Tampilkan postingan dengan label Filosofi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Filosofi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 19 Februari 2014

Imajinasi Berujung Inspirasi



Bicara tentang komik pastinya orang awam akan mengasosiasikannya pada bacaan untuk anak-anak. Apalagi, sebagian besar komik-komik—khususnya komik Jepang atau manga—itu kemudian diangkat ke dalam versi kartun animasi. Sebut saja seri Naruto, Bleach, One Piece, Dragonball, Doraemon dan lain sebagainya.

Komik-komik tersebut bila kita sadari memiliki tema-tema yang setidaknya memberikan pembelajaran bagi semua kalangan—tidak hanya anak-anak. Saya ambil contoh komik Captain Tsubasa karya Takahashi Yoichi. Komik yang lebih terkenal versi animasinya di Indonesia itu diciptakan oleh Takahashi pada tahun 1981. Pada masa itu, kekuatan sepak bola Jepang belum seperti sekarang yang mana pemainnya sudah merambah hampir di seluruh benua di dunia. Namun, lihat saat ini, dunia sudah mengakui Jepang di dunia sepakbola. Di Inggris, sebut saja ada Shinji Kagawa, di Italy ada Keisuke Honda, dan jangan lupakan pemain-pemain veteran seperti Hidetoshi Nakata yang dulu memperkuat Parma dan Fiorentina atau Shunsuke Nakamura yang pernah memperkuat Reggina, Celtic, dan Espanyol. Komik Captain Tsubasa sudah menginspirasi anak-anak Jepang untuk bermimpi besar dan memotivasi federasi sepakbola Jepang untuk memajukan sepakbola mereka.

Captain Tsubasa yang begitu menginspirasi masyarakat Jepang di dunia sepakbola itu mengisahkan seorang anak bernama Tsubasa Ozora yang memiliki impian menjadi seorang pemain sepakbola dunia. Ia memulai karir sepakbolanya di sebuah klub SD bernama Nankatsu FC. Prinsip bersepakbola Tusabasa sangat idelogis—meski dikemas dengan sederhana—yakni bola adalah teman. Dari prinsipnya itu, Tsubasa memelihara mimpinya. Berbagai kompetisi dimenanginya. Ia pun pernah kalah, namun tidak pernah patah semangat untuk mengejar mimpinya. Hingga, juara dunia bersama Jerman, Tsubasa dapatkan dengan teman-temannya. Impian terbesarnya bermain di kancah dunia pun terwujud. Dari Jepang, Tsubasa pergi ke Brazil dan meniti karir profesionalnya dan akhirnya ia dibeli klub Barcelona.

Menurut saya, Takahashi Yoichi sungguh brilian membuat kisah inspiratif Tsubasa. Ia tidak hanya mencoba menyuguhkan cerita yang menarik buat anak-anak, namun juga inspiratif buat semua kalangan. Buah sumbangsi sederhana Yoichi tersebut akhirnya menyulut semangat masyarakat Jepang yang memiliki impian seperti halnya Tsubasa kecil. Secara tak langsung, Yoichi mengatakan “Impian dapat terwujud bila meyakini dan kerja keras untuk impian tersebut” melalui komik Captain Tsubasa.

Bila di sektor olahraga ada Captain Tsubasa, di sektor teknologi ada Doraemon. Komik Doraemon muncul pertama kali pada tahun 1969 dari tangan dingin Fujiko Fujio. Doraemon merupakan komik yang mengisahkan seorang anak bernama Nobita yang memiliki sahabat robot kucing dari abad 22 bernama Doraemon. Pada masa Fujiko membuat Doraemon, adanya robot hanya mimpi. Namun, melalui karya Fujiko Fujio tersebut banyak anak-anak di Jepang memiliki impian membuat robot seperti Doraemon. Bila melihat masa kini, sudah muncul ASIMO—robot yang diproduksi oleh pabrikan otomotif Honda. Selain ASIMO muncul pula beragam robot lainnya buah tangan ilmuwan-ilmuwan Jepang yang mungkin dulunya menonton Doraemon. Meski masih dalam pengembangan, namun Jepang tidak harus ada di abad ke 22 untuk mempunyai sebuah robot. Mimpi yang diilustrasikan oleh Fujiko Fujio pada tahun 1969, setidaknya, sudah sedikit terwujud.

Doraemon memanglah inspirasi banyak orang—baik dari Jepang maupun di pelosok dunia. Namun, Jepang juga mempunyai robot lainnya, yakni Astro Boy. Komik Astro Boy atau di Jepang dikenal dengan Tetsuwan Atom diciptakan oleh Osamu Tezuka pada tahun 1952. Cerita dalam komik Astro Boy mengisahkan tentang seorang ilmuwan bernama Doctor Tenma membuat sebuah robot yang menyerupai manusia bernama Atom. Ia menciptakan Atom untuk menggantikan anaknya, Tobio, yang telah meninggal. Berbeda dengan Doraemon, Atom merupakan robot android atau robot yang menyerupai manusia. Selain itu, Atom juga dilengkapi persenjataan canggih seperti sinar laser, roket untuk terbang hingga luar angkasa, dan kemampuan lainnya yang memungkinkannya melindungi manusia. Untuk kisaran tahun 1952-an, mungkin kisah Astro Boy ini merupakan kisah yang mustahil diwujudkan. Namun, imajinasi yang ditanamkan oleh Osamu berbuah hasil pada masa kini, yakni munculnya robot yang akan disiapkan oleh Jepang untuk menjelajah angkasa bernama Kirobo.

