Sekedar berbicara tentang keadaan saat ini jika sedikit banyaknya masyarakat kita sudah terkena distorsi pemikiran. Maksudnya, masyarakat kita sedang digiring oleh sekelompok oknum untuk bergerak di luar keinginannya sendiri. Alasan yang digunakan ialah kemiskinan, ketidakmerdekaan diri, dan lain sebagainya. Masalah-masalah semacam itu merupakan masalah yang sering diangkat untuk menggiring rakyat kepada opini segelintir kelompok saja.
Masyarakat seharusnya sadar, bahwa masalah yang diutarakan oleh sekelompok orang tersebut bukanlah sebuah msalah yang mewakili seluruh rakyat Indonesia. Masalah-masalah yang diangkat tersebut lebih cenderung merupakan masalah segelintir kelompok yang berupaya mengeneralisir dan membuat manja bangsa kita. Pertama, masalah kemiskinan merupakan masalah yang tidak dapat tuntas dengan membalikkan telapak tangan. Ada sebuah lubang yang memutus jembatan pengertian mengentaskan kemiskinan dengan memelihara kemiskinan. Hal yang harus diberikan kepada rakyat miskin bukanlah barang jadi yang hanya dapat dinikmati sekali saja, seperti sembako, harta benda, dan lain sebagainya. Hal yang harus diberikan ialah cara untuk menjadi pribadi yang produktif. Harus ada pendidikan untuk membuat bangsa Indonesia sebagai bangsa yang produktif.
Kedua, masalah memerdekakan diri. Untuk memerdekakan diri pada dasarnya mudah dilakukan namun sulit dijalani. Maksudnya, langkah awal untuk memerdekakan diri hanya perlu berani untuk memilih tindakan yang akan diambil, dengan mempertimbangkan baik buruknya. Memilih apa yang ingin dipilih, menjalankan apa yang ingin dijalankan merupakan tindakan yang merdeka bagi diri sendiri. Akan tetapi harus diingat bahwa saat melakukan tindakan yang merdeka hendaknya memahami betul konsekuensi dari tindakan tersebut sehingga tindakan yang dilakukan menjadi bertanggung jawab. Hal itulah, merdeka yang bertanggungjawab, merupakan hal yang sulit dilakukan. Pasalnya, untuk menyadari bahwa suatu tindakan dilakukan dengan tanggung jawab perlu adanya suatu konsistensi. Selain itu, pun harus memahami betul esensi dari merdeka atas diri sendiri. Hal itu perlu dipahami agar kemerdekaan atas diri sendiri tidak merugikan orang lain.
Memandirikan Bangsa
Sikap ketergantungan pada pemerintah merupakan sikap yang sering ditunjukkan oleh bangsa Indonesia. Selalu saja menyalahkan pemerintah atas beragam kebijakan yang dirasa merugikan. Namun, pernahkah kita memikirkan bahwa ketimpangan sosial ekonomi pada masyarakat adalah ulang masyarakat Indonesia sendiri. Bila saja mereka yang memiliki rejeki lebih tidak menonjolkan harta mereka, maka kecemburuan sosial tidak akan menyelimuti paham pemikiran rakyat yang lebih miskin. Dan, bila saja rakyat miskin mau berpikir lebih maju dan tidak bergantung pada pemerintah pusat mungkin ia akan lebih berguna untuk membangun desanya.
Langkah yang harus dilakukan masyarakat miskin, yang terlalu terpusat di Jakarta, adalah kembali ke kampung masing-masing. Banyak hal yang bisa dilakukan agar kampung menjadi lebih produktif. Keberadaan ibukota dan kota-kota besar tidak akan stabil tanpa adanya kampung-kampung yang produktif. Dengan memandirikan masyarakat kampung sehingga mau menggarap lahannya sendiri untuk suatu produktifitas maka perlahan-lahan akan membawa dampak kemandirian pada daerah lain dan perkotaan.
