Tampilkan postingan dengan label sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sastra. Tampilkan semua postingan

Minggu, 24 Februari 2013

Manusia Di Bumi

Manusia di bumi terlahir sama
Tak ada pembeda, meski berbeda
Semua sama, tak ada miskin atau kaya
Hanya satu pembeda
Cara menghidupi hidup dalam keunikan dunia

Manusia di bumi tercipta atas cinta
Buah cinta sepasang manusia
Dengan karunia Tuhan Maha Penguasa
Cinta yang tulus tiada tara
Murni, bila dijaga dengan nurani terdalam manusia

Manusia di bumi tercerahkan dari pengetahuan dunia
Ilmu dari buah pengalaman manusia
Pengetahuan dari tanda-tanda alam semesta
Diolah dalam konsep di kepala
Diujarkan dengan retorika

Manusia di bumi, keberagaman membentuk kesatuan semesta
Pondasi nafas hakiki kehidupan peradaban dunia
Baik yang kelam maupun bercahaya
Manusia adalah manusia
Dinamis dalam evolusi tak berhenti, berkutat penuhi jelujur konsep di kepala
Menuangkan dalam kanvas, ilmu baru terus lahir bergantian dalam tiap generasi manusia

Manusia di bumi
Makhluk mendekati
Kesempurnaan hakiki
Dengan dinamika kekurangan di satu hari
Dan kelebihan di lain hari
Manusia di bumi
Diciptakan untuk bermimpi
Berkreasi mewujudkan mimpi
Melalui ancangan imaji
Bukan sekedar kesenangan dalam fantasi

Manusia di bumi
Kebanggaan pertiwi
Buah hasil kimiawi
Diberkahi hati
Untuk digunakannya nurani
Dalam memandang kegoncangan yang menanti
Di depan nanti
Di masa depan yang dinanti
Manusia adalah makhluk terberkahi

Senin, 04 Februari 2013

Pemuda, Nasib dan Kenyataan

Lidah ini kelu sejuta asa
Tak dapat meramu ucapan sedemikian rupa
Sehingga dapat menghibur sekumpulan pemuda
Di sebuah peraduan nasib dan kenyataan

Para pemuda tak ikhlas hati
Para pemuda berperang nurani
Membawa sebongkah igauan hakiki
Guna menyebulkan nasib dan kenyataan

Sungguh, melodi lagu itu
Sudah tak terdengar merdu
Lagu itu menjelma jadi sebuah gerutu
Akan kesialan nasib dan kenyataan

Sudah beberapa sore
Mengaumkan deritanya dalam aliran sake
Pemuda mabuk dan serasa sial tertusuk sate
Mereka murka salahkan nasib dan kenyataan

Mereka terdiam memandang sebuah foto
Mereka lupa bahwa leluhur pernah tersohor
Pemuda lupa dan meraung karena sebuah foto
Penyesalan mereka atas nasib dan kenyataan

Perempuan dan Kesedihannya

Pelangi indah di mata itu
Isyarat hujan kegundahan
Dalam palung hati seorang perempuan

Ia, perempuan idaman
Ia, perempuan harapan
Tak sanggup menatap rembulan
Karena matanya terkubangkan air mata yang tak mau dikeluarkan

Wajahnya sengaja tak dipalingkan
Karena ia ingin dunia menatap kesedihan
Dari rona wajah yang memucat dan penuh kerutan
Ia, perempuan yang syarat akan duka dalam hati penuh pergolakan

Dunia tak sadar akan dirinya
Tanah yang dipijaknya sudah lelah membantunya
Dan kini, tak ada yang memperhatikannya