Pencipta Kirobo, Tomotaka Takahashi, mengatakan bahwa ia menciptakan Kirobo karena terinspirasi oleh Astro Boy (http://www.merdeka.com/teknologi/robot-astro-boy-buatan-jepang-akan-dikirim-ke-luar-angkasa.html). Mungkin saja, ketika Tomotaka masih kecil ia membaca atau menonton animasi dari Astro Boy karya Osamu dan ia bermimpi dapat membuat robot seperti halnya Atom. Hal itu membuktikan bahwa imajinasi yang dikreasikan oleh Osamu sudah mempengaruhi anak-anak di Jepang masa itu, setidaknya Tomotaka, untuk bermimpi membuat robot. Itu merupakan buah dari imajinasi yang kemudian menjadi inspirasi.

Beberapa contoh dalam tulisan ini bukan bermaksud membesar-besarkan negara Jepang. Namun, saya mencoba memberikan pandangan bahwa sebuah imajinasi jangan diremehkan. Bangsa kita, Indonesia, kadang suka menyepelekan orang-orang yang memiliki imajinasi “ajaib”. Anak-anak dipaksakan meninggalkan imajinasi mereka dengan suguhan hiburan yang melulu menontonkan tindak-tanduk tak layak, seperti konflik, pembodohan dari joged berujung uang, dan lain sebagainya. Sungguh, menurut saya, anak-anak Indonesia masa kini hanya menjadi zombi-zombi dari industri kreatif yang ada di negeri ini.

Tambah mirisnya, anak-anak sekarang lebih diprogram untuk mengejar nilai bukan memahami pelajaran. Ujian Nasional yang diselenggarakan oleh pemerintah menjadi sistem yang memenjarakan imajinasi anak-anak masa kini. Mereka dibuat lupa dari dunia imajinasi dan hanya mengejar nilai dengan belajar yang dipaksakan. Anak-anak berlomba-lomba mengejar nilai hingga orang tua mereka mendaftarkan mereka pada bimbingan belajar. Memang baik untuk seorang anak menjadi pintar. Akan tetapi, akan lebih baik jika anak dididik untuk menjadi kreatif. Sistem pendidikan yang hanya mengacu pada tatanan nilai hanya menjadikan anak-anak hanya melihat segala sesuatu berdasarkan angka bukan esensi semata.

Indonesia harusnya memelihara imajinasi anak-anak ke taraf yang lebih tinggi. Biarkan seorang anak mengimajinasikan dirinya menjadi apapun itu. Karena, visi paling jelas ialah visi seorang anak kecil, bukan orang dewasa yang visinya sudah terkontaminasi. Menjaga visi anak-anak dengan mengembangkan imajinasinya sama halnya dengan memajukan bangsa ini sepuluh langkah ke depan.

Rabu, 01 Januari 2014

Pintar Merasa, Bukan Merasa Pintar

Terkadang, manusia lebih bisa merasa pintar daripada pintar merasa. Hal itu sering saya temukan dalam beragam masalah yang ada di sekitar saya. Berpendapat, tapi tidak memahami betul apa yang sekiranya harus diutarakan. Mengkritisi, tapi tidak tahu dasar kritiknya akan sesuatu hal. Sungguh, hal itu sama saja mempermalukan diri sendiri.

Sebenarnya, sah-sah saja untuk berpendapat akan sesuatu hal. Namun, berlindung pada orang lain atau figur tertentu atas pendapatnya yang melempar bola panas sama saja pengecut. Bila tidak puas dengan suatu sistem, ya hadapi sistem itu dan beri satu perubahan yang nyata. Bila tidak suka pada seseorang, hadapi jangan bergumam di belakang dan mencari simpatik opini publik. Kalau tidak berani, ya jangan melemparkan bola api.

Kalau memang ingin mengubah suatu sistem yang dirasa sudah tidak berkenan, cari tahu dulu sejarahnya baru buat suatu mekanisme yang sesuai untuk melakukan perubahan. Jangan sekedar mengeritik, melempar kesalahan lalu bersembunyi. Karena, dengan mempelajari sejarah sistem yang berlaku akan memberikan satu pemahaman mengapa sistem itu berlaku cukup lama. Jangan karena memang tidak suka atas konten-konten tertentu langsung berpendapat, mengeritik, membiaskan sistem tersebut dengan hal-hal yang buruk di mata publik. Melakukan pembenaran yang picik.

Ir. Soekarno pernah berkata, "Jangan Sampai Melupakan Sejarah". Maksud dari perkataan itu bukan sekedar mengingat semata, terjerembak dalam romansa-romansa masa lalu, namun juga untuk dipelajari kesalahan-kesalahan dan kekeliruan atas suatu hal. Sejenak menoleh ke belakang dan memproses maknanya kemudian lakukan gerakan untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan itu. Lihat prosesnya dahulu jangan langsung menyalahkan dan mengatakan hal itu semua keliru. Pelajari dulu, pahami dulu, dan cermati dulu. Hal itu perlu agar ketika melakukan perubahan tidak keliru.

Pada dasarnya segala sesuatu dibuat ada maksud dan tujuannya. Perlu dimaknai dulu sebuah sistem dibuat maksud dan tujuannya. Mungkin saja, melencengnya penerapan sistem tersebut bukan dikarenakan memang sistemnya sudah bobrok melainkan oknum yang melaksanakannya sudah tidak memahami sistem tersebut dan menyalahartikan dengan penalarannya sendiri. Perlu digarisbawahi hal tersebut. Suatu sistem yang baik akan menjadi buruk karena oknum tertentu menyelewengkannya. 