Kemandirian bangsa akan memacu tingkat produktifitas dan membuat negara lebih stabil secara sosial dan ekonominya. Pemerintah pun akan lebih menjadi perantara produk dalam negeri dan bukan sebagai pemasok impor. Segala krisis yang terjadi di Indonesia, seperti krisis bawang, cabe dan bahan pangan lainnya bisa ditanggulangi bila masyarakat Indonesia mau berpikir lebih mandiri mengonsep dan melakukan tindakan produktif. Suatu tindakan produktif jangan sekedar dilakukan dengan sembarangan tanpa ada sebuah rencana jelas. Misalnya, petani mulai berani mengemas produknya dengan kualitas dan packaging yang menarik sehingga pembeli pun tak ragu untuk membeli produk petani lokal.
Selain itu, harus ada pembiasaan pada benak bangsa Indonesia bahwa produk dalam negeri tak selalu buruk kualitasnya. Berani untuk menggunakan produk dalam negeri dan memasarkannya. Bila terdapat produk dalam negeri yang berkualitas buruk, sampaikan laporan kualitas tersebut pada perusahaan yang mengeluarkannya sehingga perusahaan juga dapat menindaklanjuti kekurangan kualitas produknya. Dengan kemandirian menggunakan produk dalam negeri maka akan semakin maju produk dalam negeri, dari segi kualitas dan packaging sehingga dapat bersaing pada pasar Internasional.
Mulai pembiasaan dari ketergantungan akan sesuatu. Berbuat lebih banyak dan berbagi lebih lagi. Kemandirian bangsa merupakan pondasi awal dari kemajuan suatu bangsa. Lihat saja Jepang, Korea Selatan dan India. Dengan komitmen kemandirian bangsa, maka sekarang ketiga negara tersebut cukup diperhitungkan dalam produk otomotif dan entertaintmentnya.
Tampilkan postingan dengan label Konsep. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Konsep. Tampilkan semua postingan
Selasa, 26 Maret 2013
Minggu, 10 Februari 2013
Keberagaman dan Pertahanan Mentalitas
Bicara keberagaman memang memiliki banyak pandangan dan pendapat. Ada yang berpendapat bahwa keberagaman merupakan cikal bakal keretakan kebersamaan, namun ada pula yang berpendapat bahwa keberagaman merupakan pondasi dari suatu kebersamaan yang abadi. Namun, terkadang pula keberagaman dijadikan alasan untuk melawan atau memanipulasi kenyataan. Sikap tersebut sangat tidak bijak, akan tetapi sering sekali digunakan.
Memang pada dasarnya, keberagaman merupakan unsur yang dapat menguatkan suatu kesatuan dan kebersamaan bila diposisikan dengan tepat. Maksudnya, keberagaman berisikan sebuah perbedaan antara satu individu dengan individu lainnya sehingga perbedaan-perbedaan tersebut dapat saling mengisi kekosongan atau kelemahan individu lainnya. Dengan pola pikiran semacam itu maka keberagaman berada pada posisi yang positif, sebagai lem yang menyatukan.
Ketika keberagaman dijadikan alasan untuk saling menyerang maka keberagaman berada pada posisis yang salah. Keberagaman bukanlah pisau yang dapat mengiris kebersamaan dan kesatuan. Penggunaan keberagaman sebagai alat untuk memecah merupakan cara picik karena tidak setiap individu diciptakan sama. Setiap individu diciptakan dengan segala bentuk perbedaan dan keberagaman. Tidak ada satu individu yang sama persis ataupun diupayakan untuk disamakan. Kehidupan bersama individu yang sama persis akan menjemukan dan menenggelamkan potensi unik dari masing-masing individu manusia.
Selain itu, hal yang sering terjadi ialah menjadikan keberagaman dan perbedaan menjadi sebuah persoalan yang terlihat besar. Padahal, hal itu bukan ancaman terbesar dalam kesatuan dan kebersamaan. Ancaman terbesar ialah runtuhnya kesatuan dan kebersamaan. Ibarat lidi, satu batang tidak akan mampu menyapu debu, namun bila lebih dari satu lidi disatukan dan dibuat menjadi sapu lidi maka akan mampu untuk menyapu debu.
Kondisi melihat keberagaman sebagai sebuah perbedaan merupakan sebuah strategi yang dilakukan oleh oknum-oknum tertentu bertujuan untuk mengecilkan bangsa Indonesia. Hal itu dilakukan karena Indonesia merupakan bangsa yang besar dan sangat berpotensi menunjukkan kedigdayaannya bila semua etnis yang ada di dalamnya dapat bersatu-padu. Bila ada oknum yang selalu menyerukan perbedaan dari keberagaman maka oknum tersebut haruslah dilawan. Hal itu perlu dilakukan agar bangsa ini tidak dijajah secara mentalitasnya.