Rabu, 23 Januari 2013

Kajian Alih Wahana Dalam Persepolis: Masa Kanak-Kanak Tokoh Marjane




Suatu karya sastra atau seni memiliki media atau wahana yang digunakan untuk dapat diapresiasikan. Sebuah novel menggunakan wahana teks, film menggunakan gambar ‘bergerak’, komik menggunakan gambar ‘diam’, dan tari menggunakan gerak tubuh. Penggunaan wahana suatu karya juga dapat berpindah—misalnya dari novel ke film atau komik ke film—dengan judul yang sama atau pengadopsian suatu karya dari suatu wahan ke wahana lainnya. Perpindahan wahana suatu karya tersebut dapat dikatakan sebagai alih wahana.
            Sapardi Djoko Damono dalam bukunya Sastra Bandingan (2009: 121) menyatakan bahwa alih wahana adalah perubahan dari satu kesenian ke jenis kesenian lain. Perubahan tersebut tidak terbatas pada satu atau dua jenis karya. Damono juga menyatakan bahwa karya sastra tidak hanya diterjemahkan dari satu bahasa ke bahasa lainnya, tetapi juga dialihwahanakan atau diubah menjadi kesenian lainnya. Berdasarkan pernyataan tersebut maka dapat dikatakan bahwa suatu karya dapat berubah wahana dari satu wahana ke wahana lainnya, tidak terbatas pada satu arah alih wahana melainkan juga dapat berubah ke berbagai macam bentuk—misalnya, dari karya sastra dapat menjadi film atau komik dan juga dari film menjadi karya sastra atau komik.
            Salah satu karya yang mendapat proses alih wahana ialah Persepolis karya Marjane Satrapi. Persepolis mengisahkan tentang kisah hidup seorang anak perempuan keturunan Iran yang bernama Marjane. Ia dilahirkan di Teheran, Iran. Marjane hidup bersama kedua orang tuanya dan neneknya di sebuah apartemen di Teheran. Kehidupannya mengalami banyak pergolakan, karena ia hidup di masa transisi kekuasaan di Iran. Transisi kekuasaan tersebut akhirnya memaksanya untuk keluar dari Iran dan menuju Eropa. Pergolakan dalam dirinya terus berlangsung di Eropa dan akhirnya ia kembali ke Teheran. Setelah menetap kembali di Teheran, ia malah mengalami sebuah fase adaptasi kembali dan akhirnya ia pergi ke Prancis.