Terkadang juga, ketika kita sedang ada di dalam sistem kita tidak berani untuk berbuat dan cenderung masa bodoh dengan melencengnya sistem tersebut. Tapi, juga jangan jadi pahlawan kesiangan yang dengan gegap gempita berupaya merombak kekeliruan itu dengan biadab. Seharusnya, bila sudah berada di luar sistem tersebut, kita lebih bisa memaknainya secara objektif dan jangan berpegang pada subjektifitas semu. Dan, semestinya, perubahan atas sistem tersebut jangan ketika kita di luar sistem, melainkan ada di dalam sistemnya.

Berupaya mengorkesi sistem di luar sistem dengan pandangan subjektifitas adalah kebodohan. Pasalnya, koreksinya hanya akan berbuah ketidaksesuaian dan ketidakadilan bagi pelaku sistemnya. Bagi pelaku sistemnya tidak akan mampu berpikir logis dan berimbang karena sudah terdapat suatu opini publik. Hal itu sama saja membunuh upaya berkembangnya karakter dari si pelaku sistem. Tindakan macam itu ialah tindakan pengecut dan merusak dinamika dalam sistem tersebut.

Jangan sampai kita mengutuk oknum perusak sistem hingga menjadi bobrok dan melenceng, lalu malah kita yang menjadi sosok yang kita benci. Kebencian hanya melahirkan kebencian. Suatu siklus lingkaran setan, tiada berujung. Seharusnya, menghadapi kebencian dengan kelapangan, agar kebencian itu pun dapat memudar dengan sendirinya. Selama menghadapi suatu kebencian dengan kebencian hanya akan mengafirmasi diri kita menjadi sosok yang kita benci.

Senin, 16 September 2013

Orang Tua Untuk Anak-Anak Peradaban I



Kahlil Gibran pernah menuliskan sebuah kalimat yang dahsyat menurut saya dalam buku “Sang Nabi”. Kalimat tersebut ialah “Anakmu bukanlah anakmu, ia anak dari sebuah peradaban”. Kalimat ini sangat menarik bagi saya karena dalam kalimat itu Gibran mengingatkan para orang tua jika anak mereka akan terus berkembang seraya perkembangan suatu peradaban sekitarnya.

Namun, akankah semua orang tua akan siap dengan itu? Harusnya setiap manusia yang sudah siap menjadi orang tua haruslah siap. Karena, disadari atau tidak manusia akan berkembang bersandingan perkembangan zaman di era-nya. Anak akan berkembang sesuai eranya dan era itu akan sulit diikuti orang tuanya nanti. Anak pun akan menjadi bagian dari fondasi berkembangnya suatu peradaban.

Bila dipertanyakan, bagaimanakah menjadi orang tua yang ideal bagi seorang anak? Mungkin sulit untuk menjawabnya dengan sempurna, karena tumbuh berkembangnya anak akan bergantung juga pada lingkungan ia berada. Meskipun demikian, peran orang tua sangat penting sebagai penanam kesadaran moral dan etika dasar pada anak. Apa yang harus diperbuatnya dan apa yang tidak. Orang tua berperan besar dalam penanaman moral dan etika dasar dalam seorang anak.

Saya pun teringat dengan proposisi Jawa “ing ngarsa sing tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani” yang sekiranya menurut saya dapat diterapkan untuk menjadi orang tua ideal bagi seorang anak. Ketika anak masih usia kanak-kanak orang tua hendaknya menjadi teladan mutlak bagi anaknya karena fase itu si anak akan membutuhkan suatu sosok yang akan dijadikan fondasi karakternya. Untuk itu, orang tua hendaknya memiliki kesadaran bahwa anak akan melakukan apapun yang ia lihat. Anak tidak mengerti mana salah dan benar. Orang tua harus memberikan contoh dalam berbagai lini pada anak fase kanak-kanak. Bagaimana bersikap pada orang lain, bagaimana bersosialisasi, apa yang boleh dan tidak untuk dilakukan kepada orang lain dan lain sebagainya.

Beranjak remaja, anak akan memilah-milih sosok yang akan diidolakannya. Baik berasal dari kehidupan sebenarnya maupun dari dunia imajinasinya. Bisa jadi si anak akan mengidolakan pemusik idolanya ataupun mengidolakan tokoh yang ada dalam sebuah cerita fiksi. Untuk itu, orang tua harus mampu mengarahkannya dengan posisi sebagai teman. Orang tua harus mampu untuk mengarahkan kemauan dan kehendak anaknya agar bisa terarah untuk mencontoh sosok idolanya. Hal itu perlu agar anak tidak salah arah dalam mereduplikasi perilaku atau karakter dari tokoh yang diidolakannya. Dalam fase remaja memang sesekali orang tua harus mengubah peran teman menjadi orang tua bila perilaku anak sudah mulai mengkhawatirkan. Namun, tindakan itu merupakan tindakan terakhir bilamana negosiasi dengan si anak tidak berjalan mulus atau mengalami jalan buntu.

Saat sudah dewasa, peran orang tua agaknya harus berubah 180 derajat. Pada fase dewasa, anak akan sulit sekali menuruti orang tua untuk hal-hal yang menurutnya benar. Untuk menghadapi anak pada fase ini, orang tua haruslah menjadi energi pendorong sehingga anak menjadi lebih bertenaga untuk menghadapi masalah-masalah di depannya. Untuk dapat seperti itu, orang tua hendaknya mampu bercengkrama dengan anak dan menjadi penyedia saran serta kebijaksanaan bagi anak. Dengan menyediakan saran dan kebijaksanaan bagi si anak, maka anak akan belajar melihat masalah dari berbagai sudut pandang dan mencari solusi pada suatu masalah dengan seksama.

