaslah Menjadi Pemilih dan Pengguna Medsos

Melihat fenomena pemilihan kepala daerah (Pilkada) akhir-akhir ini memberikan beberapa pelajaran bagi saya. Pertama, tingkat kepedulian dan partisipatoris masyarakat Indonesia, khususnya di daerah yang tengah menyelenggarakan semakin tinggi. Hal itu bisa terlihat dari berbagai macam keikutsertaan masyarakat dalam rangkaian Pilkada, mulai dari kampanye hingga mengikuti acara debat resmi Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD).

Apalagi, bila menilik aktifitas di dunia media sosial (medsos). Banyak pengguna akun medsos yang senantiasa mendengungkan dan mengkampanyekan jagoan masing-masing. Keadaan ini bisa dikatakan sebagai suatu kondisi positif lantaran masyarakat Indonesia tidak lagi awam terhadap dunia politik.

Kedua, pola kampanye para calon kepala daerah semakin kreatif dan mencoba menarik perhatian pemilih pemula. Idenya pun beragam, mulai dengan pendekatan humor satire hingga video kampanye memaparkan visi misi kandidat calon.

Kiranya berbagai pendekatan mulai digunakan secara unik agar dapat lebih menonjol ketimbang calon lainnya. Ide-ide kreatif para tim sukses di balik layar tentunya patut diacungi jempol. Sebab, kini kampanye tidak hanya identik dengan konser musik alakadarnya ataupun tebar pesona melalui poster ataupun baliho.

Dan, ketiga, munculnya ruang terbuka bagi masyarakat untuk lebih mengenal calon kandidat yang akan dipilihnya. Tentunya, hal ini dipengaruhi akan kemajuan teknologi. Kini, siapapun bisa mencari informasi sebanyak mungkin mengenai calon kandidat. Bahkan, calon pemilih bisa update dengan leluasa mengenai visi misi ataupun kegiatan calon kandidat selama masa kampanye keliling.

Pastinya, berbagai akses informasi itu akan sangat membantu calon pemilih untuk menentukan pilihannya kelak di bilik pencoblosan. Pemilih menjadi dimudahkan dengan segala fasilitas yang ada untuk mendapatkan informasi.

Meski begitu, momen Pilkada tentunya memunculkan beberapa masalah sosial yang juga baru ada saat ini. Salah satu contoh yang paling saya tidak sukai ialah munculnya gesekan kontraproduktif antar tim sukses ataupun pendukung pasangan calon.

Berbagai akun medsos anonim bermunculan mencerca, mencela, bahkan menyebarkan kampanye hitam terhadap calon kandidat yang tengah berkompetisi. Adapun, hal itu bukanlah hal yang baik dilakukan meski dalam demokrasi penggunaan cara seperti itu mungkin saja diperbolehkan.

Gesekan paling banyak memang terjadi di ranah dunia maya. Akan tetapi, ada kalanya gesekan itu terealisasikan dalam dunia nyata. Berdasarkan pengalaman pribadi, beberapa kawan saya menjadi bermusuhan lantaran terlalu getol membela jagoan mereka. Padahal, beberapa tahun silam, mereka adalah kawan karib yang sudah selaiknya saudara.

Kondisi seperti ini yang membuat saya jemu dan jengah akan keadaan kampanye di dunia maya. Hal terparah ialah ada beberapa kawan saya berkoar-koar akan calon yang tidak berlaga di daerahnya. Tentunya, boleh saja mereka berkomentar mengenai Pilkada yang terjadi di luar daerahnya, khususnya mengenai Pilkada DKI Jakarta. Namun, bagi saya itu hanya buang-buang waktu dan tenaga lantaran efek yang akan diterima mereka tidaklah signifikan akan siapa pemenang Pilkada di daerah lain.

Kiranya, perlu kesadaran dari masing-masing kita untuk menahan diri dan tidak terlalu memaksakan menjagokan kandidat calon secara berlebihan. Sebab, sebaik-baiknya calon kandidat kepala daerah mereka tetaplah manusia.

Mereka bukanlah dewa yang harus disembah-sembah atau Tuhan yang menjelma dalam raga manusia. Mereka manusia biasa, sama halnya dengan kita semua. Jadi, jangan terlalu buta membela mereka seolah-olah merekalah Sang Juru Selamat umat manusia.

Selain itu, medsos bukanlah sekedar media kampanye politik semata. Banyak hal yang bisa dilakukan secara positif dan produktif melalui medsos. Coba tinggalkan aroma persaingan Pilkada dan gunakan medsos secara cerdas.