Persepolis: Masa Kanak-Kanak Marjane Dalam Novel Grafis dan Film Animasi
            Karya cerita rekaan Persepolis pertama kali muncul dalam wahana novel grafis pada tahun 2000. Kisah tersebut dalam wahana novel grafis terbagi atas empat buku yang terbit secara berurut dari tahun 2000 hingga 2003. Pada tahun 2007, Persepolis akhirnya dibuatkan versi film animasinya.
            Dalam proses peralihwahanaan karya tersebut—dari novel grafis ke film animasi—terdapat beberapa perubahan. Perubahan tersebut didasari bahwa dalam pengalihwahanaan suatu karya perlu adaptasi dari wahana aslinya ke wahana yang baru. Perpindahan wahana (media) mencakup empat modalitas (Lars Ellestrom 2010: 15), yakni modalitas materi, modalitas panca indera, modalitas ruang temporal, dan modalitas semiotik. Lars Ellestrom dalam tulisannya The Modalities of Media: A Model For Understanding Intermedial Relation (2010) menyatakan bahwa ‘Media and art forms are constantly being described and defined on the basis of one or more of these modalities. The categories of materiality, time and space, the visual and the auditory, and natural and conventional sign, have been reshaped over and over again, but they tend to be mixed up in fundamental ways... [Media dan bentuk seni yang terus-menerus digambarkan dan didefinisikan berdasarkan satu atau lebih dari modalitas. Kategori-kategori dari materialitas, waktu dan ruang, visual dan auditori, dan tanda alam dan konvensional, telah dibentuk kembali lagi dan lagi, tetapi mereka cenderung terlibat dalam cara yang mendasar...]. Dari pernyataan tersebut dapat dipahami bahwa dalam perubahan wahana ada unsur-unsur yang menjadi alasan perubahan-perubahan pada wahana karya yang baru. Hal tersebut terkait dengan materialitas, fisik, dan segi tanda.
            Dalam Persepolis, perubahan terjadi pada alur cerita. Pada versi novel grafisnya, pengkisahan dimulai pada penggambaran suasana sosial di Teheran pada Marjane berumur sepuluh tahun, sedangkan pada film animasinya, kisah dimulai pada saat Marjane dewasa dan berada di bandar udara Perancis. Pada versi novel grafisnya, latar belakang tokoh Marjane dijelaskan secara detil. Ia berasal dari keluarga Iran modern yang kedua orang tuanya merupakan aktifis revolusi Iran. Penandaan bahwa orang tua Marjane adalah bagian dari aktifis revolusi terlihat dari penggambaran dalam cerita yang mengisahkan keduanya sedang berjuang untuk revolusi, baik dari segi ideologi maupun gerakan-gerakannya, seperti menjadi demonstran, jurnalis foto, dan lain sebagainya.
Selain itu, juga dijelaskan kondisi politik pada masa tokoh Marjane lahir di Iran. Kondisi politik yang mendesak pemerintahan saat itu untuk mundur dan beralih peradaban menjadi demokrasi—yang tadinya berupa kerajaan. Penjelasan kondisi politik tersebut terdapat pada bagian diskusi Marjane kecil dengan ayahnya. Pada diskusi tersebut, ayahnya menceritakan asal-muasal kondisi politik yang ada di Iran secara detil kepada Marjane. Mulai dari awal hingga pada kondisi yang dirasakan pada saat ayahnya dan Marjane sedang berdiskusi. Lalu, juga penjelasan mengenai nasib kakek dari Marjane yang akhirnya dipenjara karena pandangan politiknya. Kondisi kakeknya divisualisasi dan tokoh kakek pun hadir dalam versi novel grafis tersebut.
Penjelasan detil juga tampak pada pergolakan Marjane kecil. Digambarkan bagaimana Marjane yang merasa bahwa dirinya adalah seorang Nabi dan mengatakannya kepada gurunya di sekolah. Selain itu, imaji Marjane kecil tentang tokoh-tokoh revolusi dunia dan pandangan Marjane kecil tentang pergolakan politik juga diceritakan dalam novel grafisnya. Simbol-simbol yang digunakan salah satunya ialah digambarkannya diskusi antara Rene Descrates dan Karl Marx dalam sebuah bagian dalam novel grafis tersebut. Dengan kata lain, penggambaran politik Iran pada masa Marjane kecil sangat detil dan dibuat secara kronologis.
            Sedangkan dalam film animasinya, penjelasan latar belakang kedua orang tuanya—yang merupakan aktifis revolusi—visualisasikan dalam hubungan kedua orang tuanya terhadap tokoh-tokoh revolusi atau aktifis Iran. Fase penceritaan asal-muasal kondisi politik Iran digambarkan dalam ilustrasi pendongengan ayah ke anak. Selain itu, pandangan-pandangan politik Marjane kecil juga tidak dijelaskan secara detil. Beberapa tokoh pun ada yang dihilangkan secara visualisasi, salah satunya ialah tokoh kakek Marjane dan Rene Descartes.
            Nuansa pemikiran-pemikiran revolusi Iran pun tidak terlalu dijelaskan secara detil. Hanya beberapa bagian yang berasal dari penjelasan beberapa tokoh. Pergolakan batin dari Marjane kecil juga diperhalus dengan tidak terlalu dimasukan bagian-bagian penjelasan alur pergerakan revolusi. Selain itu, penceritaannya kurang kronologis dari versi novel grafisnya.
            Perubahan-perubahan yang terjadi dalam film animasinya disebabkan material dalam film tidak dapat menyamai material dalam novel grafis. Dalam novel grafisnya, pembabagan materi penceritaan tersusun dengan jelas karena tidak ada batasan waktu dan ruang, sedangkan dalam film terbatas pada durasi film keseluruhan—pengkisahan Marjane remaja dan dewasa. Selain itu, penjelasan detil dalam novel grafisnya diperlukan untuk memunculkan emosi-emosi yang hanya tervisualisasikan dalam bentuk gambar dan tulisan, sedangkan dalam film, efek emosi dan dramatikalnya dapat dibantu oleh penambahan musik latar.
            Penjelasan detil dalam novel grafisnya juga berkaitan dengan pemaknaan tanda yang lebih memiliki kemungkinan ambiguitas makna, sedangkan dalam film, ambiguitas makna dapat ditutupi oleh audio (suara dan intonasi dialog).[1] Hal tersebut berkaitan dengan bahasa tulis dalam novel grafis memiliki otonomi dan tidak sekedar derivat dari bahasa lisan.[2] Jadi, dalam novel grafisnya diperlukan penjelasan detil agar tidak terjadi pemaknaan ganda—meskipun ada gambar, namun gambar juga dapat memiliki makna ganda jika tidak disertai gerakan nyata yang menjadi pengarah makna.

Kesimpulan
            Persepolis dalam wahana novel grafis dan film animasinya memiliki perbedaan yang didasari oleh beberapa faktor. Faktor pertama ialah modalitas materi yang berbeda. Jika dalam novel grafis tidak dibatasi oleh durasi, maka dalam film dibatasi oleh durasi film. Faktor kedua ialah modalitas panca indra (visual dan audio visual). Dalam novel grafis, penggambaran cerita dalam novel grafis harus disertai oleh penjelasan yang detil untuk membangkitkan emosi dan dramatikal cerita—karena hanya berupa tulisan dan gambar ‘diam’—sedangkan dalam film, efek tersebut dapat dimunculkan melalu musik latar, intonasi dialog, dan gambar ‘bergerak’ yang menunjukan pemaknaan adegan. Faktor ketiga dan keempat ialah modalitas ruang temporal dan semiotik. Kedua faktor tersebut berkaitan dengan pemaknaan cerita. Jika dalam novel grafis ada dapat muncul ambiguitas makna cerita—jika tidak dijelaskan detil—maka dalam film ambiguitas makna tersebut tertutupi oleh audio (suara, intonasi dialog, dan musik latar).