Menjadi orang tua memanglah tidak mudah. Ia harus memiliki kesabaran, ketelatenan, keuletan, dan determinasi diri sehingga tindak-tanduknya bisa menjadi keteladanan bagi anak. Anak haruslah didampingi oleh orang tuanya hingga kapanpun. Hanya saja, takaran pendampingan orang tua kepada anak berbeda-beda pada fase umurnya. Orang tua yang ideal merupakan orang tua yang mampu mendampingi anaknya dengan fleksibel dan mampu mencari celah untuk dapat berkomunikasi dengan anak.

Selasa, 26 Maret 2013

Pengembangan Dan Kemandirian Bangsa

Sekedar berbicara tentang keadaan saat ini jika sedikit banyaknya masyarakat kita sudah terkena distorsi pemikiran. Maksudnya, masyarakat kita sedang digiring oleh sekelompok oknum untuk bergerak di luar keinginannya sendiri. Alasan yang digunakan ialah kemiskinan, ketidakmerdekaan diri, dan lain sebagainya. Masalah-masalah semacam itu merupakan masalah yang sering diangkat untuk menggiring rakyat kepada opini segelintir kelompok saja.

Masyarakat seharusnya sadar, bahwa masalah yang diutarakan oleh sekelompok orang tersebut bukanlah sebuah msalah yang mewakili seluruh rakyat Indonesia. Masalah-masalah yang diangkat tersebut lebih cenderung merupakan masalah segelintir kelompok yang berupaya mengeneralisir dan membuat manja bangsa kita. Pertama, masalah kemiskinan merupakan masalah yang tidak dapat tuntas dengan membalikkan telapak tangan. Ada sebuah lubang yang memutus jembatan pengertian mengentaskan kemiskinan dengan memelihara kemiskinan. Hal yang harus diberikan kepada rakyat miskin bukanlah barang jadi yang hanya dapat dinikmati sekali saja, seperti sembako, harta benda, dan lain sebagainya. Hal yang harus diberikan ialah cara untuk menjadi pribadi yang produktif. Harus ada pendidikan untuk membuat bangsa Indonesia sebagai bangsa yang produktif.

Kedua, masalah memerdekakan diri. Untuk memerdekakan diri pada dasarnya mudah dilakukan namun sulit dijalani. Maksudnya, langkah awal untuk memerdekakan diri hanya perlu berani untuk memilih tindakan yang akan diambil, dengan mempertimbangkan baik buruknya. Memilih apa yang ingin dipilih, menjalankan apa yang ingin dijalankan merupakan tindakan yang merdeka bagi diri sendiri. Akan tetapi harus diingat bahwa saat melakukan tindakan yang merdeka hendaknya memahami betul konsekuensi dari tindakan tersebut sehingga tindakan yang dilakukan menjadi bertanggung jawab. Hal itulah, merdeka yang bertanggungjawab, merupakan hal yang sulit dilakukan. Pasalnya, untuk menyadari bahwa suatu tindakan dilakukan dengan tanggung jawab perlu adanya suatu konsistensi. Selain itu, pun harus memahami betul esensi dari merdeka atas diri sendiri. Hal itu perlu dipahami agar kemerdekaan atas diri sendiri tidak merugikan orang lain.

Memandirikan Bangsa

Sikap ketergantungan pada pemerintah merupakan sikap yang sering ditunjukkan oleh bangsa Indonesia. Selalu saja menyalahkan pemerintah atas beragam kebijakan yang dirasa merugikan. Namun, pernahkah kita memikirkan bahwa ketimpangan sosial ekonomi pada masyarakat adalah ulang masyarakat Indonesia sendiri. Bila saja mereka yang memiliki rejeki lebih tidak menonjolkan harta mereka, maka kecemburuan sosial tidak akan menyelimuti paham pemikiran rakyat yang lebih miskin. Dan, bila saja rakyat miskin mau berpikir lebih maju dan tidak bergantung pada pemerintah pusat mungkin ia akan lebih berguna untuk membangun desanya.

Langkah yang harus dilakukan masyarakat miskin, yang terlalu terpusat di Jakarta, adalah kembali ke kampung masing-masing. Banyak hal yang bisa dilakukan agar kampung menjadi lebih produktif. Keberadaan ibukota dan kota-kota besar tidak akan stabil tanpa adanya kampung-kampung yang produktif. Dengan memandirikan masyarakat kampung sehingga mau menggarap lahannya sendiri untuk suatu produktifitas maka perlahan-lahan akan membawa dampak kemandirian pada daerah lain dan perkotaan.

Kemandirian bangsa akan memacu tingkat produktifitas dan membuat negara lebih stabil secara sosial dan ekonominya. Pemerintah pun akan lebih menjadi perantara produk dalam negeri dan bukan sebagai pemasok impor. Segala krisis yang terjadi di Indonesia, seperti krisis bawang, cabe dan bahan pangan lainnya bisa ditanggulangi bila masyarakat Indonesia mau berpikir lebih mandiri mengonsep dan melakukan tindakan produktif. Suatu tindakan produktif jangan sekedar dilakukan dengan sembarangan tanpa ada sebuah rencana jelas. Misalnya, petani mulai berani mengemas produknya dengan kualitas dan packaging yang menarik sehingga pembeli pun tak ragu untuk membeli produk petani lokal.

Selain itu, harus ada pembiasaan pada benak bangsa Indonesia bahwa produk dalam negeri tak selalu buruk kualitasnya. Berani untuk menggunakan produk dalam negeri dan memasarkannya. Bila terdapat produk dalam negeri yang berkualitas buruk, sampaikan laporan kualitas tersebut pada perusahaan yang mengeluarkannya sehingga perusahaan juga dapat menindaklanjuti kekurangan kualitas produknya. Dengan kemandirian menggunakan produk dalam negeri maka akan semakin maju produk dalam negeri, dari segi kualitas dan packaging sehingga dapat bersaing pada pasar Internasional.