Akhir kata, tulisan ini sebenarnya hanya sebagian dari curahan hati yang saya pendam lantaran malas melihat tingkah polah banyak pendukung calon hilir mudik di medsos saya. Ada baiknya, mari kita bersama-sama menjadi pemilih dan pengguna medsos yang cerdas. Tak perlu terlalu getol membela calon kandidat, cukup pantau, pelajari, dan pertanyakan visi misi para calon kandidat. Bedah program mereka, cerna, dan tentukan pilihanmu.

Selasa, 18 Agustus 2015

Perihal Menyikapi Media Kepentingan

Melihat pemberitaan media kini sungguh memuakkan. Pasalnya, beragam media sudah tidak menjunjung tinggi asas keberimbangan. Media, apapun bentuknya, sudah menjadi alat propaganda untuk meluluskan tujuan kelompoknya masing-masing. Tak hanya media nasional saja, tren ini juga dianut oleh media-media dari kalangan organisasi atau kelompok tertentu.

Fenomena macam ini pastinya memunculkan kemungkinan memecahbelah bangsa. Dengan pemberitaan yang tidak berimbang maka media menjadi alat untuk menggiring opini. Alhasil, media sosial kerap ramai akan perdebatan bak lingkaran setan yang tak berujung.

Bangsa Indonesia, sayangnya, sangat melek teknologi. Hal itu menyebabkan pemberitaan dari beragam media kepentingan menjadi tersebar tanpa adanya klarifikasi. Tak asing bila akhirnya membuat satu orang dengan orang lain saling berdebat, bahkan saling menuding atas pemberitaan.

Sudah sepantasnya negara bersikap tegas akan media-media yang hanya memberitakan isu-isu yang menguntungkan kelompoknya. Bila dibiarkan maka akan terjadi gegar informasi dalam masyarakat. Masing-masing kelompok merasa beritanya membawa dan membuka tabir kebenaran. Nyatanya, pemberitaan yang diusungnya tidak melakukan klarifikasi dan hanya menonjolkan pihak yang dibela oleh media tersebut.

Media, sebagai wadah informasi, harusnya menjadi sumber pencerahan bagi pembacanya. Dari medialah seharusnya pembaca mengetahui informasi yang sebelumnya awam diketahui. Tak hanya itu, media juga seharusnya memberikan sumbangsi apresiasi atas sumbangsi anak negeri yang telah memiliki karya di mana pun dirinya berada.

Sebenarnya, kemuakan akan berita satu sisi sudah dirasakan oleh mayoritas rakyat negeri ini. Sayangnya, mereka yang melek akan kondisi ini baru sebatas mereka berpendidikan tinggi. Bagi mereka yang tidak berpendidikan tinggi, mereka akan tergiring jahatnya ombak opini sehingga memicu pertikaian.

Kemunculan remotivi.com bisa menjadi sebuah wadah kritik untuk media pembela kepentingan kelompok tertentu. Namun, kita tidak bisa menjadikan portal tersebut untuk menjadi pahlawan saja. Harus ada kesadaran diri dari masing-masing individu untuk melakukan klarifikasi atas sebuah pemberitaan.

Mulai dengan menjadi pembaca cerdas adalah langkah awal memberangus media-media pembela kepentingan kelompok tersebut. Menjadi pembaca yang cerdas sejatinya sangat mudah. Yakni, dengan membiasakan diri melakukan klarifikasi atas sebuah pemberitaan dari berbagai sudut pandang. Dengan begitu, informasi yang ditangkap akan lengkap dan diri kita dapat dengan mudah mengambil sikap atas sebuah peristiwa.

Sebagai pembaca cerdas, jangan mudah percaya pada media yang tidak jelas dari mana sumbernya. Terlebih sumbernya hanya mencatut tanpa pengolahan secara mendalam. Pencatutan sembarangan menandakan bahwa berita dalam media tersebut tidak digarap oleh orang-orang kompeten. Percaya pada berita yang tidak jelas juntrungannya sama saja percaya pada orang fasik dan tidak melakukan tabayyun.

Setelah itu, menjadi pembagi berita yang objektif. Dengan begitu kita menjadi prajurit-prajurit yang berjuang untuk kebenaran informasi. Bila sebuah isu yang dimunculkan sebuah media dirasa tidak layak disebarkan maka jangan disebarkan. Terutama isu yang berkaitan dengan teori konspirasi. Karena, isu-isu semacam itu belum atau sulit ditentukan kebenaran informasinya. Perlu penelaahan lebih mendalam perihal isu-isu berbau konspirasi.