Bila melihat keadaan saat ini, sudah barang tentu mentalitas bangsa Indonesia, khususnya generasi muda, sudah terkontaminasi oleh serangan budaya dari luar. Begitu derasnya serangan manipulatif tersebut sehingga membuat para pemuda melihat budaya ibu, budaya aslinya, sebagai suatu pemanis berdirinya negara yang bernama Indonesia. Hilangnya pemahaman nilai estetis, norma, etika dan etos budaya lokal mulai nampak perlahan. Memang, hal-hal tersebut bila terlalu dibuat dominan maka akan memunculkan keretakan. Akan tetapi, esensi budaya lokal memiliki dasar jati diri bangsa yang dapat saling berkomunikasi dan saling memahami. Karena keengganan untuk melihat budaya lokal sebagai sebuah pemersatu, maka budaya luarlah yang akhirnya mengisi fungsi tersebut dengan akhir ialah menyeragamkan nilai-nilai dalam mentalitas generasi muda dan memprogramnya sebagai generasi yang terjajah.
Perlu mulai dari saat ini, generasi muda dilatih pola pemikirannya, diberikan pembekalan dari pola penjajahan mentalitas. Perlindungan tersebut dapat dimulai dari hal yang paling sederhana, yakni mulai mengajarkan budaya ibu dan dasar budaya lokal pada para generasi muda. Mulai pengenalan dari bagaimana pola logika budaya lokal. Budaya lokal yang ada di Indonesia memiliki keunikan dalam pola regenerasinya. Pertahankan keunikannya namun kembangkan esensi fleksibilitasnya sehingga dapat terjadi sebuah komunikasi budaya antar budaya lokal di Indonesia. Dengan cara itu, perlahan namun pasti generasi muda di Indonesia dapat diselamatkan dari penjajahan mentalitas dari budaya luar.
Kondisi melihat keberagaman sebagai sebuah perbedaan merupakan sebuah strategi yang dilakukan oleh oknum-oknum tertentu bertujuan untuk mengecilkan bangsa Indonesia. Hal itu dilakukan karena Indonesia merupakan bangsa yang besar dan sangat berpotensi menunjukkan kedigdayaannya bila semua etnis yang ada di dalamnya dapat bersatu-padu. Bila ada oknum yang selalu menyerukan perbedaan dari keberagaman maka oknum tersebut haruslah dilawan. Hal itu perlu dilakukan agar bangsa ini tidak dijajah secara mentalitasnya.
Bila melihat keadaan saat ini, sudah barang tentu mentalitas bangsa Indonesia, khususnya generasi muda, sudah terkontaminasi oleh serangan budaya dari luar. Begitu derasnya serangan manipulatif tersebut sehingga membuat para pemuda melihat budaya ibu, budaya aslinya, sebagai suatu pemanis berdirinya negara yang bernama Indonesia. Hilangnya pemahaman nilai estetis, norma, etika dan etos budaya lokal mulai nampak perlahan. Memang, hal-hal tersebut bila terlalu dibuat dominan maka akan memunculkan keretakan. Akan tetapi, esensi budaya lokal memiliki dasar jati diri bangsa yang dapat saling berkomunikasi dan saling memahami. Karena keengganan untuk melihat budaya lokal sebagai sebuah pemersatu, maka budaya luarlah yang akhirnya mengisi fungsi tersebut dengan akhir ialah menyeragamkan nilai-nilai dalam mentalitas generasi muda dan memprogramnya sebagai generasi yang terjajah.
Perlu mulai dari saat ini, generasi muda dilatih pola pemikirannya, diberikan pembekalan dari pola penjajahan mentalitas. Perlindungan tersebut dapat dimulai dari hal yang paling sederhana, yakni mulai mengajarkan budaya ibu dan dasar budaya lokal pada para generasi muda. Mulai pengenalan dari bagaimana pola logika budaya lokal. Budaya lokal yang ada di Indonesia memiliki keunikan dalam pola regenerasinya. Pertahankan keunikannya namun kembangkan esensi fleksibilitasnya sehingga dapat terjadi sebuah komunikasi budaya antar budaya lokal di Indonesia. Dengan cara itu, perlahan namun pasti generasi muda di Indonesia dapat diselamatkan dari penjajahan mentalitas dari budaya luar.