Mulai pembiasaan dari ketergantungan akan sesuatu. Berbuat lebih banyak dan berbagi lebih lagi. Kemandirian bangsa merupakan pondasi awal dari kemajuan suatu bangsa. Lihat saja Jepang, Korea Selatan dan India. Dengan komitmen kemandirian bangsa, maka sekarang ketiga negara tersebut cukup diperhitungkan dalam produk otomotif dan entertaintmentnya.

Minggu, 24 Februari 2013

Manusia Di Bumi

Manusia di bumi terlahir sama
Tak ada pembeda, meski berbeda
Semua sama, tak ada miskin atau kaya
Hanya satu pembeda
Cara menghidupi hidup dalam keunikan dunia

Manusia di bumi tercipta atas cinta
Buah cinta sepasang manusia
Dengan karunia Tuhan Maha Penguasa
Cinta yang tulus tiada tara
Murni, bila dijaga dengan nurani terdalam manusia

Manusia di bumi tercerahkan dari pengetahuan dunia
Ilmu dari buah pengalaman manusia
Pengetahuan dari tanda-tanda alam semesta
Diolah dalam konsep di kepala
Diujarkan dengan retorika

Manusia di bumi, keberagaman membentuk kesatuan semesta
Pondasi nafas hakiki kehidupan peradaban dunia
Baik yang kelam maupun bercahaya
Manusia adalah manusia
Dinamis dalam evolusi tak berhenti, berkutat penuhi jelujur konsep di kepala
Menuangkan dalam kanvas, ilmu baru terus lahir bergantian dalam tiap generasi manusia

Manusia di bumi
Makhluk mendekati
Kesempurnaan hakiki
Dengan dinamika kekurangan di satu hari
Dan kelebihan di lain hari
Manusia di bumi
Diciptakan untuk bermimpi
Berkreasi mewujudkan mimpi
Melalui ancangan imaji
Bukan sekedar kesenangan dalam fantasi

Manusia di bumi
Kebanggaan pertiwi
Buah hasil kimiawi
Diberkahi hati
Untuk digunakannya nurani
Dalam memandang kegoncangan yang menanti
Di depan nanti
Di masa depan yang dinanti
Manusia adalah makhluk terberkahi

Kamis, 21 Februari 2013

Hidup Seperti Berkendara Motor

Hidup itu memanglah tidak sederhana, tapi juga tidaklah sulit. Banyak yang menganggap bahwa hidup ideal itu adalah hidup dengan segala kerumitan bayang-bayang dari kesuksesan orang lain. Padahal, belum tentu cara seseorang untuk sukses cocok dengan orang lain. Patut dipahami bahwa manusia merupakan makhluk yang unik dan keunikan itulah yang membuatnya berbeda antar satu individu dengan individu lainnya.

Secara sederhana hidup itu ialah lahir, tumbuh, dewasa, tua, renta, dan mati. Dari hidup dan berakhir mati. Di antara sela-sela waktu hidup dan mati itulah, manusia bisa berbuat sesuatu untuk kehidupannya. Banyak hal yang bisa dilakukan dan hal yang dilakukan itu pun bisa mengantarkan diri menjadi sukses. Ada dua hal yang harus diingat bila ingin sukses, yakni konsisten dan presisten. Konsisten dengan jalan yang dipilih dan presisten dalam menjalaninya.

Bila dianalogikan, hidup itu seperti mengendarai sepeda motor. Saat sedang di jalan raya, seorang pengendara sepeda motor akan bermanuver sedemikian rupa untuk sampai pada tujuannya. Ada yang melanggar aturan demi mempersingkat waktu menuju tujuannya. Namun, bila mengendarai sepeda motor dengan cara tersebut memiliki resiko yang besar. Seperti, dapat terjadi kecelakaan, ditangkap oleh polisi, bersinggungan dengan pengendara lain kemudian berakibat baku hantam, dan lain sebagainya. Cara hidup seperti itu memang dapat mengantarkan diri kita lebih cepat pada impian yang diharapkan. Akan tetapi, dengan tidak menjalankan dan memaknai proses menuju kesuksesan, niscaya sukses yang diraih hanya kesuksesan semu. Sebuah kesuksesan yang tidak dapat abadi dan cenderung tidak stabil.

Cara berkendara yang kedua ialah berkendara sesuai peraturan, seperti menaati rambu lalu lintas, menggunakan perangkat keamanan yang benar, memperhatikan keadaan sepeda motor dan lain sebagainya. Dengan cara berkendara sesuai peraturan, setidaknya membuat si pengendara lebih aman ketika menuju tempat tujuannya. Selain itu, dalam bersiap-siap berkendara, untuk mematuhi aturan yang ada seorang pengendara akan menggunkan helm dan perangkat lainnya. Hal itu memang terkesan tidak praktis, namun ada sebuah proses untuk dapat mengendarai kendaraan. Proses itu kemudian, setidaknya, akan melindungi pengendara dari sebuah kecelakaan lalu lintas. Dalam kehidupan, persiapan atas segala sesuatu akan memudahkan seseorang untuk menghadapi kehidupannya sehingga bisa meminimalisir kemungkinan terburuk pada kehidupan yang dijalaninya.

