Tampilkan postingan dengan label budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label budaya. Tampilkan semua postingan

Minggu, 10 Februari 2013

Keberagaman dan Pertahanan Mentalitas

Bicara keberagaman memang memiliki banyak pandangan dan pendapat. Ada yang berpendapat bahwa keberagaman merupakan cikal bakal keretakan kebersamaan, namun ada pula yang berpendapat bahwa keberagaman merupakan pondasi dari suatu kebersamaan yang abadi. Namun, terkadang pula keberagaman dijadikan alasan untuk melawan atau memanipulasi kenyataan. Sikap tersebut sangat tidak bijak, akan tetapi sering sekali digunakan.

Memang pada dasarnya, keberagaman merupakan unsur yang dapat menguatkan suatu kesatuan dan kebersamaan bila diposisikan dengan tepat. Maksudnya, keberagaman berisikan sebuah perbedaan antara satu individu dengan individu lainnya sehingga perbedaan-perbedaan tersebut dapat saling mengisi kekosongan atau kelemahan individu lainnya. Dengan pola pikiran semacam itu maka keberagaman berada pada posisi yang positif, sebagai lem yang menyatukan.

Ketika keberagaman dijadikan alasan untuk saling menyerang maka keberagaman berada pada posisis yang salah. Keberagaman bukanlah pisau yang dapat mengiris kebersamaan dan kesatuan. Penggunaan keberagaman sebagai alat untuk memecah merupakan cara picik karena tidak setiap individu diciptakan sama. Setiap individu diciptakan dengan segala bentuk perbedaan dan keberagaman. Tidak ada satu individu yang sama persis ataupun diupayakan untuk disamakan. Kehidupan bersama individu yang sama persis akan menjemukan dan menenggelamkan potensi unik dari masing-masing individu manusia.

Selain itu, hal yang sering terjadi ialah menjadikan keberagaman dan perbedaan menjadi sebuah persoalan yang terlihat besar. Padahal, hal itu bukan ancaman terbesar dalam kesatuan dan kebersamaan. Ancaman terbesar ialah runtuhnya kesatuan dan kebersamaan. Ibarat lidi, satu batang tidak akan mampu menyapu debu, namun bila lebih dari satu lidi disatukan dan dibuat menjadi sapu lidi maka akan mampu untuk menyapu debu.

Kondisi melihat keberagaman sebagai sebuah perbedaan merupakan sebuah strategi yang dilakukan oleh oknum-oknum tertentu bertujuan untuk mengecilkan bangsa Indonesia. Hal itu dilakukan karena Indonesia merupakan bangsa yang besar dan sangat berpotensi menunjukkan kedigdayaannya bila semua etnis yang ada di dalamnya dapat bersatu-padu. Bila ada oknum yang selalu menyerukan perbedaan dari keberagaman maka oknum tersebut haruslah dilawan. Hal itu perlu dilakukan agar bangsa ini tidak dijajah secara mentalitasnya.

Bila melihat keadaan saat ini, sudah barang tentu mentalitas bangsa Indonesia, khususnya generasi muda, sudah terkontaminasi oleh serangan budaya dari luar. Begitu derasnya serangan manipulatif tersebut sehingga membuat para pemuda melihat budaya ibu, budaya aslinya, sebagai suatu pemanis berdirinya negara yang bernama Indonesia. Hilangnya pemahaman nilai estetis, norma, etika dan etos budaya lokal mulai nampak perlahan. Memang, hal-hal tersebut bila terlalu dibuat dominan maka akan memunculkan keretakan. Akan tetapi, esensi budaya lokal memiliki dasar jati diri bangsa yang dapat saling berkomunikasi dan saling memahami. Karena keengganan untuk melihat budaya lokal sebagai sebuah pemersatu, maka budaya luarlah yang akhirnya mengisi fungsi tersebut dengan akhir ialah menyeragamkan nilai-nilai dalam mentalitas generasi muda dan memprogramnya sebagai generasi yang terjajah.

Perlu mulai dari saat ini, generasi muda dilatih pola pemikirannya, diberikan pembekalan dari pola penjajahan mentalitas. Perlindungan tersebut dapat dimulai dari hal yang paling sederhana, yakni mulai mengajarkan budaya ibu dan dasar budaya lokal pada para generasi muda. Mulai pengenalan dari bagaimana pola logika budaya lokal. Budaya lokal yang ada di Indonesia memiliki keunikan dalam pola regenerasinya. Pertahankan keunikannya namun kembangkan esensi fleksibilitasnya sehingga dapat terjadi sebuah komunikasi budaya antar budaya lokal di Indonesia. Dengan cara itu, perlahan namun pasti generasi muda di Indonesia dapat diselamatkan dari penjajahan mentalitas dari budaya luar.

Rabu, 23 November 2011

Wayang dan Fungsi 'Tuntunan'-nya

Wayang, merupakan warisan budaya dari Indonesia yang sudah diakui oleh dunia. Namun, penggemarnya tidak juga bertambah, justru statis dan tidak terjadi sebuah pengembangan. Pengakuan dunia tersebut tidak membuat wayang diakui dan diminati oleh anak muda. Selain itu, pengakuan dunia tersebut juga tidak mengembalikan fungsi 'tuntunan' pada pergelaran wayang. pengembangan wayang yang terjadi hanya untuk mendatangkan keuntungan secara ekonomi bagi para dalang.