Sabtu, 26 Januari 2013
Jakarta Dan Solusi
Banjir yang baru melanda Jakarta beberapa waktu lalu sedikit banyak menjadi ujian pertama bagi Gubernur dan Wakil Gubernur Jakarta, Joko Widodo dan Basuki Tjahja Purnama. Sudah menjadi rahasia umum, bila banjir adalah 'penyakit kambuhan' yang sering diderita oleh Jakarta. Bebas banjir adalah salah satu impian dari warga Jakarta. Upaya pencegahan bukan tidak dilakukan oleh Pemerintah Daerah DKI Jakarta, namun terkadang mental warga Jakarta yang tidak disiplin dan menganggap remeh peraturan membuat Jakarta akan selalu diserang banjir. Percuma saja bila Pemda DKI Jakarta bekerja keras menangani banjir bila warganya selalu melanggar peraturan yang ada.
Selain itu, masalah lainnya di Ibukota negara Republik Indonesia tersebut ialah kemacetan lalu lintas. Bila banjir selalu menghantui warga Jakarta kala musim hujan, maka kemacetan lalu lintas dapat diibaratkan tumor yang meradang pada tubuh Jakarta. Hampir sulit ditemukan lalu lintas yang lenggang, terutama pada jam-jam tertentu seperti pagi hari dan sore hari. Pada pagi hari begitu banyak warga Jakarta dan luar Jakarta yang berjejalan masuk ke sentral-sentral kegiatan kota Jakarta untuk bekerja. Belum lagi ditambah banyaknya kendaraan roda dua yang digunakan oleh anak sekolahan untuk bersekolah, baik membawa kendaraan sendiri maupun diantarkan oleh orang tua. Begitu banyaknya kendaraan yang merangsek masuk ke Jakarta akhirnya menyebabkan Jakarta sesak dan sulit bergerak di pagi hari. Hal serupa terulang pada sore hari yang merupakan waktu pulang perkantoran. Jakarta sudah sesak nafas dengan kemacetan lalu lintas.
Kedua masalah itu merupakan penyakit yang meradang di Jakarta. Meskipun demikian, penyakit terselubung pun banyak yang terjadi di Jakarta, seperti premanisme, kemalasan para Pegawai Negara Sipil (PNS), pungli pelayanan masyarakat, pendidikan dan lain sebagainya. Pada akhirnya, semua masalah tersebut haruslah di tuntaskan dengan seksama dan tepat sasaran. Akan tetapi, dari semua masalah Jakarta memanglah kedua masalah di atas, banjir dan kemacetan, adalah masalah yang sangat berpotensi melumpuhkan pergerakan berbagai sektor di Jakarta. Pasalnya, keduanya berhubungan dengan alur transportasi dan alur pergerakan aktifitas masyarakat Jakarta.
Untuk mengatasi kedua masalah tersebut sebenarnya perlu juga sumbangsih warga Jakarta agar dapat mandiri dan tidak melulu bergantung pada pemerintah. Dalam masalah banjir, warga bisa memulai dari hal kecil yakni membuang sampah pada tempatnya. Hal klise yang selalu didengungkan oleh pemerintah dari masa ke masa. Banjir bisa terjadi karena aliran sungai tidak dapat jalan dengan lancar disebabkan oleh sampah-sampah yang menyumbat. Warga juga tidak bisa mengandalkan para tukang sampah dan pemulung untuk membereskan hal itu. Harus wargalah yang bergerak dengan hal-hal kecil saja, seperti mulai untuk tidak membuang sampah ke sumber air.
Hal yang bisa dilakukan lainnya ialah untuk tidak membangun rumah di bantaran sungai. Karena, hal itu akan mengikis pinggir sungai dan menyebabkan saluran air menuju sungai atau kali akan menjadi tersumbat. Selain itu, saluran pembuangan dari rumah juga akan mengarah ke aliran air sehingga membuat aliran air sungai atau kali akan tercemar oleh limbah sehari-hari. Hal itu akan membuat kualitas air bersih di kota Jakarta berkurang. Bila kekurangan sumber air bersih maka jangan heran kalau Jakarta akan selalu didatangi penyakit-penyakit baru yang akan menghantui warganya.