Daftar Referensi
Damono, Sapardi Djoko. 2009. Sastra Bandingan. Jakarta: Editum.
Ellestrom, Lars (ed). 2010. Media Borders, Multymodality, and Intermediality. Hampshire: Pallgrave Macmillan.
Hoed, Benny H. 2011. Semiotik dan Dinamika Sosial Budaya. Depok: Komunitas Bambu.
http://en.wikipedia.org/wiki/Marjane_Satrapi dilihat pada tanggal 8 April 2012 jam 23.30 WIB.


[1] Melalui media audio (suara, intonasi dialog, dan musik latar) maka dapat memberikan sebuah penegas makna dari penafsiran suatu cerita.
[2] Pandangan mengenai tulisan memilki otonomi merupakan pandangan Jaques Derrida. Ia berpendapat bahwa tulisan merupakan bahasa yang memenuhi dirinya sendiri tanpa tergantung pada bahasa lisan. Benny H Hoed. Semiotik dan Dinamika Sosial Budaya. (Depok: Komunitas Bambu, 2011). Hlm. 75.

Rabu, 05 Desember 2012

Deru Sendu

Ingin aku mencoba
Menjadi air yang mengalir
Namun selalu berakhir jadi limbah

Ingin aku mencoba
Menjadi udara yang berhembus
Namun selalu berkelok bagai asap polusi

Ingin aku mencoba
Menjadi pupuk yang tertanam
Namun selalu mengendap jadi racun kimiawi

Belumlah aku menemukan
Jadi apakah aku ini
Menjadi nafas bagi kehidupan
Atau menjadi arit yang mengambil kehidupan

Diskusi Pada Debu 1

Terkadang terpikir olehku
Bagaimana bisa bumi berputar pada porosnya?
Tanpa aku merasakan pergerakannya
Dan hanya bumi, tumbuhan, serta binatang yang mampu merasakannya

Apakah aku ada di bumi?
Atau sekedar rekayasa?
Tak pernah terpikir lelah olehku
Hanya sekelebatan dan pergi bersama angin

Begitu pula dengan hasrat
Betapa aku tak pernah tahu apa itu hasrat
Bentuk rupanya, datang dan perginya
Datang tidak ada tanda, pergi pun sekenanya

Hanya dedaunan runtuh yang selalu menyadarkan aku
Bahwa aku nyata, dapat menggenggamnya
Meski akhirnya aku menghancurkan daun runtuh itu
Dalam genggaman setengah lembut kekuatannya

Berpalang pada tanya dan bersanggah pada seru
Aku menikmati dan melarikan diri
Dari makna keberadaanku
Di atas bumi yang berputar pada porosnya

Minggu, 02 Desember 2012

Sendu 1

Bermukim pada kedukaan
Bukan sebuah kenangan antara hidup dan mati
Berjalan di atas titian kepekaan
Bukan sebuah paksaan memahami

Senja dan subuh
Di antara perantara waktu dunia
Leleh dan luluh
Bersenda gurau dalam kelangkaan kemanusiaan

Pohon layu dan bibit tumbuh
Waktu berjalan, waktu berlalu
Sunyi dan ramai pun bersebrangan
Hanya selalu bersandingan sambil lalu
Bernadi di atas tubuh
Dunia bermandikan sahaja kedukaan semu

Sampai nanti, sampai tubuh ini luluh
Hanya kepada angin dan awan
Cerah hari akan ku bagikan

Minggu, 12 Agustus 2012

Jejak Kehidupan (2)

Biarkan senja menjadi narator kenangan kita bersama
Biarkan ia membacakan bait-bait keberadaan kita
Agar dunia mengerti, betapa jalur kehidupan kita
Bertemu dalam sebuah rangkulan hangat, sebuah bukti kita keluarga

Candamu, menjadi awan teduh bagiku
Candaku, menjadi angin sejuk bagimu
Kebahagiaan hakiki, kebahagiaan bersama

Sedihmu, menjadi sesak di hatiku
Sedihku, menjadi peretak di hatimu
Kesedihan hakiki, kesedihan berpeluk kasih

Bilamana hari itu datang
Biarkan senja mengisahkan kisah kita
Pada generasi mendatang
Agar kebersamaan ini menjadi abadi dalam kebersamaan mereka

Tiada awan kelabu mampu palingkan ikatan ini
Tiada badai berdecit mampu putuskan genggaman tangan ini
Karena aku dan engkau, berpeluh bersama dalam kesenangan dan kedukaan
Saling memaknai maksud keberadaan diri dalam keberbedaan

Jejak Kehidupan (1)

Suara-suara yang bergumul dalam benak
Saling berpeluh dalam jenuh sejenak
Palung kehidupan yang berorasi
Di tiap jengkal selaksa nafas hakiki

