Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

Kamis, 06 April 2017

Unek-unek Perihal Program Televisi

Televisi telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat modern. Televisi telah menjadi all in one entertainment yang murah meriah khalayak ramai. Semua program televisi sejatinya ada untuk menghibur penonton sehingga sejenak bisa melepaskan penat pikiran mereka.

Akan tetapi, kini hiburan itu semakin tidak jelas arahnya. Sebab, seluruh program televisi saat ini mayoritas setipe dan monoton. Beberapa televisi bahkan menjual sinetron murahan dengan plot cerita yang mudah tertebak. Bahkan, ada beberapa sinetron yang menjual romansa tidak sesuai dengan usianya.

Mata kita saat ini sangat lumrah melihat adegan anak sekolah bercinta-cintaan dengan berbagai intrik yang di luar nalar. Selain itu, kita juga dipertontonkan gaya anak muda yang sangat jauh dari kondisi sebenarnya anak sekolah, khususnya perihal gaya hidup.

Hal ini sangat mengganggu saya lantaran banyak anak-anak yang akhirnya meniru berbagai tontonan "sampah" itu dalam kehidupan sehari-harinya. Sebagai orang tua, saya melihatnya sebagai kondisi yang miris lantaran sulitnya bagi orang tua untuk menyortir berbagai tontonan itu pada anak. Mereka, anak-anak, terpaksa disuguhkan tontonan yang belum sepenuhnya mereka pahami.

Bila membuka lembar kenangan masa lalu saya, dulu begitu banyak tontonan layak untuk anak. Berbagai serial kartun di hari minggu bertebaran memanjakan anak-anak era tahun 90-an. Bahkan, bagi generasi 80-90-an yang kini telah dewasa, kenangan itu membekas dan membuat sebagian besar mereka ingin me-rewind kenangan itu hingga mencari tontonan kartun kenangan di internet.

Seandainya para pemilik televisi itu bisa melupakan sejenang perihal rating program yang dijual oleh lembaga rating program televisi Nielsen dan membuat tontonan yang layak, tentu berbagai acara "sampah" tak akan berkeliaran di stasiun televisi mereka.

Sayangnya, hal itu kiranya tidak akan mereka lakukan. Sebab, uang lebih penting ketimbang masa depan anak-anak Indonesia.

Tapi, bila boleh memberikan sedikit pemikiran saya, ada baiknya para pengusaha televisi tidak lagi bergantung pada rating yang notaben penilaiannya kurang jelas. Coba fokus untuk membuat program televisi berkualitas yang tidak melulu meniru program lainnya.

Saya rasa, banyak anak muda kreatif dengan ide cemerlang dan brilian yang bisa diajak diskusi untuk membuat sebuah program televisi berkualitas. Pastinya, akan banyak variasi program televisi yang tak melulu menjual cinta-cintaan khas sinetron "alay".

Hingga saat ini, mungkin program televisi cukup "aman" ditonton baru ada di NET TV (bukan promosi). Alasan saya mengatakan hal itu lantaran stasiun televisi itu menyajikan banyak tontonan variatif dan tidak melulu meniru patron yang ada.

Segi sinematografinya pada sinema serinya berbeda dengan berbagai sinetron "alay" yang tersebar hampir di seluruh stasiun televisi nasional. Selain itu, penonton NET TV tidak melulu disuguhkan drama semata, ada berbagai bentuk variety show yang berbeda-beda karakternya.

Tontonan semacam itu yang saya rindukan sejak lama. Mantengin NET TV tidak membuat saya jenuh dan bosan lantaran beragam variasi programnya. Kiranya, televisi nasional yang sudah lebih dahulu ada bisa belajar kepada juniornya itu untuk membuat program televisi berkualitas.

Saya rasa, banyak penonton televisi yang merindukan program televisi berkualitas. Jadi, bagi pengusaha televisi nasional, cobalah untuk menurunkan bebal otak kalian dan mulai berpikir jernih untuk menyajikan program televisi berkualitas.

Cerdaslah Menjadi Pemilih dan Pengguna Medsos

Melihat fenomena pemilihan kepala daerah (Pilkada) akhir-akhir ini memberikan beberapa pelajaran bagi saya. Pertama, tingkat kepedulian dan partisipatoris masyarakat Indonesia, khususnya di daerah yang tengah menyelenggarakan semakin tinggi. Hal itu bisa terlihat dari berbagai macam keikutsertaan masyarakat dalam rangkaian Pilkada, mulai dari kampanye hingga mengikuti acara debat resmi Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD).

Apalagi, bila menilik aktifitas di dunia media sosial (medsos). Banyak pengguna akun medsos yang senantiasa mendengungkan dan mengkampanyekan jagoan masing-masing. Keadaan ini bisa dikatakan sebagai suatu kondisi positif lantaran masyarakat Indonesia tidak lagi awam terhadap dunia politik.

Kedua, pola kampanye para calon kepala daerah semakin kreatif dan mencoba menarik perhatian pemilih pemula. Idenya pun beragam, mulai dengan pendekatan humor satire hingga video kampanye memaparkan visi misi kandidat calon.

Kiranya berbagai pendekatan mulai digunakan secara unik agar dapat lebih menonjol ketimbang calon lainnya. Ide-ide kreatif para tim sukses di balik layar tentunya patut diacungi jempol. Sebab, kini kampanye tidak hanya identik dengan konser musik alakadarnya ataupun tebar pesona melalui poster ataupun baliho.

Dan, ketiga, munculnya ruang terbuka bagi masyarakat untuk lebih mengenal calon kandidat yang akan dipilihnya. Tentunya, hal ini dipengaruhi akan kemajuan teknologi. Kini, siapapun bisa mencari informasi sebanyak mungkin mengenai calon kandidat. Bahkan, calon pemilih bisa update dengan leluasa mengenai visi misi ataupun kegiatan calon kandidat selama masa kampanye keliling.

Pastinya, berbagai akses informasi itu akan sangat membantu calon pemilih untuk menentukan pilihannya kelak di bilik pencoblosan. Pemilih menjadi dimudahkan dengan segala fasilitas yang ada untuk mendapatkan informasi.

Meski begitu, momen Pilkada tentunya memunculkan beberapa masalah sosial yang juga baru ada saat ini. Salah satu contoh yang paling saya tidak sukai ialah munculnya gesekan kontraproduktif antar tim sukses ataupun pendukung pasangan calon.