Ketika berkendara, pasti seorang pngendara motor akan menghadapi jalan yang macet. Biasanya,  seorang pengendara motor akan bermanuver mencari celah di antara kendaraan lainnya untuk terus jalan sampai ke tujuannya. Ada yang berkelok-kelok hingga terkadang bersinggungan atau bahkan bertabrakan dengan pengendara lainnya, dan ada pula yang hanya mengikuti jalan di depannya meski harus rela terhimpit dan menunggu mobil bergerak. Kedua hal itu pun sama saja dengan kehidupan, untuk mencapai tujuan hidup maka manusia akan bermanuver sedemikian rupa. Baik dengan manuver yang cerdas maupun manuver yang culas. Terkadang, dalam bermanuver untuk mewujudkan apa yang dituju, ada saja kendalanya, baik kendala secara teknis maupun berurusan dengan orang lain. Atau, ada kalanya hanya mengikuti arus dan tidak melakukan manuver, hanya mengandalkan konsistensi dan presistensi pada apa yang sudah dimulai. Kedua hal tersebut lumrah saja dilakukan, bergantung pada manusianya yang melakukannya. Baik dan buruknya proses haruslah dipahami, setidaknya untuk sebuah pengalaman yang bisa digunakan untuk meminimalisir resiko.

Minggu, 10 Februari 2013

Keberagaman dan Pertahanan Mentalitas

Bicara keberagaman memang memiliki banyak pandangan dan pendapat. Ada yang berpendapat bahwa keberagaman merupakan cikal bakal keretakan kebersamaan, namun ada pula yang berpendapat bahwa keberagaman merupakan pondasi dari suatu kebersamaan yang abadi. Namun, terkadang pula keberagaman dijadikan alasan untuk melawan atau memanipulasi kenyataan. Sikap tersebut sangat tidak bijak, akan tetapi sering sekali digunakan.

Memang pada dasarnya, keberagaman merupakan unsur yang dapat menguatkan suatu kesatuan dan kebersamaan bila diposisikan dengan tepat. Maksudnya, keberagaman berisikan sebuah perbedaan antara satu individu dengan individu lainnya sehingga perbedaan-perbedaan tersebut dapat saling mengisi kekosongan atau kelemahan individu lainnya. Dengan pola pikiran semacam itu maka keberagaman berada pada posisi yang positif, sebagai lem yang menyatukan.

Ketika keberagaman dijadikan alasan untuk saling menyerang maka keberagaman berada pada posisis yang salah. Keberagaman bukanlah pisau yang dapat mengiris kebersamaan dan kesatuan. Penggunaan keberagaman sebagai alat untuk memecah merupakan cara picik karena tidak setiap individu diciptakan sama. Setiap individu diciptakan dengan segala bentuk perbedaan dan keberagaman. Tidak ada satu individu yang sama persis ataupun diupayakan untuk disamakan. Kehidupan bersama individu yang sama persis akan menjemukan dan menenggelamkan potensi unik dari masing-masing individu manusia.

Selain itu, hal yang sering terjadi ialah menjadikan keberagaman dan perbedaan menjadi sebuah persoalan yang terlihat besar. Padahal, hal itu bukan ancaman terbesar dalam kesatuan dan kebersamaan. Ancaman terbesar ialah runtuhnya kesatuan dan kebersamaan. Ibarat lidi, satu batang tidak akan mampu menyapu debu, namun bila lebih dari satu lidi disatukan dan dibuat menjadi sapu lidi maka akan mampu untuk menyapu debu.

Kondisi melihat keberagaman sebagai sebuah perbedaan merupakan sebuah strategi yang dilakukan oleh oknum-oknum tertentu bertujuan untuk mengecilkan bangsa Indonesia. Hal itu dilakukan karena Indonesia merupakan bangsa yang besar dan sangat berpotensi menunjukkan kedigdayaannya bila semua etnis yang ada di dalamnya dapat bersatu-padu. Bila ada oknum yang selalu menyerukan perbedaan dari keberagaman maka oknum tersebut haruslah dilawan. Hal itu perlu dilakukan agar bangsa ini tidak dijajah secara mentalitasnya.

Bila melihat keadaan saat ini, sudah barang tentu mentalitas bangsa Indonesia, khususnya generasi muda, sudah terkontaminasi oleh serangan budaya dari luar. Begitu derasnya serangan manipulatif tersebut sehingga membuat para pemuda melihat budaya ibu, budaya aslinya, sebagai suatu pemanis berdirinya negara yang bernama Indonesia. Hilangnya pemahaman nilai estetis, norma, etika dan etos budaya lokal mulai nampak perlahan. Memang, hal-hal tersebut bila terlalu dibuat dominan maka akan memunculkan keretakan. Akan tetapi, esensi budaya lokal memiliki dasar jati diri bangsa yang dapat saling berkomunikasi dan saling memahami. Karena keengganan untuk melihat budaya lokal sebagai sebuah pemersatu, maka budaya luarlah yang akhirnya mengisi fungsi tersebut dengan akhir ialah menyeragamkan nilai-nilai dalam mentalitas generasi muda dan memprogramnya sebagai generasi yang terjajah.

Perlu mulai dari saat ini, generasi muda dilatih pola pemikirannya, diberikan pembekalan dari pola penjajahan mentalitas. Perlindungan tersebut dapat dimulai dari hal yang paling sederhana, yakni mulai mengajarkan budaya ibu dan dasar budaya lokal pada para generasi muda. Mulai pengenalan dari bagaimana pola logika budaya lokal. Budaya lokal yang ada di Indonesia memiliki keunikan dalam pola regenerasinya. Pertahankan keunikannya namun kembangkan esensi fleksibilitasnya sehingga dapat terjadi sebuah komunikasi budaya antar budaya lokal di Indonesia. Dengan cara itu, perlahan namun pasti generasi muda di Indonesia dapat diselamatkan dari penjajahan mentalitas dari budaya luar.