Perlahan hutan pun berdendang
Mengumandangkan seru-seru kehidupan
Benak yang dianugerahi perlu bersenang
Agar penat jenuh berlalu dengan kelegaan

Kumandang hutan bermakna jejak di atas bumi
Berdecak kagum pada goresan tarian pena
Dari jemari manusia mengukir kisah terkasihi
Di dalam aliran kenangan hati

Serukanlah, walau hanya sedetik
Kumandang itu, agar se-antero jagad memaknainya
Menjadi sebuah kisahan termegah dan terbaik
Menjadi jelmaan kisah hidup yang terus terpandangi di antara jejak lainnya

Serukanlah, walau hanya dengan sejengkal suara
Kumandangkan itu, agar dirimu tak menyesal nantinya
Bilamana nafasmu sudah beradu di peraduan nyawa
Bilamana belum sempatlah dirimu mengabadikan bukti dirimu ada di dunia

Rabu, 08 Agustus 2012

Mimpi Yang Sempurna


Manusia hidup bersama mimpinya. Manusia hidup dengan menghidupi mimpinya. Mimpi menjadi bahan bakar menuju sebuah kebanggaan seorang manusia. Malam menjadi bunga sketsa merancang mimpi dan pagi menjadi arena pertarungan untuk mewujudkan mimpi. Tak pelak, deru nafas yang berjenjang ini selalu aku mempercayai mimpi.

Rasa percayaku akan mimpi bermula dari dongeng seorang kakek penjaga sekolahku, Pak Sugiman namanya. Asal Kebumen, beranak tiga, dan ia membesarkan anak-anaknya sendiri karena istrinya meninggal setelah kelahiran anak ketiganya. Persahabatanku dengan Pak Giman, panggilan akrab Pak Sugiman, berawal kala aku menginjak kelas 1 SMA. Saat itu, aku tengah duduk berpangku di sudut tangga sekolah, menahan isak tangis karena sekelompok teman-teman sekelas—yang merupakan anak bengal di kelas—memperolok diriku karena aku berbadan gemuk gempal. Selalu setiap hari, aku selalu menjadi bahan tertawaan. Selalu dibilang lamban, menyusahkan, dan tidak akan pernah sukses dalam hidup.

Sendiri dengan isak tangis yang sunyi dan air mata menetes perlahan, aku terduduk diam hingga sore menjelang. Aku enggan pulang, aku merasa malu untuk berjalan pulang, karena aku gemuk. Sungguh, aku merasa sudah tidak tahan dengan hidupku dan ingin rasanya mengakhiri hidupku. Saat sepiku berpeluh air mata, sesosok bayangan menutupi cahaya lampu tangga. Aku menoleh ke belakang, ternyata Pak Giman berdiri di belakangku. Ia berdiri tegap dengan kaus oblong dan celana lusuhnya. Dengan sapu lidi di tangan kanannya dan tong sampah besar di tangan kirinya, ia menatapku dengan hangat.

“Sedang apa le?”, tanya Pak Giman. “Kok belum pulang?”

“Ah, Pak Giman, tidak apa-apa”, jawabku dengan menyeka air mata yang membekas.

Ana apa ta le? Kok menangis”

Mendengar pertanyaan itu aku terdiam. Lalu, dengan sedikit berpaling muka aku menjawab, “Tidak ada apa-apa kok pak”.

Ya Wis le, kalau ada hal yang mengganjal hati, jangan ragu cerita sama bapak. Bapak ini walau sudah tua, setidaknya masih bisa menjadi pendengar yang baik. Ya”, ujarnya dengan senyum lebar. “Kamu pulanglah, sudah sore besok pasti harus berangkat pagi kan?”.

“Iya pak”, lalu aku meninggalkan Pak Giman dengan tanpa berpamitan meski lewat pandangan mata.

***

Suatu hari, aku sudah tidak tahan akan perlakuan teman-temanku yang selalu memperolokku. Aku melawannya, dan mendorong temanku sebelum keluar kelas untuk pulang. Karena perlawananku itu, mereka melawan dan menyeretku menuju kamar mandi sekolah.

Aku dikerumuni lima orang. Mereka merupakan anak-anak bengal yang ada di kelasku. Mereka berkuasa di kelas dan tak ada satu pun anak yang berani melawan mereka. Wajah mereka kesal, karena aku melawan dari kekuasaan mereka dan membuat mereka malu di depan kelas. Akhirnya, satu persatu dari mereka memukuliku.