Berbagai akun medsos anonim bermunculan mencerca, mencela, bahkan menyebarkan kampanye hitam terhadap calon kandidat yang tengah berkompetisi. Adapun, hal itu bukanlah hal yang baik dilakukan meski dalam demokrasi penggunaan cara seperti itu mungkin saja diperbolehkan.

Gesekan paling banyak memang terjadi di ranah dunia maya. Akan tetapi, ada kalanya gesekan itu terealisasikan dalam dunia nyata. Berdasarkan pengalaman pribadi, beberapa kawan saya menjadi bermusuhan lantaran terlalu getol membela jagoan mereka. Padahal, beberapa tahun silam, mereka adalah kawan karib yang sudah selaiknya saudara.

Kondisi seperti ini yang membuat saya jemu dan jengah akan keadaan kampanye di dunia maya. Hal terparah ialah ada beberapa kawan saya berkoar-koar akan calon yang tidak berlaga di daerahnya. Tentunya, boleh saja mereka berkomentar mengenai Pilkada yang terjadi di luar daerahnya, khususnya mengenai Pilkada DKI Jakarta. Namun, bagi saya itu hanya buang-buang waktu dan tenaga lantaran efek yang akan diterima mereka tidaklah signifikan akan siapa pemenang Pilkada di daerah lain.

Kiranya, perlu kesadaran dari masing-masing kita untuk menahan diri dan tidak terlalu memaksakan menjagokan kandidat calon secara berlebihan. Sebab, sebaik-baiknya calon kandidat kepala daerah mereka tetaplah manusia.

Mereka bukanlah dewa yang harus disembah-sembah atau Tuhan yang menjelma dalam raga manusia. Mereka manusia biasa, sama halnya dengan kita semua. Jadi, jangan terlalu buta membela mereka seolah-olah merekalah Sang Juru Selamat umat manusia.

Selain itu, medsos bukanlah sekedar media kampanye politik semata. Banyak hal yang bisa dilakukan secara positif dan produktif melalui medsos. Coba tinggalkan aroma persaingan Pilkada dan gunakan medsos secara cerdas.

Akhir kata, tulisan ini sebenarnya hanya sebagian dari curahan hati yang saya pendam lantaran malas melihat tingkah polah banyak pendukung calon hilir mudik di medsos saya. Ada baiknya, mari kita bersama-sama menjadi pemilih dan pengguna medsos yang cerdas. Tak perlu terlalu getol membela calon kandidat, cukup pantau, pelajari, dan pertanyakan visi misi para calon kandidat. Bedah program mereka, cerna, dan tentukan pilihanmu.

Selasa, 18 Agustus 2015

Perihal Menyikapi Media Kepentingan

Melihat pemberitaan media kini sungguh memuakkan. Pasalnya, beragam media sudah tidak menjunjung tinggi asas keberimbangan. Media, apapun bentuknya, sudah menjadi alat propaganda untuk meluluskan tujuan kelompoknya masing-masing. Tak hanya media nasional saja, tren ini juga dianut oleh media-media dari kalangan organisasi atau kelompok tertentu.

Fenomena macam ini pastinya memunculkan kemungkinan memecahbelah bangsa. Dengan pemberitaan yang tidak berimbang maka media menjadi alat untuk menggiring opini. Alhasil, media sosial kerap ramai akan perdebatan bak lingkaran setan yang tak berujung.

Bangsa Indonesia, sayangnya, sangat melek teknologi. Hal itu menyebabkan pemberitaan dari beragam media kepentingan menjadi tersebar tanpa adanya klarifikasi. Tak asing bila akhirnya membuat satu orang dengan orang lain saling berdebat, bahkan saling menuding atas pemberitaan.

Sudah sepantasnya negara bersikap tegas akan media-media yang hanya memberitakan isu-isu yang menguntungkan kelompoknya. Bila dibiarkan maka akan terjadi gegar informasi dalam masyarakat. Masing-masing kelompok merasa beritanya membawa dan membuka tabir kebenaran. Nyatanya, pemberitaan yang diusungnya tidak melakukan klarifikasi dan hanya menonjolkan pihak yang dibela oleh media tersebut.

Media, sebagai wadah informasi, harusnya menjadi sumber pencerahan bagi pembacanya. Dari medialah seharusnya pembaca mengetahui informasi yang sebelumnya awam diketahui. Tak hanya itu, media juga seharusnya memberikan sumbangsi apresiasi atas sumbangsi anak negeri yang telah memiliki karya di mana pun dirinya berada.

Sebenarnya, kemuakan akan berita satu sisi sudah dirasakan oleh mayoritas rakyat negeri ini. Sayangnya, mereka yang melek akan kondisi ini baru sebatas mereka berpendidikan tinggi. Bagi mereka yang tidak berpendidikan tinggi, mereka akan tergiring jahatnya ombak opini sehingga memicu pertikaian.

Kemunculan remotivi.com bisa menjadi sebuah wadah kritik untuk media pembela kepentingan kelompok tertentu. Namun, kita tidak bisa menjadikan portal tersebut untuk menjadi pahlawan saja. Harus ada kesadaran diri dari masing-masing individu untuk melakukan klarifikasi atas sebuah pemberitaan.

Mulai dengan menjadi pembaca cerdas adalah langkah awal memberangus media-media pembela kepentingan kelompok tersebut. Menjadi pembaca yang cerdas sejatinya sangat mudah. Yakni, dengan membiasakan diri melakukan klarifikasi atas sebuah pemberitaan dari berbagai sudut pandang. Dengan begitu, informasi yang ditangkap akan lengkap dan diri kita dapat dengan mudah mengambil sikap atas sebuah peristiwa.

Sebagai pembaca cerdas, jangan mudah percaya pada media yang tidak jelas dari mana sumbernya. Terlebih sumbernya hanya mencatut tanpa pengolahan secara mendalam. Pencatutan sembarangan menandakan bahwa berita dalam media tersebut tidak digarap oleh orang-orang kompeten. Percaya pada berita yang tidak jelas juntrungannya sama saja percaya pada orang fasik dan tidak melakukan tabayyun.