Kedua hal itu, saya rasa, hal mendasar dalam menyikapi berbagai berita sepihak dari media kepentingan. Dengan menerapkan kedua hal itu, setidaknya, sudah melindungi diri kita dari berita-berita berjenis giringan opini. Perlu rasanya kita menjadi seorang yang bijak dalam membaca berita dan membagikannya. Meski, terkadang informasi yang ada di dalamnya merupakan informasi baru. Kita harus terus melakukan klarifikasi atas pemberitaan dari media manapun.

Rabu, 12 Agustus 2015

Tontonan Anak Dan Persoalan Bangsa

Memperhatikan dinamika pertelevisian saat ini sungguh membuat pusing kepala. Ya, lihat saja tontonan televisi yang kerap menampilkan kemonotonan tema dan selalu melakukan repetisi format acara hanya untuk mengejar rating. Juga tengok perihal pemberitaan. Sudah jauh dari kesan pemberitaan berimbang, berbobot, dan berilmu.

Ada yang salah dengan dunia pertelevisian Indonesia. Beragam acara yang melanggar masih terpelihara dengan apik di stasiun televisi tanpa ada pemberhentian. Sebut saja beberapa serial televisi, Tukang Bubur Naik Haji, Ganteng-Ganteng Serigala, dan 7 Manusia Harimau yang dengan leluasa lenggak-lenggok di layar kaca. Padahal, dampak negatif sudah sangat nyata menghantui di depan mata.

Coba tengok anak-anak yang menjadikan tontonan seperti itu sebagai sarapan sehari-harinya. Ada gegar imajinasi dan salah kaprah pemahaman mengenai interaksi sosial. Ada yang berlomba-lomba berperilaku kehewan-hewanan dan ada pula yang berlomba mendapatkan "cinta" yang belum pantas mereka lakonkan. Sungguh sudah status siaga keadaan anak-anak saat ini.

Padahal, pada era 80 hingga 90-an televisi masih disesaki tontonan layak untuk anak. Sebut saja Keluarga Cemara, Unyil, Si Komo, Tralala-Trilili, dan acara menggambar Pak Tino Sidin. Melalui acara-acara tersebut, anak-anak dilatih sisi imajinasi, kreatifitas, sisi humanisme, dan perilaku kanak-kanak yang menyenangkan. Tak hanya itu, tontonan semacam itu menjadi tuntunan anak-anak memahami bagaimana seharusnya berperilaku, berinteraksi, dan nilai-nilai dalam masyarakat.

Jika dibandingkan dengan generasi masa kini, generasi 80 dan 90-an merupakan generasi anak-anak bahagia. Mereka merasakan bagaimana menjadi anak yang bertingkah-polah selayaknya anak-anak. Sekarang, kita sering menemukan anak-anak mudah sekali berujar "cinta" padahal belum memahami apa bentuk konsekuensi dan tanggung jawab ketika mengenal "cinta". Koridor tata nilai kita sudah rusak.

Kita dapat dengan mudah menyalahkan budaya asing yang telah mencengkramkan cakarnya di negeri kita tercinta. Tapi, bukan soal itu saja yang menjadi persoalan besarnya. Persoalan terbesarnya ialah kita membiarkan diri kita terbuai dengan dampak negatif yang terselip dari keindahan budaya asing. 

Harusnya, setiap kepala kita berpikir, apakah Indonesia ini memiliki budaya yang menjadi identitas bangsa? Saya bisa menjawab dengan lantang. Kita belum mempunyai identitas budaya. Karena, yang kita miliki ialah budaya daerah yang menjadi identitas. Dengan begitu, secara tak sadar kita sudah mengotak-ngotakkan diri kita menjadi banyak kotak berdasarkan latar budaya daerah masing-masing. Kita bersatu dalam negara Indonesia hanya karena disatukan oleh bahasa Indonesia yang kadang belum mampu dikuasai sepenuhnya oleh perindividu kita.

Apa yang kita lakukan? Kita hanya berkutat pada isu remeh, seperti isu agama, suku, dan politik, yang berpotensi memperuncing perpecahan. Dan, itulah yang disaksikan oleh anak-anak. Kesibukan kita membahas hal remeh menjadikan kita membiarkan anak-anak terbuai oleh tontonan tak layak dan tak berbuat apa-apa untuk mencegah anak-anak kita terhipnotis dengan beragam tontonan beracun tersebut.

Seharusnya, kita bersatu untuk anak-anak kita. Bersatu untuk memberikan sebuah tuntunan agar anak-anak mau dan mampu bersikap kritis atas segala suguhan yang ada di layar kaca. Dengan begitu, tanpa dipantau pun anak-anak akan membiasakan diri memborder diri mereka dari tontonan tidak layak. Ketika tontonan tak layak bagi anak-anak tidak lagi ditonton maka dengan sendirinya tontonan itu akan "terbungkus". 