Di tengah mereka dengan asyiknya memukuliku, tiba-tiba salah satu di antara mereka ada yang menarik dan melemparnya kepada yang lainnya. Hingga akhirnya pukulan mereka berhenti. Ternyata yang datang ialah Pak Giman.

“Sudah merasa jago kalian?”, geram Pak Giman. “Akan saya laporkan ke kepala sekolah nanti”.

“Eh, penjaga sekolah macem-macem, kami yang bayar sekolahan jadi penjaga sekolah itu sama saja kami yang bayar”, tantang salah satu temanku.

“Oo, bocah kemarin sore sudah kurang ajar, maaf saja, rezeki itu bukan datang dari kamu, tapi dari Tuhan, meskipun saya dipecat, nama baik saya tidak akan berpengaruh apa-apa, tapi orang tua kalian akan malu seumur hidup”, jawab Pak Giman dengan lantang.

Mendengar jawaban Pak Giman yang berani membuat teman-teman yang mengeroyokku geram tapi mereka tak berani dan meninggalkan kami berdua.

“Kamu tidak apa-apa le?”, tanya Pak Giman padaku.

“Tidak apa-apa pak”, jawabku dengan mencoba berdiri “Terima kasih pak”. Aku berdiri dan berjalan keluar.

Le, tunggu sebentar”, panggil Pak Giman. “Biar bapak antar kamu pulang, takutnya para begundal itu akan menyegatmu di depan sana”.

Mendengar tawaran Pak Giman membuatku sedikit bimbang untuk pulang ke rumah. Pertimbangannya ada benarnya dalam benakku. “Baik pak, maaf kalau saya merepotkan”, jawabku menerima tawaran Pak Giman.

“Oia le, aku belum sempat mengenal namamu, siapa namamu le?”, tanya PaK Giman dengan Ramah.

“Umm, namaku Arya pak”, jawabku dengan suara lelah karena sedang menahan sakit sisa dari pemukulan teman-temanku itu.

Lalu kami berdua berjalan keluar dan Pak Giman menyertaiku hingga aku naik ke dalam angkutan umum. Di dalam mobil angkutan umum, entah mengapa aku merasa ada kehangatan yang berasal dari perhatian Pak Giman padaku.

***

Esok harinya, di kelas aku sudah tidak merasa nyaman, karena teman-temanku yang kemarin mengerjaiku memandangku dengan tatapan dendam. Selama jam pelajaran aku berkeringat dingin dan ketakutan. Aku pun panik, karena jam pelajaran akan usai dan berganti jam istirahat. Suara bell yang menggelegar membuatku pucat pasih dan sudah mulai terdengar sorak-sorai kecil dari kelompok anak bengal itu.

Sebelum guru keluar kelas, tiba-tiba Pak Giman datang dan meminta izin untuk masuk ke kelas pada guruku. Aku tak tahu apa yang mereka berdua bicarakan di depan kelas. “Arya, kamu ikut Pak Giman keluar ya, orang tuamu datang di bawah dan mencarimu. Katanya ada urusan penting”, ujar guruku.

Mendengar perkataan guruku itu, aku bingung. “Baik bu”, jawabku keheranan. Aku pun tak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk keluar kelas karena ingin menghindari teman-temanku yang ingin kembali menyiksaku. Lalu aku mengikuti Pak Giman keluar kelas dan menuju warung di luar sekolah.

“Maaf Pak Giman, kenapa kita ke sini? Dan apakah orang tuaku ada di warung ini?”, tanyaku keheranan.

Pak Giman tersenyum. “Maaf ya le, bapak bohong, bapak sengaja membawa kamu ke warung ini untuk mengamankanmu dari pengeroyokmu yang kemarin, sebab tadi pagi bapak tidak sengaja mendengar mereka berkumpul dan merencanakan untuk menjahilimu lagi”, jelas Pak Giman.

Jawaban Pak Giman tersebut membuatku merasa bahwa kini aku tidak sendiri di sekolah. “Umm, terima kasih pak, sudah dua kali bapak menolong saya”, ujarku.

“Oh, tak usah sungkan le, ini minum es blewah, di warung ini es ini rasanya enak loh”, ujar Pak Giman sembari menyodorkan segelas es blewah padaku. Kami pun bercengkrama dan menjadi sahabat. Sejak saat itu, aku tidak pernah takut lagi di sekolah. Aku pun berani melawan jika ada yang mencercaku, karena aku yakin di belakangku ada yang mendukungku. Aku dan dan Pak Giman sering bertukar cerita. Ia sering sekali menceritakan kampungnya, cerita wayang yang dikisahkan turun temurun dari orang tuanya, hingga menceritakan ketiga buah hatinya di kampung. Anaknya yang pertama baru masuk sekolah menengah pertama, anak keduanya baru masuk sekolah dasar, dan anak bungsunya masih berumur dua tahun. Ia juga sering bercerita tentang mimpi-mimpinya, terutama mimpinya untuk membahagiakan keluarganya dan menyekolahkan anaknya hingga jenjang yang paling tinggi.