Setelah itu, menjadi pembagi berita yang objektif. Dengan begitu kita menjadi prajurit-prajurit yang berjuang untuk kebenaran informasi. Bila sebuah isu yang dimunculkan sebuah media dirasa tidak layak disebarkan maka jangan disebarkan. Terutama isu yang berkaitan dengan teori konspirasi. Karena, isu-isu semacam itu belum atau sulit ditentukan kebenaran informasinya. Perlu penelaahan lebih mendalam perihal isu-isu berbau konspirasi.

Kedua hal itu, saya rasa, hal mendasar dalam menyikapi berbagai berita sepihak dari media kepentingan. Dengan menerapkan kedua hal itu, setidaknya, sudah melindungi diri kita dari berita-berita berjenis giringan opini. Perlu rasanya kita menjadi seorang yang bijak dalam membaca berita dan membagikannya. Meski, terkadang informasi yang ada di dalamnya merupakan informasi baru. Kita harus terus melakukan klarifikasi atas pemberitaan dari media manapun.

Rabu, 12 Agustus 2015

Tontonan Anak Dan Persoalan Bangsa

Memperhatikan dinamika pertelevisian saat ini sungguh membuat pusing kepala. Ya, lihat saja tontonan televisi yang kerap menampilkan kemonotonan tema dan selalu melakukan repetisi format acara hanya untuk mengejar rating. Juga tengok perihal pemberitaan. Sudah jauh dari kesan pemberitaan berimbang, berbobot, dan berilmu.

Ada yang salah dengan dunia pertelevisian Indonesia. Beragam acara yang melanggar masih terpelihara dengan apik di stasiun televisi tanpa ada pemberhentian. Sebut saja beberapa serial televisi, Tukang Bubur Naik Haji, Ganteng-Ganteng Serigala, dan 7 Manusia Harimau yang dengan leluasa lenggak-lenggok di layar kaca. Padahal, dampak negatif sudah sangat nyata menghantui di depan mata.

Coba tengok anak-anak yang menjadikan tontonan seperti itu sebagai sarapan sehari-harinya. Ada gegar imajinasi dan salah kaprah pemahaman mengenai interaksi sosial. Ada yang berlomba-lomba berperilaku kehewan-hewanan dan ada pula yang berlomba mendapatkan "cinta" yang belum pantas mereka lakonkan. Sungguh sudah status siaga keadaan anak-anak saat ini.

Padahal, pada era 80 hingga 90-an televisi masih disesaki tontonan layak untuk anak. Sebut saja Keluarga Cemara, Unyil, Si Komo, Tralala-Trilili, dan acara menggambar Pak Tino Sidin. Melalui acara-acara tersebut, anak-anak dilatih sisi imajinasi, kreatifitas, sisi humanisme, dan perilaku kanak-kanak yang menyenangkan. Tak hanya itu, tontonan semacam itu menjadi tuntunan anak-anak memahami bagaimana seharusnya berperilaku, berinteraksi, dan nilai-nilai dalam masyarakat.

Jika dibandingkan dengan generasi masa kini, generasi 80 dan 90-an merupakan generasi anak-anak bahagia. Mereka merasakan bagaimana menjadi anak yang bertingkah-polah selayaknya anak-anak. Sekarang, kita sering menemukan anak-anak mudah sekali berujar "cinta" padahal belum memahami apa bentuk konsekuensi dan tanggung jawab ketika mengenal "cinta". Koridor tata nilai kita sudah rusak.

Kita dapat dengan mudah menyalahkan budaya asing yang telah mencengkramkan cakarnya di negeri kita tercinta. Tapi, bukan soal itu saja yang menjadi persoalan besarnya. Persoalan terbesarnya ialah kita membiarkan diri kita terbuai dengan dampak negatif yang terselip dari keindahan budaya asing. 

Harusnya, setiap kepala kita berpikir, apakah Indonesia ini memiliki budaya yang menjadi identitas bangsa? Saya bisa menjawab dengan lantang. Kita belum mempunyai identitas budaya. Karena, yang kita miliki ialah budaya daerah yang menjadi identitas. Dengan begitu, secara tak sadar kita sudah mengotak-ngotakkan diri kita menjadi banyak kotak berdasarkan latar budaya daerah masing-masing. Kita bersatu dalam negara Indonesia hanya karena disatukan oleh bahasa Indonesia yang kadang belum mampu dikuasai sepenuhnya oleh perindividu kita.

Apa yang kita lakukan? Kita hanya berkutat pada isu remeh, seperti isu agama, suku, dan politik, yang berpotensi memperuncing perpecahan. Dan, itulah yang disaksikan oleh anak-anak. Kesibukan kita membahas hal remeh menjadikan kita membiarkan anak-anak terbuai oleh tontonan tak layak dan tak berbuat apa-apa untuk mencegah anak-anak kita terhipnotis dengan beragam tontonan beracun tersebut.

Seharusnya, kita bersatu untuk anak-anak kita. Bersatu untuk memberikan sebuah tuntunan agar anak-anak mau dan mampu bersikap kritis atas segala suguhan yang ada di layar kaca. Dengan begitu, tanpa dipantau pun anak-anak akan membiasakan diri memborder diri mereka dari tontonan tidak layak. Ketika tontonan tak layak bagi anak-anak tidak lagi ditonton maka dengan sendirinya tontonan itu akan "terbungkus". 

Mulai dari diri kita untuk tidak mempersalahkan dan menghujat. Mulai untuk membenahi diri sendiri dan melihat segala hal dengan kacamata yang lebih luas. Dan, mulailah dengan bersatu menghentikan tontonan racun demi anak-anak kita.

Kamis, 26 Juni 2014

Silaturahim, Capres, dan Pemilu

Tahun ini,  2014, merupakan tahun politik.  Telah kita lalui pileg di bulan april dengan segala intrik dan peristiwanya. Tinggal menghitung hari,bangsa Indonesia akan memasuki pemilihan presiden (pilpres). Namun, perjalanan pemilihan umum (pemilu) tahun ini sungguh berpotensi meretakkan kesatuan bangsa Indonesia. Keretakan yang terjadi karena fanatisme berlebihan para pendukung partai ataupun capres.

Pada pileg kemarin, terlihat bagaimana masyarakat terbagi bukan berdasarkan keberagaman suku bangsanya, melainkan kepada partainya. Pada pileg kemarin pula terjadi kerusuhan yang lebih dahsyat dari kerusuhan di Poso ataupun kerusuhan saat sidang John Kei.  Kerusuhan yang terjadi pada pileg ialah kerusuhan mental. Ya, kerusuhan yang tidak terjadi secara bentrok fisik, namun bentrok kepentingan kelompok partai yang diusung.