Sabtu, 19 Mei 2012

Bertoleransi Dalam Hidup

Entah karena memang Lady Gaga yang bermasalah atau otak bangsa ini yang ngeres, perihal konser saja menjadi buah bibir. Padahal, keberadaan Lady Gaga di industri musik internasional bukanlah sesuatu yang membahayakan bagi identitas etika dan moral bangsa ini. Etika dan moral asli binaan para intelektual lokal yang telah ada dalam naskah-naskah ataupun nasihat-nasihat orang tua semakin ditinggalkan. Hampir semua masyarakat di negeri ini melihat pada perspektif tidak original. Seperti, melihat masalah dari perspektif agama saja.

Bagi saya, agama hanyalah baju. Urusan dengan Tuhan semua kembali kepada niatan dan keyakinan diri bahwa dunia ini ada yang menciptakannya. Permasalahan macam konser Lady Gaga bukan untuk dikomentari sebelah mata dengan konteks agama. Masalah terbesar ialah bagaimana pola pendidikan etika dan moral kepada generasi muda. Lihat saja, upaya pemblokiran situs porno yang dilakukan oleh Kementrian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia (Kemenkoinfo RI) tidak sepenuhnya mengurangi pikiran-pikiran ngeres bangsa ini. Masih banyak pelaku penyebaran dan produsen film-film porno yang berbasis 3.gpa ataupun video. Perhatian utama ialah pada pola pikir bangsa ini.

Jika melihat fenomena pelarangan pornoaksi dan pornografi perlu ada sebuah pembatasan dan pengklasifikasian yang jelas. Bagaimana sebuah seni dikatakan sebagai sebuah pornografi? Bagaimana sebuah busana disebut sebagai tindakan pornoaksi? Perlu sebuah kriteria yang jelas. Karena, saat ini, kriteria suatu hal dikatakan sebagai pornografi dan pornoaksi masih samar. Apa seorang yang menggunakan rok empat jari di atas lutut adalah sebuah pornoaksi? Apakah seorang pria dengan celana yang sangat ketat dikatakan pornoaksi? Atau sebuah patung manusia tidak berbusana disebut pornografi? Belum jelas kurasa.

Pun sudah dibuatkan klasifikasi yang jelas, juga masih perlu menindak pola pemikiran yang ngeres. Entah dalam pendidikan formal diajarkan dan didoktrinan masalah berpikir ngeres adalah sebuah keperluan atau memang keharusan. Namun, hendaknya pola pemikiran yang selalu terbelenggu atas nama agama tersebut haruslah diperjelas. Selalu saja, jika ada sebuah seni atau gaya berbusana yang dikatakan seronok memicu kehebohan di negeri ini. Kasus pemerkosaanlah, artis porno ingin datang ke negeri ini lah, dan lain sebagainya.

Perlu sebuah pemikiran bijak. Perlu pemisahan antara stigma-stigma yang kental dengan "porno" sebagai barang tabu dan personal pelaku yang melakukannya. Artis porno pun pasti tidak ingin "bermain" dengan sembarangan orang ketika ada di sebuah negara yang bukan negara asalnya. Coba saja, jika Maria Ozawa datang lagi ke Indonesia, coba ajak dia untuk melakukan hubungan sex. Belum tentulah ia mau.

Bagi para pelaku atau artis porno, sex yang mereka tontonkan adalah upaya mereka meraup rejeki. Sama saja dengan orang bekerja di manapun. Untuk memandang stigma mereka, hendaknya perlu ada toleransi. Karena, mereka menjadi seperti itu merupakan upayanya untuk hidup. Banyak hal di dunia ini yang harus dipandang dengan bijak dan dibumbui rasa toleransi. Tak berbeda dengan Ledy Gaga, ia pun menjadi seperti sekarang juga merupakan upayanya bertahan hidup. Bertahan hidup atau survive merupakan kodrat alam.

FPI Bukan Utusan Tuhan

Masalah yang berkaitan dengan porno-pornoan entah mengapa mengundang para aktivis Front Pembela Islam (FPI) untuk maju perang. Padahal, FPI bukanlah utusan Tuhan dan mereka juga sekelompok manusia yang terkadang khilaf. Aksi-aksi yang dilakukannya pun tidak mencerminkan sebagian besar pemikiran rakyat Indonesia. Seharusnya FPI pun juga bisa memandang sebuah masalah dengan pemikiran yang dingin dan berani melakukan debat tanpa ayat-ayat Al Qur'an--karena itu hanya akan menodai Kitab Suci.

Jika diizinkan menyarankan solusi, hendaknya FPI dan organisasi masyarakat yang vandalis dikirimkan sebagai simpatisan perang untuk membantu Palestina atau negara yang sedang berkonflik. Karena, jika hanya dipelihara di negeri ini, maka kemajemukan bangsa akan ternoda dan muncul sebuah aroganitas homogenitas idelogi. Negara ini bukanlah negara Islam, juga bukan negara Katolik ataupun Budha. Negara ini adalah negara Bhinneka Tunggal Ika. Negara yang menghargai kemajemukan suku bangsa, ideologi, agama, hingga kreatifitas.

Porno atau tidak sebuah tindakan, salah atau benar suatu perbuatan, tidaklah ditentukan oleh sekelompok manusia yang selalu berlindung di balik agama. Kebenaran memiliki unsur subyektifitas dan harus diadu dengan argumen yang kuat. Berdebat dengan ideologi masih lebih kesatria ketimbang maju memprotes dengan mengatasnamakan lambang-lambang tertentu. Dengan sebuah alur perdebatan, maka akan muncul dinamika positif bagi bangsa ini. Sebuah dinamika yang mengajarkan bagi generasi muda arti sebuah perbedaan dan penghargaan atas perbedaan. Selain itu, dinamika perdebatan juga mengajarkan generasi muda untuk bertoleransi atas pemikiran orang lain, ideologi yang dianut orang lain, hingga kepercayaan orang lain.