***

Persahabatanku dengan Pak Giman menjadi warna tersendiri dalam kehidupan semasa SMA ku. Kami saling bercerita, baik tentang keluarga maupun tentang hal yang sedang dialami. Perbincangan kami selalu berujung dengan pertanyaan Pak Giman kepadaku. Pertanyaan yang selalu ia tanyakan padaku, yakni “Apa mimpimu le?”. Dan, setiap ia menanyakan itu, aku pun tak dapat menjawabnya. Pak Giman seakan memahami aku yang tidak mau menanyakannya dan tidak memaksaku untuk menjawabnya.

Hingga akhirnya aku menginjak semester terakhir di kelas 3, Pak Giman pun sudah semakin terlihat kerut di wajahnya. Ya, waktu itu berputar cepat. Terkadang aku masih merasa baru mengenal Pak Giman di hari kemarin dan kini aku sudah tiga tahun berada di sekolah ini. Sudah semenjak kenaikan dari kelas 1 ke kelas 2, kelompok berandal yang sering menggangguku tak pernah mengusikku lagi. Semua berkat Pak Giman yang selalu ada di sampingku dan mendorongku untuk berani jika aku benar.

Suatu hari, setelah jam sekolah selesai, aku mampir ke rumah petak Pak Giman di belakang sekolah. Rumah kontrakan kecil tempatku menghabiskan sebagian waktuku ketika aku jengah dengan sekolah ataupun sekedar beristirahat kecil dan belajar untuk ujian. Seperti biasa, Pak Giman selalu membuatkan aku teh manis hangat dan sepiring kecil gorengan untuk menemaniku di rumahnya itu. Di hari itu, Pak Giman kembali menanyakan pertanyaan yang sama kepadaku. “Le, kamu punya mimpi tidak?”, tanya Pak Giman sembari menaruh segelas teh manis hangat dan gorengan di lantai tempat kami duduk bersila.

“Aku tak tahu pak, mungkin dulu pernah”, jawabku datar.

Pak Giman tersenyum dan berkata, “Akhirnya kamu menjawab juga le. Mengapa kau bilang begitu?”.

“Tak tahu pak, jika saja aku bisa bertanya pada bintang-bintang mengapa aku berjalan di jalan kesunyian, mungkin mereka akan memberikan jawabannya. Aku dulu pernah memiliki mimpi, namun hancur ketika ayahku meninggal dalam sebuah kecelakaan. Karena, aku ingin menjadi petugas medis atau dokter, tapi ketika ayahku sekarat tak ada dokter yang sanggup menyelamatkannya”, jawabku dengan diakhiri dengan helaan nafas halus. “Beragam alasannya, ada yang bilang ayahku harus didaftarkan dulu ke rumah sakitlah, menunggu kamar kosonglah, macam-macam dan berbeda-beda tiap petugas medis yang ditanya ibuku. Hingga akhirnya ayah meninggal di IGD dan aku...”.

“Seharusnya kamu teruskan mimpimu”, potong Pak Giman.

“Mengapa? Aku kesal dengan orang yang tidak bisa menyelamatkan ayahku dan aku tidak mau berprofesi seperti mereka”, jawabku dengan nada bicara sedikit meninggi.

Pak Giman menepuk pundakku, “Mereka seperti itu karena menjadi seorang penyelamat jiwa bukanlah impian mereka”.

Mendengar perkataan Pak Giman aku terdiam. Sebuah perkataan sederhana yang mampu meredam amarah singkatku pada kenangan masa lalu.

“Ketika kamu menjadi sesuatu berdasarkan mimpimu, maka kau akan menjalaninya dengan tulus. Tak peduli rintangan dan hal-hal menghambat di depanmu. Mimpi yang sempurna ialah mimpi yang kau niatkan dalam hati, kau rancang dalam imaji, dan kau tuju dengan ketulusan dan kesungguhan hati”, ujar Pak Giman dengan menatap mataku. “Kalau menjadi dokter itu mimpimu, kejarlah hingga kamu mendapatkannya, le”.

Aku tertegun atas perkataan Pak Giman. Ia hampir tidak pernah memaksaku untuk menjawab pertanyaannya tentang mimpi, tapi sore ini ia seakan-akan ingin mengembalikan aku kepada mimpi besarku yang telah lama ku kubur. Aku hanya bisa terdiam, dan tidak bisa menjawab atau pun menyahuti perkataan Pak Giman.