Orang saling menyerang dengan biadabnya hanya demi membela partai yang belum tentu mampu mengapresiasi kinerja simpatisannya. Saling menjatuhkan, saling merasa benar. Padahal, kebenaran partai hanya kebenaran subjektif. Selain itu, media pun semakin terlihat belangnya. Tengok saja dua media televisi nasional, Metro TV dan TV One, yang dengan membabi buta membela partai pemilik dua media tersebut, Partai Nasdem (Surya Paloh) dan Partai Golkar (Abu Rizal Bakrie).

Media tak dapat dipercaya, masyarakat saling serang, dan kedengkian pun berkembang pesat. Sungguh suatu kerusuhan luar biasa. Padahal, pemilu diadakan untuk menentukkan pemimpin Indonesia ke depan, bukan sekedar ranah tawuran antar kepentingan.

Saya pribadi, tidak suka dengan atmosfir pemilu tahun ini. Pemilu tahun ini merupakan pemilu kedua yang saya ikuti. Meski demikian, setidaknya saya mengalami masa pemerintahan dari masa akhir orba hingga sekarang. Namun, baru kali ini saya merasakan pemilu yang begitu busuk sepanjang saya hidup. Kasar, intoleran, dan perang hujatan antar simpatisan partai. Perbuatan-perbuatan itu dilakukan dengan kesadaran penuh untuk memenangkan partai politik yang diusung. Sungguh memalukan.

Bila melihat keadaan saat ini, saya pribadi melihat bahwa bangsa ini lebih cocok bila sistem pemerintahannya kerajaan. Pasalnya, setiap tokoh politik tidak dilihat berdasarkan kinerja dan kredibilitasnya, melainkan popularitasnya saja. Setelah populer kemudian dipuja-puja sedemikian rupa selayaknya raja atau ratu. Padahal, belum tentu populeritas diimbangi dengan kualitas. Hal sederhana yang selalu alpa dalam otak masyarakat kita.

Bangsa ini belum sanggup berdemokrasi cerdas. Masih mudah dimobilisasi, masih mudah mengagung-agungkan orang lain, dan terlalu mudah tertipu. Tertipu dengan tampilan fisik, tertipu dengan harta, dan tertipu dengan bujuk rayuan.

Perlu disadari, bangsa ini tak akan besar selama prilaku berpolitik para politikus dan simpatisannya masih seperti ini.  Bangsa kita akan selalu terkerdilkan oleh kelakuan segelintir orang. Bila bicara realitas, kemiskinan di Indonesia bukan kemiskinan harta, melainkan kemiskinan mental. Kemiskinan yang perlu penanganan tepat. Bukan sekedar revolusi mental, yang terkesan masif, atau langkah kedisplinan saja. Namun, perlu penanaman kesadaran sebagai bangsa Indonesia, bukan bangsa yang terbagi atas agama, parpol, dan etnis semata. Indonesia bisa hebat bila tidak melulu mengedepankan kepentingan kelompok semata. Indonesia bisa hebat bila seluruh rakyat Indonesia sadar bahwa Indonesia bukan sekedar kata dan negara, melainkan darah, daging, dan keringat tiap warga negaranya. Jangan mau dipecah karena partai politik, jangan mau dipecah karena perbedaan agama, dan jangan mau dipecah karena imingan harta. Indonesia satu, Indonesia bangkit, dan Indonesia hebat.

Rabu, 19 Februari 2014

Imajinasi Berujung Inspirasi



Bicara tentang komik pastinya orang awam akan mengasosiasikannya pada bacaan untuk anak-anak. Apalagi, sebagian besar komik-komik—khususnya komik Jepang atau manga—itu kemudian diangkat ke dalam versi kartun animasi. Sebut saja seri Naruto, Bleach, One Piece, Dragonball, Doraemon dan lain sebagainya.

Komik-komik tersebut bila kita sadari memiliki tema-tema yang setidaknya memberikan pembelajaran bagi semua kalangan—tidak hanya anak-anak. Saya ambil contoh komik Captain Tsubasa karya Takahashi Yoichi. Komik yang lebih terkenal versi animasinya di Indonesia itu diciptakan oleh Takahashi pada tahun 1981. Pada masa itu, kekuatan sepak bola Jepang belum seperti sekarang yang mana pemainnya sudah merambah hampir di seluruh benua di dunia. Namun, lihat saat ini, dunia sudah mengakui Jepang di dunia sepakbola. Di Inggris, sebut saja ada Shinji Kagawa, di Italy ada Keisuke Honda, dan jangan lupakan pemain-pemain veteran seperti Hidetoshi Nakata yang dulu memperkuat Parma dan Fiorentina atau Shunsuke Nakamura yang pernah memperkuat Reggina, Celtic, dan Espanyol. Komik Captain Tsubasa sudah menginspirasi anak-anak Jepang untuk bermimpi besar dan memotivasi federasi sepakbola Jepang untuk memajukan sepakbola mereka.

Captain Tsubasa yang begitu menginspirasi masyarakat Jepang di dunia sepakbola itu mengisahkan seorang anak bernama Tsubasa Ozora yang memiliki impian menjadi seorang pemain sepakbola dunia. Ia memulai karir sepakbolanya di sebuah klub SD bernama Nankatsu FC. Prinsip bersepakbola Tusabasa sangat idelogis—meski dikemas dengan sederhana—yakni bola adalah teman. Dari prinsipnya itu, Tsubasa memelihara mimpinya. Berbagai kompetisi dimenanginya. Ia pun pernah kalah, namun tidak pernah patah semangat untuk mengejar mimpinya. Hingga, juara dunia bersama Jerman, Tsubasa dapatkan dengan teman-temannya. Impian terbesarnya bermain di kancah dunia pun terwujud. Dari Jepang, Tsubasa pergi ke Brazil dan meniti karir profesionalnya dan akhirnya ia dibeli klub Barcelona.