Lalu, warga Jakarta juga harus memelihara daerah resapan air di pekarangan rumah atau di sekitar rumah. Hal itu penting karena mengingat Jakarta sudah jarang memiliki daerah resapan air yang berskala besar maka untuk penanggulangannya ialah adanya daerah resapan air skala kecil namun berjumlah banyak. Resapan air penting untuk meresap air hujan ke tanah sehingga volume air di sungai atau kali dan aliran air lainnya tidak penuh atau mencapai batas maksimum. Selain itu, bila pun terjadi banjir, mungkin akan lebih cepat surut dan bibit penyakit dari genangan air tidak akan bertahan lama. Buatlah, setidaknya, satu atau dua daerah resapan air di lingkungan rumah sehingga akan membuat lingkungan perumahan bisa terbebas dari banjir yang tergenang.
Solusi Kemacetan Lalu Lintas
Kemacetan lalu lintas merupakan momok yang sangat mengganggu warga Jakarta. Pasalnya, karena kemacetan banyak waktu terbuang percuma di jalanan yang seharusnya bisa dimanfaatkan untuk urusan lain, seperti bisnis, pengiriman dokumen penting, pengiriman barang-barang industri dan lain sebagainya. Meski memang, Jakarta bukanlah satu-satunya kota yang padat lalu lintas kendaraannya, akan tetapi sebagai ibukota negara agaknya menjadi suatu hal yang memalukan.
Bila alur laju kendaraan di jalanan memang bisa dikurangi dengan munculnya kendaraan umum untuk rakyat, seperti Busway Transjakarta, Mass Rapid Transportation (MRT), angkutan kota (angkot), dan lain sebagainya. Namun, ada hal lain yang harus diperhatikan, yakni produksi kendaraan pribadi yang bermunculan di jalan raya. Di Jakarta dapat dikatakan cukup banyak kendaraan baru yang bermunculan di jalan raya. Baik dari tipe terbaru maupun tipe lama. Pertambahan itu disebabkan oleh terlalu mudahnya rakyat mendapatkan kendaraan pribadi. Pertambahan tersebut tidak berbanding dengan kapasitas jalan raya di Jakarta sehingga sering terjadi macet pada daerah tertentu dan jam tertentu.
Salah satu penyebab terjadinya perlonjakkan bertambahnya jumlah kendaraan pribadi ialah banyaknya dealer yang bekerjasama dengan perusahaan kredit. Pemberian kemudahan berkredit atas kendaraan menyebabkan masyarakat mementingkan hasrat kebutuhan akan kendaraan pribadinya dengan terlalu mudah, sehingga pertumbuhan jumlah kendaraan di jalan raya meningkat melebihi kapasitas jalan raya. Selain itu, kemudahan pemberian kredit juga membentuk sebuah sisipan karakter konsumtif pada masyarakat Jakarta. Karakter konsumtif tersebut akhirnya menekan logika untuk mempertahankan Jakarta yang kondusif. Orang yang kaya akan berupaya menunjukkan kelasnya dengan membeli kendaraan yang berharga milyaran rupiah. Di sisi lain, orang menengah ke bawah ingin menonjolkan arogansi diri mereka, untuk tidak diremehkan, dengan berupaya keras memiliki kendaraan pribadi. Pembeda antara si miskin dan si kaya bukan karena pemerintah yang membuatnya seperti itu, dengan membuat peraturan semacam three in one ataupun rencana ganjil genap, melainkan rakyat Jakarta sendiri yang ingin menonjolkan diri di jalan raya.
Memang, bila pemerintah akhirnya membatasi kredit maka pemda DKI Jakarta mungkin akan kehilangan pendapatannya dari pajak perusahaan kredit di Jakarta. Namun, apakah pendapatan daerah lebih penting dari kestabilan masyarakat Jakarta? Jakarta sudah tidak kondusif, terlihat bagaimana kemacetan yang sudah menggila. Dengan menghentikan sementara sistem pengkreditan kendaraan pribadi hingga menemukan sistem pengkreditan yang minim kerugian atas peredaran lalu lintas Jakarta, mungkin akan sedikit memperlonggar lalu lintas Jakarta.