Mulai dari diri kita untuk tidak mempersalahkan dan menghujat. Mulai untuk membenahi diri sendiri dan melihat segala hal dengan kacamata yang lebih luas. Dan, mulailah dengan bersatu menghentikan tontonan racun demi anak-anak kita.

Kamis, 26 Juni 2014

Silaturahim, Capres, dan Pemilu

Tahun ini,  2014, merupakan tahun politik.  Telah kita lalui pileg di bulan april dengan segala intrik dan peristiwanya. Tinggal menghitung hari,bangsa Indonesia akan memasuki pemilihan presiden (pilpres). Namun, perjalanan pemilihan umum (pemilu) tahun ini sungguh berpotensi meretakkan kesatuan bangsa Indonesia. Keretakan yang terjadi karena fanatisme berlebihan para pendukung partai ataupun capres.

Pada pileg kemarin, terlihat bagaimana masyarakat terbagi bukan berdasarkan keberagaman suku bangsanya, melainkan kepada partainya. Pada pileg kemarin pula terjadi kerusuhan yang lebih dahsyat dari kerusuhan di Poso ataupun kerusuhan saat sidang John Kei.  Kerusuhan yang terjadi pada pileg ialah kerusuhan mental. Ya, kerusuhan yang tidak terjadi secara bentrok fisik, namun bentrok kepentingan kelompok partai yang diusung.

Orang saling menyerang dengan biadabnya hanya demi membela partai yang belum tentu mampu mengapresiasi kinerja simpatisannya. Saling menjatuhkan, saling merasa benar. Padahal, kebenaran partai hanya kebenaran subjektif. Selain itu, media pun semakin terlihat belangnya. Tengok saja dua media televisi nasional, Metro TV dan TV One, yang dengan membabi buta membela partai pemilik dua media tersebut, Partai Nasdem (Surya Paloh) dan Partai Golkar (Abu Rizal Bakrie).

Media tak dapat dipercaya, masyarakat saling serang, dan kedengkian pun berkembang pesat. Sungguh suatu kerusuhan luar biasa. Padahal, pemilu diadakan untuk menentukkan pemimpin Indonesia ke depan, bukan sekedar ranah tawuran antar kepentingan.

Saya pribadi, tidak suka dengan atmosfir pemilu tahun ini. Pemilu tahun ini merupakan pemilu kedua yang saya ikuti. Meski demikian, setidaknya saya mengalami masa pemerintahan dari masa akhir orba hingga sekarang. Namun, baru kali ini saya merasakan pemilu yang begitu busuk sepanjang saya hidup. Kasar, intoleran, dan perang hujatan antar simpatisan partai. Perbuatan-perbuatan itu dilakukan dengan kesadaran penuh untuk memenangkan partai politik yang diusung. Sungguh memalukan.

Bila melihat keadaan saat ini, saya pribadi melihat bahwa bangsa ini lebih cocok bila sistem pemerintahannya kerajaan. Pasalnya, setiap tokoh politik tidak dilihat berdasarkan kinerja dan kredibilitasnya, melainkan popularitasnya saja. Setelah populer kemudian dipuja-puja sedemikian rupa selayaknya raja atau ratu. Padahal, belum tentu populeritas diimbangi dengan kualitas. Hal sederhana yang selalu alpa dalam otak masyarakat kita.

Bangsa ini belum sanggup berdemokrasi cerdas. Masih mudah dimobilisasi, masih mudah mengagung-agungkan orang lain, dan terlalu mudah tertipu. Tertipu dengan tampilan fisik, tertipu dengan harta, dan tertipu dengan bujuk rayuan.

Perlu disadari, bangsa ini tak akan besar selama prilaku berpolitik para politikus dan simpatisannya masih seperti ini.  Bangsa kita akan selalu terkerdilkan oleh kelakuan segelintir orang. Bila bicara realitas, kemiskinan di Indonesia bukan kemiskinan harta, melainkan kemiskinan mental. Kemiskinan yang perlu penanganan tepat. Bukan sekedar revolusi mental, yang terkesan masif, atau langkah kedisplinan saja. Namun, perlu penanaman kesadaran sebagai bangsa Indonesia, bukan bangsa yang terbagi atas agama, parpol, dan etnis semata. Indonesia bisa hebat bila tidak melulu mengedepankan kepentingan kelompok semata. Indonesia bisa hebat bila seluruh rakyat Indonesia sadar bahwa Indonesia bukan sekedar kata dan negara, melainkan darah, daging, dan keringat tiap warga negaranya. Jangan mau dipecah karena partai politik, jangan mau dipecah karena perbedaan agama, dan jangan mau dipecah karena imingan harta. Indonesia satu, Indonesia bangkit, dan Indonesia hebat.