Menurut saya, Takahashi Yoichi sungguh brilian membuat kisah inspiratif Tsubasa. Ia tidak hanya mencoba menyuguhkan cerita yang menarik buat anak-anak, namun juga inspiratif buat semua kalangan. Buah sumbangsi sederhana Yoichi tersebut akhirnya menyulut semangat masyarakat Jepang yang memiliki impian seperti halnya Tsubasa kecil. Secara tak langsung, Yoichi mengatakan “Impian dapat terwujud bila meyakini dan kerja keras untuk impian tersebut” melalui komik Captain Tsubasa.

Bila di sektor olahraga ada Captain Tsubasa, di sektor teknologi ada Doraemon. Komik Doraemon muncul pertama kali pada tahun 1969 dari tangan dingin Fujiko Fujio. Doraemon merupakan komik yang mengisahkan seorang anak bernama Nobita yang memiliki sahabat robot kucing dari abad 22 bernama Doraemon. Pada masa Fujiko membuat Doraemon, adanya robot hanya mimpi. Namun, melalui karya Fujiko Fujio tersebut banyak anak-anak di Jepang memiliki impian membuat robot seperti Doraemon. Bila melihat masa kini, sudah muncul ASIMO—robot yang diproduksi oleh pabrikan otomotif Honda. Selain ASIMO muncul pula beragam robot lainnya buah tangan ilmuwan-ilmuwan Jepang yang mungkin dulunya menonton Doraemon. Meski masih dalam pengembangan, namun Jepang tidak harus ada di abad ke 22 untuk mempunyai sebuah robot. Mimpi yang diilustrasikan oleh Fujiko Fujio pada tahun 1969, setidaknya, sudah sedikit terwujud.

Doraemon memanglah inspirasi banyak orang—baik dari Jepang maupun di pelosok dunia. Namun, Jepang juga mempunyai robot lainnya, yakni Astro Boy. Komik Astro Boy atau di Jepang dikenal dengan Tetsuwan Atom diciptakan oleh Osamu Tezuka pada tahun 1952. Cerita dalam komik Astro Boy mengisahkan tentang seorang ilmuwan bernama Doctor Tenma membuat sebuah robot yang menyerupai manusia bernama Atom. Ia menciptakan Atom untuk menggantikan anaknya, Tobio, yang telah meninggal. Berbeda dengan Doraemon, Atom merupakan robot android atau robot yang menyerupai manusia. Selain itu, Atom juga dilengkapi persenjataan canggih seperti sinar laser, roket untuk terbang hingga luar angkasa, dan kemampuan lainnya yang memungkinkannya melindungi manusia. Untuk kisaran tahun 1952-an, mungkin kisah Astro Boy ini merupakan kisah yang mustahil diwujudkan. Namun, imajinasi yang ditanamkan oleh Osamu berbuah hasil pada masa kini, yakni munculnya robot yang akan disiapkan oleh Jepang untuk menjelajah angkasa bernama Kirobo.

Pencipta Kirobo, Tomotaka Takahashi, mengatakan bahwa ia menciptakan Kirobo karena terinspirasi oleh Astro Boy (http://www.merdeka.com/teknologi/robot-astro-boy-buatan-jepang-akan-dikirim-ke-luar-angkasa.html). Mungkin saja, ketika Tomotaka masih kecil ia membaca atau menonton animasi dari Astro Boy karya Osamu dan ia bermimpi dapat membuat robot seperti halnya Atom. Hal itu membuktikan bahwa imajinasi yang dikreasikan oleh Osamu sudah mempengaruhi anak-anak di Jepang masa itu, setidaknya Tomotaka, untuk bermimpi membuat robot. Itu merupakan buah dari imajinasi yang kemudian menjadi inspirasi.

Beberapa contoh dalam tulisan ini bukan bermaksud membesar-besarkan negara Jepang. Namun, saya mencoba memberikan pandangan bahwa sebuah imajinasi jangan diremehkan. Bangsa kita, Indonesia, kadang suka menyepelekan orang-orang yang memiliki imajinasi “ajaib”. Anak-anak dipaksakan meninggalkan imajinasi mereka dengan suguhan hiburan yang melulu menontonkan tindak-tanduk tak layak, seperti konflik, pembodohan dari joged berujung uang, dan lain sebagainya. Sungguh, menurut saya, anak-anak Indonesia masa kini hanya menjadi zombi-zombi dari industri kreatif yang ada di negeri ini.

Tambah mirisnya, anak-anak sekarang lebih diprogram untuk mengejar nilai bukan memahami pelajaran. Ujian Nasional yang diselenggarakan oleh pemerintah menjadi sistem yang memenjarakan imajinasi anak-anak masa kini. Mereka dibuat lupa dari dunia imajinasi dan hanya mengejar nilai dengan belajar yang dipaksakan. Anak-anak berlomba-lomba mengejar nilai hingga orang tua mereka mendaftarkan mereka pada bimbingan belajar. Memang baik untuk seorang anak menjadi pintar. Akan tetapi, akan lebih baik jika anak dididik untuk menjadi kreatif. Sistem pendidikan yang hanya mengacu pada tatanan nilai hanya menjadikan anak-anak hanya melihat segala sesuatu berdasarkan angka bukan esensi semata.

Indonesia harusnya memelihara imajinasi anak-anak ke taraf yang lebih tinggi. Biarkan seorang anak mengimajinasikan dirinya menjadi apapun itu. Karena, visi paling jelas ialah visi seorang anak kecil, bukan orang dewasa yang visinya sudah terkontaminasi. Menjaga visi anak-anak dengan mengembangkan imajinasinya sama halnya dengan memajukan bangsa ini sepuluh langkah ke depan.

Rabu, 05 Februari 2014

Pendidikan Masalah Serius Bangsa Ini



Indonesia memasuki tahun politiknya kembali. Tahun 2014 menjadi spesial bagi bangsa ini karena di tahun ini bangsa Indonesia akan memilih siapa yang akan memimpin mereka sampai setidaknya lima tahun ke depan. Banyak nama berkeliaran di media massa maupun media elektronik yang sudah mengumandangkan niatannya menjadi pemimpin bangsa ini. Namun, ada satu persoalan yang harus dipahami bangsa ini, yakni kelayakan dari mereka-mereka yang berniat untuk mempimpin bangsa ini.