Setelah itu, langkah selanjutnya ialah membereskan sistem kepemilikian kendaraan. Maksudnya ialah bukan berarti yang memiliki uang lebih berpotensi memiliki kendaraan pribadi, namun sistem kepemilikian diperketat dengan prasyarat adanya surat izin mengemudi (SIM). Dengan memiliki SIM maka barulah seorang warga Jakarta dapat memiliki kendaraan pribadi. Kenyataan yang terjadi di Jakarta bahwa banyak warga Jakarta yang belum memiliki SIM dapat berlalu-lalang di jalan raya Jakarta. Dengan menerapkan aturan tersebut, prediksi saya, sedikit banyaknya akan mengurangi jumlah kendaraan di jalan raya dan pelanggaran-pelanggaran lalu lintas.
Bila SIM menjadi syarat untuk pengajuan kepemilikian kendaraan pribadi maka akan membuat perindividu warga Jakarta akan berpikir ulang untuk memiliki kendaraan. Cara tersebut akan efektif jika Pemda DKI Jakarta bekerjasama dengan satuan polisi lalu lintas untuk menerapkannya dan warga Jakarta untuk mematuhi serta menjalankannya. Selain SIM, perlu juga ditambahkan surat-surat atau dokumen yang menyatakan bahwa perindividu memiliki penghasilan. Dengan demikian, individu yang ingin memiliki kendaraan pribadi akan sangat terlindungi, baik secara hukum maupun keselamatannya.
Untuk mewujudkan itu semua perlu kedisplinan yang kuat. Baik dari tingkat warga Jakarta, satuan kepolisian di DKI Jakarta, PNS DKI Jakarta, hingga Gubernur dan Petinggi Negara yang berkantor di Jakrta. Pemerintah harus menjadi contoh utama bagi warganya. Bila melihat para pejabat menjalankannya maka dengan sendirinya warga pun akan berangsur-angsur menjalankannya. Karena warga akan mengikuti pemimpin yang memang pantas diikuti.
Sabtu, 15 Januari 2011
Berpikir Cerdas dan Bijak Atas Keberagaman Suku Bangsa
Ketika saya menghadiri pesta pernikahan saudara saya di daerah Ciputat, saya mendapati hal yang menarik dari perbincangan dua orang pria. Dua pria tersebut membicarakan mengenai perbedaan budaya pernikahan antara budaya Jawa dengan pernikahan saudara saya yang menggunakan adat Sunda. Salah satu pria terkesan sangat anti dengan budaya Jawa, karena dalam perbincangan tersebut, ia tetap tidak bisa berterima atas pembicaraan mengenai lagu pernikahan budaya Jawa.
Dari perbincangan tersebut, jelas terlihat bahwa pria yang terkesan anti dengan budaya Jawa tidak mau membuka diri terhadap budaya lain selain budayanya sendiri. Sikap seperti itu merupakan sikap yang tidak baik dan cenderung picik. Sikap picik tersebut jika dibiarkan akan menjadi virus yang menularkan anti keberagaman budaya di Indonesia. Padahal, keberagaman budaya merupakan kekuatan Indonesia untuk berkembang menjadi lebih maju.
Seharusnya, dalam menyikapi keberagaman budaya Indonesia tidak dengan picik, melainkan dengan cara cerdas dan bijak. Cerdas dalam menelaah keberagaman, maksudnya ialah dalam menghadapi keberagaman budaya di Indonesia, diri kita jangan sampai melihat perbedaan antar budayanya saja, melainkan juga persamaan dan potensi yang dimiliki oleh budaya lokal Indonesia. Budaya lokal Indonesia pada dasarnya memiliki potensi besar untuk menjadi pijakan kemajuan bangsa. Karena, budaya lokal Indonesia memiliki beragam pengetahuan dan karya yang dapat dikembangkan. Misalnya, pengetahuan suku Jawa atas sikap seorang pemimpin yang baik dapat menjadi bahan untuk mengembangkan diri pada karir seseorang, atau teknologi pembuatan kain songket dari suku Batak dapat menjadi bahan untuk berkespresi dan berinovasi pada fashion sehari-hari guna membuat percaya diri.