Jika ada yang memajukan atau memodifikasi wayang, maka akan dianggap bertentangan dengan pakem yang sudah ada. Pakem dijadikan sebuah alasan untuk mematahkan semangat pengembangan dan modifikasi wayang, baik segi bentuk atau pergelaran. Padahal, dengan terbatasnya pengembangan tersebut, wayang akan menjadi sebuah benda seni saja. Wayang bukan sekedar benda seni. Wayang memiliki fungsi-fungsi lain yang lebih mengedepankan pengembangan pendidikan pada generasi muda. Maksudnya, wayang merupakan sebuah wadah pendidikan yang berazaskan penanaman karakter budaya pada generasi muda.

Terlalu takutnya pada pakem, banyak pengembang wayang berguguran. Padahal, jika dikembangkan dengan mengikuti dinamika zaman, seharusnya wayang mampu dikembangkan dengan pendekatan kekinian. Seperti, menggunakan wayang dalam bentuk superhero atau pahlawan super yang lebih berkenan dengan anak muda. Memodifikasi Wisanggeni, salah satu tokoh wayang asli Jawa, menjadi sebuah superhero dengan kekuatan sinar laser dari matanya, karena wisanggeni memiliki kekuatan mata yang mampu membakar lawannya, atau memodifikasi Antareja, tokoh wayang asli Jawa, menjadi tokoh superhero, yang memiliki kekuatan berubah menjadi naga atau bersenjatakan racun yang mampu melumpuhkan musuh.

Memodifikasi juga harus dengan pemahaman konsep dasar atas penokohan dari tokoh wayang yang hendak diangkat. Jangan sembarangan memodifikasi, karena akan menghilangkan esensi dasar dari karakteristik tokohnya. Dengan hilangnya esensi tokoh, maka akan mereduksi pembelajaran budaya di dalamnya. Selain itu, hal tersebut juga akan menghilangkan sejarah munculnya tokoh tersebut. Jangan asal dalam memodifikasi wayang.

Penggambaran wayang harus juga dengan esensi dasarnya. Agar, generasi muda dapat memahami esensi 'tuntunan' dari wayang. Memodifikasi dengan 'asal-asalan' hanya akan menjauhkan generasi muda dari upaya memahami budayanya. Padahal, budaya lokal Indonesia memiliki banyak nilai-nilai pendidikan yang baik untuk generasi muda. Memberikan pemahaman mengenai kesadaran toleransi, baik toleransi suku maupun agama. Toleransi atas pluralisme dan multikulturalisme bangsa Indonesia.

Upaya 'Menghomogenkan' Pola Berpikir Generasi Muda Dari Pihak Tertentu

Indonesia sudah mulai sulit untuk menghargai sesuatu hal yang berbeda. Ada saja konflik yang terjadi lantaran terjadinya sebuah perbedaan, baik agama maupun suku bangsa. Toleransi sudah dikesampingkan dan tidak dijadikan dasar didikan bagi generasi muda. Hal itu terjadi karena, adanya upaya segelintir kelompok di Indonesia yang berupaya 'menghomogenkan' pola pikir dan pandangan generasi muda.

Dasar upaya tersebut biasanya hanya untuk kepentingan kelompok tersebut. Kepentingan politik, ekonomi, maupun sosial bagi kelompok yang bersangkutan. Padahal, kelebihan dari kebudayaan yang ada di Indonesia adalah pendidikan terhadap toleransi atas pluralisme dan multikultur di Indonesia. Memang, dalam sebuah masyarakat yang homogen lebih mudah diatur. Akan tetapi, hal tersebut akan menghilangkan estetika kebangsaan Indonesia.

Negara Indonesia bukanlah milik satu agama atau satu suku bangsa saja. Indonesia menjadi indah dan rupawan karena warna-warni keberagaman. Kemajemukan yang akhirnya menjadi pelangi bangsa Indonesia akan tereduksi menjadi sebuah pandangan munafik. Pandangan yang hanya akan memunculkan konflik-konflik intern Indonesia. Konflik yang akan meruntuhkan kesatuan Indonesia.

Ada baiknya masyarakat Indonesia meruntuhkan aroganitasnya untuk melihat, merenungi, dan memaknai kemajemukan bangsa ini. Kemajemukan yang semakin hari semakin tereduksi, dan akan mati secara mengenaskan. Indonesia hanya akan terkenang dengan segala kemunafikan dan hanya menjadi noda kecil dalam lembar sejarah dunia, jika kemajemukan disingkirkan dari Indonesia.

Untuk itu, perlu pembangkitan kembali paham toleransi, salah satunya melalui media wayang. Karena, wayang merupakan cerminan masyarakatnya. Wayang juga bukanlah milik suku Jawa saja, melainkan milik bangsa Indonesia secara menyeluruh. Fungsi 'tuntunan' tersebut juga harus dihidupkan kembali, melalui pemodifikasian yang tidak mereduksi nilai-nilai ajaran dalam wayang. Tugas itu bukan hanya milik generasi tua ataupun generasi muda, melainkan tugas seluruh masyarakat Indonesia. Menumbukan sikap ke-Indonesia-an melalui ajaran pendidikan. Oleh karena itu, hendaknya para pendidik mendidik dengan dasar budaya, dan masyarakat harus mampu menyerap esensi pembelajaran nilai-nilai adiluhung kebudayaan dan menurunkannya dengan bijak ke generasi penerus.