Hingga sampai saat ini, kita sudah pernah memiliki presiden hingga enam presiden. Keenam presiden tersebut memiliki masa jabatan yang berbeda-beda satu dengan yang lain—meski secara di atas kertas masa bakti presiden dibatasi lima tahun dan dua periode saja. Bangsa ini mengenal Ir. Soekarno sebagai presiden pertama Indonesia dan dapat dikatakan sebagai salah satu founding father Indonesia. Lalu, kita juga mengenal Jendral Besar TNI Purn. H. Muhammad Soeharto yang juga disebut sebagai Bapak Pembangunan. Presiden ketiga ialah Prof. DR. Ing. H. Bacharuddin Jusuf Habibie dan dikenal juga sebagai seorang teknokrat Indonesia kelas dunia serta presiden dengan masa bakti paling singkat. Tak lupa dengan Kiai Haji Abdurrahman Wahid—presiden keempat—yang cukup dikenal dengan komentar spontan dan saya memberinya nama Bapak Pluralis Indonesia—karena ia memberikan ruang bagi para etnis tionghoa untuk mengapresiasikan diri mereka sebagai bagian dari keberagaman etnis di Indonesia. Presiden kelima Indonesia, Dyah Permata Megawati Setyawati Soekarnoputri yang merupakan wakil persiden dan presiden perempuan pertama Indonesia. Dan, terakhir ialah Jendral TNI Purn. Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono yang merupakan presiden Indonesia hingga tulisan ini masih dibuat.

Keenam presiden Indonesia tersebut memiliki masa, polemik dan dinamikanya sendiri saat mereka memimpin. Saya tidak akan mempersoalkan hal-hal yang terjadi pada masa mereka ataupun dinamika bangsa saat mereka memimpin. Membahas persoalan bangsa pada saat mereka memimpin itu hanya akan membangkitkan romansa-romansa masa lalu dan hanya menjebak kita dalam sebuah ruang kenangan semu. Memang benar apa yang dikatakan oleh Soekarno, “Jangan Sampai Melupakan Sejarah (Jas Merah)”. Namun, perlu juga bangsa ini menatap masa depan dengan mata terbuka dan tidak terjebak dalam romansa-romansa masa lalu.

Untuk tahun ini, saya berharap sekali bangsa ini memiliki seorang pemimpin yang berkarakter problem solving. Pasalnya, bangsa ini sudah dikerumuni banyak masalah dan tidak sepenuhnya tuntas. Bahkan, banyak masalah yang tidak tahu rimbanya dan tahu-tahu muncul kembali pada suatu momen tertentu ketika negara ini sedang dirundung masalah lainnya. Saya ambil contoh mengenai pendidikan. Bangsa ini memiliki generasi muda berbakat yang tak terhitung jumlahnya. Namun, tidak semuanya mendapatkan kesempatan yang sama untuk menikmati bangku pendidikan. Pun bagi mereka yang sudah mengeyam bangku pendidikan, masih harus menghadapi ujian-ujian formalitas penghancur mimipi, seperti Ujian Nasional (UN) dan bahkan ada di beberapa sekolah mereka harus dihadapkan pada ujian penempatan minat pembelajaran atau pembagian kelas berdasarkan tiga pengelompokan studi—IPA, IPS dan Bahasa. Saya melihat itu sebagai suatu pembunuhan massal bagi generasi penerus. Karena, anak-anak sudah dibedakan dan dikotak-kotakkan berdasarkan sistem bukan berdasarkan minat anak itu sendiri.

Ketika generasi bangsa sudah “dimatikan” semacam itu maka rusaklah bangsanya. Pendidikan hanya dinilai dari angka dan jumlah, bukan dari kualitas pendidikannya. Anak-anak diajarkan untuk “culas” keadaan. Hal itu terlihat dari tidak semua anak-anak yang bersekolah mampu memahami pelajaran yang ia pelajari dan mengambil jalan pintas dengan menyontek hanya untuk mengejar suatu pengakuan berdasarkan angka dan standar. Terbiasa dengan hal itu, nantinya anak-anak itu hanya akan memandang bangsa ini dengan suatu pandangan kuantitas semata.

Penerus bangsa dicetak bak robot, bukan diperlakukan sebagai seorang manusia. Nilai-nilai hati nurani tidak ditanamkan dalam benak dan hati anak-anak tersebut. Jangan salahkan jika suatu hari nanti di antara mereka ada yang terjerat kasus korupsi, karena itu semua salah bangsa ini bersama. Pemerintah membuat sistem pendidikan yang sedemikian rupa hanya memandang pada kuantitas semata, para penyedia hiburan menyediakan hiburan semu dan hanya membodohi penontonnya dengan iming-iming uang, pengusaha-pengusaha hanya mencari keuntungan dan tidak memberikan kesempatan yang sama bagi semua bidang keahlian, para guru yang sebagian besar hanya menjalankan “pekerjaannya” dan bukan bersikap sebagai seorang pendidik, para intelektual yang hanya membongkar-bongkar keborokan bangsa ini namun bukan mencari sistematika solusinya, hingga orang tua yang sudah malas mengurus buah hatinya dengan tangan dan keringatnya sendiri. Masih banyak lainnya yang tidak cukup untuk saya beberkan di dalam tulisan ini.

Masalah-masalah tersebut baru satu dari sekian banyak masalah yang mengepung bangsa ini. Namun, bagi saya, pendidikan merupakan masalah yang paling krusial. Pasalnya, pendidikan berhubungan langsung dengan sistem penyiapan generasi penerus bangsa. Saat ini, menurut saya, dunia pendidikan memasuki fase kemunduran dan menjadi sebuah pendidikan praktis serta instan. Anak-anak disibukkan belajar hingga tidak memiliki waktu untuk sekedar berimajinasi. Anak-anak disetel dengan rutinitas kaku dan tidak menyenangkan. Pagi mereka sekolah hingga sore dan terkadang sebagian besar dari mereka yang bersekolah tidak lantas pulang ke rumah. Sore hari mereka semua dihadapkan kewajiban untuk mengikuti les yang sudah dirancangkan oleh orang tua mereka. Kapan mereka bermain dan membangun imajinasi? Tidak ada waktunya. Pun ada itu ialah malam hari, waktu yang seharusnya mereka gunakan untuk beristirahat.