Selain berpikir cerdas, kita juga harus mampu berpikir bijak dalam menyikapi perbedaan adat. Maksudnya ialah, dalam menghadapi beragam orang tiap harinya, kita akan dihadapkan kepada situasi untuk memilih bagaimana untuk bersikap. Tiap suku mempunyai kriteria sikap baik yang serupa tapi tak sama. Misalnya, bagi orang Jawa, berteriak-teriak memanggil seseorang merupakan sikap yang tak sopan, namun di suku lain belum tentu seperti itu, atau ketika seseorang meninggal, dalam budaya Batak akan diadakan semacam pesta pemakaman yang sangat berbeda dengan tradisi suku lainnya. Jadi, kita harus mampu menyikapi dengan bijak perbedaan yang ada.
Potensi-potensi semacam itu harus dikembangkan. Karena, potensi-potensi tersebut jarang dimiliki oleh negara lain. Indonesia sangatlah beruntung memiliki keberagaman budaya lokal. Keberagaman tersebutlah potensi keunggulan Indonesia. Namun, keunggulan tersebut hanya akan menjadi wacana jika pribadi dari masyarakat Indonesia tidak open minded atau memiliki pikiran yang terbuka, sungguh disayangkan memang.
Bhinneka Tunggal Ika
Berbeda-beda namun satu jua, itulah Bhinneka Tunggal Ika. Inti dari ungkapan tersebut ialah keberagaman suku bangsa di Indonesia janganlah menjadi alasan perpecahan, melainkan harus menjadi alasan pemersatu bangsa. Selain itu, ungkapan tersebut juga berisikan sebuah harapan agar Indonesia yang memiliki keberagaman suku bangsa mampu bersatu-padu memajukan negeri ini bersama-sama.
Setiap suku bangsa yang ada di Indonesia memiliki andil untuk memajukan bangsa ini. Tidak ada yang lebih unggul, tidak ada yang lebih baik, dan tidak ada yang lebih dari yang lain. Setiap suku bangsa di Indonesia memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Misalnya, orang Padang memang memiliki bakat dagang yang lebih baik dari suku lainnya, dan orang Papua memiliki tenaga yang lebih unggul dari suku lainnya. Perbedaan keunggulan tersebut seharusnya dapat saling digunakan untuk kemajuan bersama. Dengan bakat dagang orang Padang dan tenaga yang kuat orang Papua, kita dapat membuat sebuah perusahaan penyedia Sumber Daya Manusia (SDM).
Contoh lainnya, orang Jawa memiliki kelebihan kepekaan rasa, dan orang Batak rata-rata mampu bernyanyi dengan indah. Jika orang Jawa menciptakan lagu dan dinyanyikan oleh orang Batak, maka akan menghasilkan lagu yang menyentuh rasa dengan suara penuh keindahan. Mungkin kedua contoh tersebut merupakan contoh yang berasal dari asumsi pribadi saya. Akan tetapi, maksud saya dari memberikan kedua contoh tersebut ialah saya ingin memberikan gambaran mengenai kerja sama antar suku bangsa di Indonesia yang seharusnya terjadi, bukan penjibiran antar suku bangsa.
Inti dari posting saya ini adalah jangan sampai keberagaman suku bangsa dan budaya di Indonesia menjadi pemecah persatua. Seharusnya, keberagaman tersebut menjadi kekuatan pemersatu bangsa. Jangan sampai kita berpikiran picik dan sempit, melainkan harus berpikir cerdas dan bijak.
Dari perbincangan tersebut, jelas terlihat bahwa pria yang terkesan anti dengan budaya Jawa tidak mau membuka diri terhadap budaya lain selain budayanya sendiri. Sikap seperti itu merupakan sikap yang tidak baik dan cenderung picik. Sikap picik tersebut jika dibiarkan akan menjadi virus yang menularkan anti keberagaman budaya di Indonesia. Padahal, keberagaman budaya merupakan kekuatan Indonesia untuk berkembang menjadi lebih maju.