Harus diingat kembali, Tuhan tidak pernah meminta umatnya untuk mengatasnamakan diri-Nya untuk melakukan kekerasan. Bagi saya yang beragama Islam, agama manapun mengajarkan sebuah cinta kasih dan toleransi. Tak ada satupun agama di dunia yang mengajarkan umatnya untuk berperang dan melakukan hal-hal keji. Hanya saja, perspektif nilai atas kebenaran yang dianut berbeda.Dan perbedaan itulah yang harus dipahami dan saling didiskusikan agar tercipta sebuah keharmonisan.

Jumat, 09 Maret 2012

Meminta Maaf dan Memaafkan

Pernahkah kita sejenak memikirkan perasaan seseorang dengan segala hal yang pernah kita lakukan pada orang tersebut? Apakah ia tersinggung, marah, ataupun kecewa? Jika tidak pernah terpikir sejengkal pun hal itu, maka pikirkanlah mulai hari ini.

Disadari atau tidak, terkadang apa yang kita lakukan dapat membuat seseorang terluka. Meskipun hal itu hanya masalah kecil. Terkadang, masalah kecil dapat menjadi besar karena pemicu sederhana. Semua berawal saat masalah kecil itu tidak disadari dan hanya dipendam. Perlu kebesaran hati untuk mengatakan hal-hal itu dengan orang yang bersangkutan, agar masalah kecil tidak membesar.

Permasalahan tidak akan selesai jika kita hanya mendiamkan orang yang menyakiti kita. Katakan jika memang masih mau mempertahankan hubungan silaturahim. Jika tidak, maka akan muncul asumsi-asumsi negatif, baik pada diri kita ataupun orang lain. Lalu, hubungan silaturahim tersebut akhirnya menjadi renggang.dan menjadi hilang. Hal itu tidak baik.

Untuk mengatakannya hanya perlu keberanian dan kelegaan hati. Tidak perlu sungkan, beranikan diri. Hal itu perlu untuk menjaga silaturahim. Hidup sendiri itu tidak mengenakkan. Hidup harus berdinamis dengan orang lain dan teman-teman sekitar.

Jadi, jika ada kesalahan, sekecil apapun itu, minta maaf lah, dan jika ada orang lain bersalah pada diri kita, maafkanlah. Kata maaf memang hanya terdiri dari empat huruf dan dua suku kata. Namun, untuk mengutarakannya butuh ketulusan, kelapangan hati dan kedewasaan.

Minggu, 21 Agustus 2011

Manusia Bermanfaat Dalam Konsep Ki Hadjar Dewantara

Masyarakat secara umum pasti sudah sering mendengar ungkapan tut wuri handayani. Ungkapan tersebut merupakan ungkapan yang berasal dari seorang tokoh nasional, yakni Ki Hadjar Dewantara. Sebenarnya ungkapan yang menjadi slogan di dunia pendidikan Indonesia tersebut bukan muncul satu ungkapan saja, melainkan berasal dari sebuah trilogi ungkapan, yakni Ing ngarsa sung tuladha, Ing madya mangun karsa, tut wuri handayani.

Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani merupakan ungkapan yang memiliki satu kesatuan makna.  Ungkapan tersebut jika diartikan dalam bahasa Indonesia memiliki arti 'yang di depan menjadi teladan, yang di tengah membangun kehendak, dari belakang turut memberi daya atau semangat' (sumber: St. S. Tartono. Pitutur Adi Luhur: Ajaran Moral dan Filosofi Hidup Orang Jawa). Maksudnya, seorang manusia harus bermanfaat di manapun posisinya.

Ketika ia sedang di depan (menjadi seorang pemimpin atau guru) ia harus menjadi teladan dan contoh bagi murid dan anggotanya. Karena, orang-orang yang berdiri di belakangnya akan mengacu padanya yang sedang berada di depan. Selain itu, ketika di depan hendaknya selalu melihat ke belakang untuk menata langkah selanjutnya, agar langkah yang sudah dibuat tidak menjerumuskan orang yang mengikuti di belakang.

Lalu kedua, ketika sedang berada di tengah-tengah (dalam sebuah kelompok) maka manusia hendaknya mampu mengkondisikan suasana, sehingga suasananya menjadi kondusif. Akan lebih baik jika seorang manusia mampu membuat suasana di sekelilingnya menjadi suasana positif. Kekuatan positif yang terlahir dalam sebuah kelompok akan membawa dampak baik bagi kelompok tersebut dan memberikan pengembangan diri bagi anggota kelompoknya, baik secara individu atau secara kelompok keseluruhan.

Terakhir, ketika manusia sedang berada di belakang bukan berarti ia harus menjadi pengikut semata. Ketika manusia di belakang ia juga memiliki andil, yakni sebagai pendorong orang-orang di depannya agar tidak pantang menyerah. Selain itu, ia juga memiliki peran untuk mempelajari kesalahan orang di depannya agar kesalahan tersebut tidak terulang dan menjadi regenerasi orang-orang yang sudah pernah berada di depannya. Tanpa ada orang di belakang maka tak ada orang yang di depan (pemimpin).

Oleh karena itu, dalam trilogi ungkapannya, Ki Hadjar Dewantara menanamkan sebuah harapan bahwa bangsa Indonesia mampu menjadi bangsa yang bermanfaat secara individu maupun dalam kelompok. Menjadi pembakar semangat positif dan mendorong pengembangan diri pada bangsa sendiri. Trilogi ungkapan tersebut hendaknya tidak dipisah, karena maknanya akan jauh berbeda.