Terkait masalah pendidikan dengan pemimpin Indonesia selanjutnya ialah pemimpin Indonesia selanjutnya haruslah seorang yang memiliki visi berbasis pendidikan dan mampu mencari solusi dari masalah-masalah yang merundung Indonesia—khususnya masalah pendidikan. Pemimpin Indonesia haruslah seorang yang mempunyai impian dan nyali untuk mengubah bangsa ini menjadi bangsa yang lebih mempunyai harga diri dan menjadi bangsa yang visioner. Bangsa ini sudah tidak perlu seorang pemimpin yang hanya memikirkan masalah bangsa, namun harus berani untuk menuntaskannya—minimal satu masalah pertahunnya pada saat ia memimpin Indonesia.

Akhir kata dalam artikel ini, saya kira bangsa ini sudah jenuh dengan pemimpin bermodalkan uang, pemimpin bermodalkan pengetahuan militer, pemimpin yang bermodalkan popularitas, dan pemimpin yang bermodalkan basis agama. Sekarang, Indonesia membutuhkan seorang pemimpin muda, berani dan bernyali, visioner, dan mau turun untuk mengubah sistem pendidikan yang sudah korup. Ketika sistem pendidikan Indonesia mampu diubah, maka efek domino sistem penelur bangsa pun akan berubah. Saya sesungguhnya berharap, bila nanti terpilih pemimpin baru Indonesia ia harus menciptakan pola pendidikan berbasis budaya yang dimiliki bangsa ini dan pola pendidikan yang menumbuhkan sikap-sikap kejujuran dan sportifitas.

Rabu, 01 Januari 2014

Pintar Merasa, Bukan Merasa Pintar

Terkadang, manusia lebih bisa merasa pintar daripada pintar merasa. Hal itu sering saya temukan dalam beragam masalah yang ada di sekitar saya. Berpendapat, tapi tidak memahami betul apa yang sekiranya harus diutarakan. Mengkritisi, tapi tidak tahu dasar kritiknya akan sesuatu hal. Sungguh, hal itu sama saja mempermalukan diri sendiri.

Sebenarnya, sah-sah saja untuk berpendapat akan sesuatu hal. Namun, berlindung pada orang lain atau figur tertentu atas pendapatnya yang melempar bola panas sama saja pengecut. Bila tidak puas dengan suatu sistem, ya hadapi sistem itu dan beri satu perubahan yang nyata. Bila tidak suka pada seseorang, hadapi jangan bergumam di belakang dan mencari simpatik opini publik. Kalau tidak berani, ya jangan melemparkan bola api.

Kalau memang ingin mengubah suatu sistem yang dirasa sudah tidak berkenan, cari tahu dulu sejarahnya baru buat suatu mekanisme yang sesuai untuk melakukan perubahan. Jangan sekedar mengeritik, melempar kesalahan lalu bersembunyi. Karena, dengan mempelajari sejarah sistem yang berlaku akan memberikan satu pemahaman mengapa sistem itu berlaku cukup lama. Jangan karena memang tidak suka atas konten-konten tertentu langsung berpendapat, mengeritik, membiaskan sistem tersebut dengan hal-hal yang buruk di mata publik. Melakukan pembenaran yang picik.

Ir. Soekarno pernah berkata, "Jangan Sampai Melupakan Sejarah". Maksud dari perkataan itu bukan sekedar mengingat semata, terjerembak dalam romansa-romansa masa lalu, namun juga untuk dipelajari kesalahan-kesalahan dan kekeliruan atas suatu hal. Sejenak menoleh ke belakang dan memproses maknanya kemudian lakukan gerakan untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan itu. Lihat prosesnya dahulu jangan langsung menyalahkan dan mengatakan hal itu semua keliru. Pelajari dulu, pahami dulu, dan cermati dulu. Hal itu perlu agar ketika melakukan perubahan tidak keliru.

Pada dasarnya segala sesuatu dibuat ada maksud dan tujuannya. Perlu dimaknai dulu sebuah sistem dibuat maksud dan tujuannya. Mungkin saja, melencengnya penerapan sistem tersebut bukan dikarenakan memang sistemnya sudah bobrok melainkan oknum yang melaksanakannya sudah tidak memahami sistem tersebut dan menyalahartikan dengan penalarannya sendiri. Perlu digarisbawahi hal tersebut. Suatu sistem yang baik akan menjadi buruk karena oknum tertentu menyelewengkannya. 

Terkadang juga, ketika kita sedang ada di dalam sistem kita tidak berani untuk berbuat dan cenderung masa bodoh dengan melencengnya sistem tersebut. Tapi, juga jangan jadi pahlawan kesiangan yang dengan gegap gempita berupaya merombak kekeliruan itu dengan biadab. Seharusnya, bila sudah berada di luar sistem tersebut, kita lebih bisa memaknainya secara objektif dan jangan berpegang pada subjektifitas semu. Dan, semestinya, perubahan atas sistem tersebut jangan ketika kita di luar sistem, melainkan ada di dalam sistemnya.

Berupaya mengorkesi sistem di luar sistem dengan pandangan subjektifitas adalah kebodohan. Pasalnya, koreksinya hanya akan berbuah ketidaksesuaian dan ketidakadilan bagi pelaku sistemnya. Bagi pelaku sistemnya tidak akan mampu berpikir logis dan berimbang karena sudah terdapat suatu opini publik. Hal itu sama saja membunuh upaya berkembangnya karakter dari si pelaku sistem. Tindakan macam itu ialah tindakan pengecut dan merusak dinamika dalam sistem tersebut.

Jangan sampai kita mengutuk oknum perusak sistem hingga menjadi bobrok dan melenceng, lalu malah kita yang menjadi sosok yang kita benci. Kebencian hanya melahirkan kebencian. Suatu siklus lingkaran setan, tiada berujung. Seharusnya, menghadapi kebencian dengan kelapangan, agar kebencian itu pun dapat memudar dengan sendirinya. Selama menghadapi suatu kebencian dengan kebencian hanya akan mengafirmasi diri kita menjadi sosok yang kita benci.

Selasa, 24 September 2013

Pulau Pari, Swastanisasi Pulau-Pulau Di Kepulauan Seribu



Indonesia memiliki banyak potensi wisata alam yang dapat dimanfaatkan. Sebut saja kepulauan seribu. Di gugusan pulau yang ada di utara Jakarta itu memiliki beberapa objek wisata dengan keindahan alamnya, salah satunya ialah Pulau Pari. Nama Pari berasal dari bentuk pulau yang menyerupai ikan pari. Pulau ini memiliki penduduk lokal, namun ada kabar yang sedikit miris di telingaku. Kabar bahwa penduduk lokal di pulau Pari tidak memiliki tanahnya sendiri.