Seharusnya, dalam menyikapi keberagaman budaya Indonesia tidak dengan picik, melainkan dengan cara cerdas dan bijak. Cerdas dalam menelaah keberagaman, maksudnya ialah dalam menghadapi keberagaman budaya di Indonesia, diri kita jangan sampai melihat perbedaan antar budayanya saja, melainkan juga persamaan dan potensi yang dimiliki oleh budaya lokal Indonesia. Budaya lokal Indonesia pada dasarnya memiliki potensi besar untuk menjadi pijakan kemajuan bangsa. Karena, budaya lokal Indonesia memiliki beragam pengetahuan dan karya yang dapat dikembangkan. Misalnya, pengetahuan suku Jawa atas sikap seorang pemimpin yang baik dapat menjadi bahan untuk mengembangkan diri pada karir seseorang, atau teknologi pembuatan kain songket dari suku Batak dapat menjadi bahan untuk berkespresi dan berinovasi pada fashion sehari-hari guna membuat percaya diri.
Selain berpikir cerdas, kita juga harus mampu berpikir bijak dalam menyikapi perbedaan adat. Maksudnya ialah, dalam menghadapi beragam orang tiap harinya, kita akan dihadapkan kepada situasi untuk memilih bagaimana untuk bersikap. Tiap suku mempunyai kriteria sikap baik yang serupa tapi tak sama. Misalnya, bagi orang Jawa, berteriak-teriak memanggil seseorang merupakan sikap yang tak sopan, namun di suku lain belum tentu seperti itu, atau ketika seseorang meninggal, dalam budaya Batak akan diadakan semacam pesta pemakaman yang sangat berbeda dengan tradisi suku lainnya. Jadi, kita harus mampu menyikapi dengan bijak perbedaan yang ada.
Potensi-potensi semacam itu harus dikembangkan. Karena, potensi-potensi tersebut jarang dimiliki oleh negara lain. Indonesia sangatlah beruntung memiliki keberagaman budaya lokal. Keberagaman tersebutlah potensi keunggulan Indonesia. Namun, keunggulan tersebut hanya akan menjadi wacana jika pribadi dari masyarakat Indonesia tidak open minded atau memiliki pikiran yang terbuka, sungguh disayangkan memang.
Bhinneka Tunggal Ika
Berbeda-beda namun satu jua, itulah Bhinneka Tunggal Ika. Inti dari ungkapan tersebut ialah keberagaman suku bangsa di Indonesia janganlah menjadi alasan perpecahan, melainkan harus menjadi alasan pemersatu bangsa. Selain itu, ungkapan tersebut juga berisikan sebuah harapan agar Indonesia yang memiliki keberagaman suku bangsa mampu bersatu-padu memajukan negeri ini bersama-sama.
Setiap suku bangsa yang ada di Indonesia memiliki andil untuk memajukan bangsa ini. Tidak ada yang lebih unggul, tidak ada yang lebih baik, dan tidak ada yang lebih dari yang lain. Setiap suku bangsa di Indonesia memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Misalnya, orang Padang memang memiliki bakat dagang yang lebih baik dari suku lainnya, dan orang Papua memiliki tenaga yang lebih unggul dari suku lainnya. Perbedaan keunggulan tersebut seharusnya dapat saling digunakan untuk kemajuan bersama. Dengan bakat dagang orang Padang dan tenaga yang kuat orang Papua, kita dapat membuat sebuah perusahaan penyedia Sumber Daya Manusia (SDM).
Contoh lainnya, orang Jawa memiliki kelebihan kepekaan rasa, dan orang Batak rata-rata mampu bernyanyi dengan indah. Jika orang Jawa menciptakan lagu dan dinyanyikan oleh orang Batak, maka akan menghasilkan lagu yang menyentuh rasa dengan suara penuh keindahan. Mungkin kedua contoh tersebut merupakan contoh yang berasal dari asumsi pribadi saya. Akan tetapi, maksud saya dari memberikan kedua contoh tersebut ialah saya ingin memberikan gambaran mengenai kerja sama antar suku bangsa di Indonesia yang seharusnya terjadi, bukan penjibiran antar suku bangsa.
Inti dari posting saya ini adalah jangan sampai keberagaman suku bangsa dan budaya di Indonesia menjadi pemecah persatua. Seharusnya, keberagaman tersebut menjadi kekuatan pemersatu bangsa. Jangan sampai kita berpikiran picik dan sempit, melainkan harus berpikir cerdas dan bijak.
Langganan:
Postingan (Atom)