Ya, pulau Pari merupakan kepunyaan swasta, begitulah yang ku dengar dari penduduk sekitar sini. Ketika “pemilik” pulau itu suatu saat nanti hendak membangun pulau Pari demi kebutuhannya maka warga lokal pulau Pari harus bersiap angkat kaki. Entah kabar itu benar atau tidak. Hanya saja, saat mendengar hal itu sedikit iba hati saya pada para penduduk pulau itu.

Di pulau Pari, penduduk lokalnya tidak hanya berasal dari satu suku saja. Hal itu saya simpulkan ketika mendengar logat dan dialek yang digunakan oleh para penduduk lokal. Ada yang bersuku sunda dan ada yang bersuku Jawa. Meski demikian, warga pulau itu hanya mengatakan diri mereka orang pulau. Identitas suku mereka seakan dikesampingkan. Kondisi yang sekiranya sesuai dengan jargon K Hadjar Dewantara, Bhinneka Tunggal Ika.

Penduduk di sini pun rata-rata menyewakan rumah tinggal mereka sebagai tempat persinggahan para wisatawan. Saat wisatawan datang menginap, si empunya rumah akan menetap sementara di rumah saudaranya di sisi lainnya pulau Pari. Meski sederhana, rumah yang saya dan teman-teman saya tinggali selama di pulau itu cukup nyaman. Terdapatnya Air Conditioning (AC) di rumah singgah kami salah satu faktornya. Selain itu, di pulau ini terdapat pantai yang bernama Pasir Perawan. Dinamakan demikian, menurut pemandu wisata kami, karena pasir di pantai ini masih segar seperti belum tersentuh. Namun, nyatanya yang ada di lapangan pantai ini sudah cukup terkontaminasi sampah. Ya, sudah pasti sampah yang berasal dari para pelancong-pelancong yang datang ke pantai tersebut.

Selain objek wisata Pantai Pasir Perawan, di Pulau Pari juga terdapat wahana rekreasi lainnya bagi para pelancong. Di antaranya, Banana Boat, Sofa Boat, Cano, Camping Stay, Bersepeda, hingga Snorkling. Dengan wahana-wahana rekreasi tersebut, para wisatawan termanjakan dan menjadi betah selama berlibur di Pulau Pari. Salah satu tujuan tour di Pulau Pari ialah Pulau Tikus. Sebuah kepulauan kecil yang terdapat di gugusan kepulauan Seribu. Pulau tersebut merupakan pulau persinggahan untuk beristirahat bagi para wisatawan yang sudah puas snorkling atau penyelaman dangkal. Hanya saja, kondisi pulau tersebut lebih parah dari Pantai Pasir Perawan. Hal itu dikarenakan banyaknya sampah yang menggunung di sisi pantai pulau tersebut. Sampah-sampah tersebut sangat beragam, mulai dari sisa bungkus makanan hingga botol-botol kaca bekas minuman berenergi. Sungguh kotor pantai tersebut. Bila saja lebih diperhatikan kebersihannya, mungkin Pulau Tikus akan menjadi tempat persinggahan wisatawan sehabis penyelaman yang cukup menyenangkan.

Pantai Pasir Perawan


Kepulauan Swasta

Selama liburan saya di Pulau Pari, banyak hal menarik yang saya terima. Salah satunya ialah informasi bahwa kepulauan seribu kini hampir delapan puluh persennya dimiliki swasta. Informasi itu saya dapat dari salah satu instruktur selam yang kami sewa. Saya tidak menanyakan siapa namanya, hanya saja ia mengajak bicara kami yang tidak menyelam.

Awal Pembicaraan kami ialah mengenai perangkat selam. Ia bercerita bila perlengkapan selam dalam atau diving bisa mencapai tiga juta rupiah seperangkatnya. Ia pun bercerita mengenai spesifikasi baju selam, mulai fungsi hingga ketebalannya. Dari pembicaraan mengenai baju selam, ia pun membicarakan mengenai kehidupan pribadinya. Ia menceritakan tempat berkuliahnya dulu. Ia ternyata lulusan Universitas Negeri Jakarta, begitu pengakuannya. Ia pun bercerita tentang adiknya yang mengambil jurusan Bahasa Inggris di Uhamka. Lalu, sampailah pembicaraan kami ke topik yang menarik, yakni kehidupan warga kepulauan seribu.

Dari pembicaraan dengan instruktur selam tersebut, saya mengetahui bahwa kepulauan seribu hampir delapan puluh persennya milik swasta. Pulau yang benar-benar milik pemerintah kota Jakarta hanya dua puluh persen. Ada beberapa perasaan dan pertanyaan yang saya rasakan, pertama percaya tidak percaya. Dalam benak saya, apakah benar demikian? Kalau begitu, bagaimana nasib warga lokal? Pertanyaan-pertanyaan semacam itu mengganggu pikiran saya. Kedua, bila benar itu semua hampir dimiliki pihak swasta, kenapa pemerintah Jakarta tidak ambil tindakan? Apa memang pemerintah Jakarta tidak mampu mengurusnya? Saya rasa, tidak sepenuhnya milik swasta. Namun, instruktur selam tersebut menyatakan ada beberapa nama terkenal yang memiliki kepulauan seribu. Di antaranya ialah Tomy Winata, keluarga Cendana, Abu Rizal Bakri, dan keluarga Megawati Soekarno Putri.

Kesimpulan yang bisa saya dapat dari pembicaraan dengan instruktur selam tersebut ialah sebagian besar pulau di kepulauan seribu bukan milik warganya, melainkan milik pihak swasta yang sewaktu-waktu bisa mengusir warga lokal dari pulau tersebut, salah satunya Pulau Pari. Adapun, cerita instruktur selam tersebut juga menyentil rasa ingin tahu saya untuk mengetahui lebih lanjut tentang kehidupan warga lokal, khususnya warga Pulau Pari. Namun, waktu yang saya punya tidaklah banyak. Bila suatu saat nanti saya sudah memiliki uang yang cukup, saya akan kembali ke pulau ini untuk mengorek lebih banyak cerita.