Ya wis, direnungkan lagi apa mimpimu le”, tenang Pak Giman setelah melihat wajahku yang menjadi serius dan sedikit murung. “Tapi, jangan lama-lama kau renungkan, ingat, kamu sebentar lagi akan lulus sekolah dan harus menetapkan langkah kakimu kedepannya”.
Akhirnya kami berbincang santai hingga malam menjelang. Meski hanya dengan teh manis hangat dan gorengan, bagiku, jamuan Pak Giman adalah jamuan yang mewah dan mengisi kenangan masa SMA.

***

Kenangan sore itu terus membekas dalam ingatanku. Sudah empat tahun lamanya semenjak terakhir aku bertemu Pak Giman. Aku mengikuti perkataannya dulu, aku kembali pada mimpiku. Setelah lulus sekolah, aku mengambil ujian masuk kuliah untuk jurusan kedokteran di salah satu perguruan tinggi negeri. Berusaha sebaik mungkin, dan benar adanya perkataan Pak Giman, aku memang menjalani perkuliahanku dengan tulus.

Dan kini aku berdiri di sebuah auditorium kampus untuk diwisuda. Bersama teman-temanku, aku berdiri di barisan mahasiswa berprestasi. Di saat pidato rektorku, entah mengapa aku merasa ada yang sedang memperhatikanku dari kejauhan. Hingga akhirnya acara wisudaku selesai, aku pun menghampiri ibuku dan membereskan barang-barang ke dalam mobil. Saat aku tengah membereskan barang-barangku, aku melihat Pak Giman di pinggir parkiran gedung auditorium. Ia tersenyum ke arahku, dan sesaat kemudian ia menghilang terhalangi oleh orang yang berlalu-lalang. Aku mencoba memastikan penglihatanku. Aku berjalan cepat menuju tempat aku melihat Pak Giman. Namun, ia memang sudah menghilang tanpa jejak. Kemudian ibu memanggilku dan aku menghampirinya dengan rasa heranku terhadap kejadian barusan. Apakah itu imajinasi? Atau halusinasi? Akhirnya aku pulang bersama ibuku.

Setelah semua urusanku di kampus selesai, aku segera membuat surat lamaran pekerjaan ke sebuah rumah sakit. Tidak memakan waktu lama, aku pun dipanggil dan diterima di rumah sakit tersebut. Semua berjalan seperti adanya, aku memeriksa pasien, dan merawatnya hingga sehat kembali. Semua ku lakukan dengan segenap tenagaku. Hingga suatu hari, aku sedang duduk menunggu pasien, datang pasien yang ku tunggu duduk di depan mejaku. Aku terkejut melihat wajah pasien itu, ia begitu mirip dengan Pak Giman, hanya saja ia jauh lebih muda bahkan lebih muda dariku.

“Ya, ada yang bisa saya bantu?”, tanyaku dengan suara sedikit ragu.

“Anu dok, saya mau melakukan pemeriksaan badan saya untuk mengikuti seleksi akademi kepolisian”, ujarnya sedikit terbata. “Tapi saya tidak punya uang sama sekali dok. Saya dengar, untuk dapat lulus seleksi masuk akademi kepolisian, saya harus membayar dokter yang memeriksa kesehatan saya”.

Aku tersenyum, dengan merapikan data-data pasien itu aku berkata “Tidak apa-apa, tidak usah bayar juga tidak apa-apa. Tapi kamu janji sama saya, jangan melihat saya sama dengan dokter-dokter seperti itu ya”.

Pasien itu kemudian mengangkat kepalanya dan memercikkan ekspresi senang. Melihat ekspresinya, ada kelegaan dalam hatiku. Lalu, aku membaca data diri dari pasien tersebut mencari nama dari pasien mudaku itu. “Namamu Subagyo ya, salam kenal, saya Dokter Arya”, sapaku hangat. “Oke, kita mulai, coba buka mulutnya, aahh”. Aku memeriksanya hingga tak terasa sudah satu jam berlalu.

“Hasilnya akan selesai diurus suster nanti sekitar tigapuluh menit lagi”, ujarku.

“Terima kasih dok, akhirnya saya bisa mewujudkan mimpi sempurnaku”, ujar Bagyo.
Mendengar kata-katanya barusan, aku tersentak. “Mimpi sempurna? Ya, memang itu harus kau kejar”, ujarku menyemangati Bagyo.

“Kata bapak saya dok, Ketika kamu menjadi sesuatu berdasarkan mimpimu, maka kau akan menjalaninya dengan tulus. Tak peduli rintangan dan hal-hal menghambat di depanmu. Mimpi yang sempurna ialah mimpi yang kau niatkan dalam hati, kau rancang dalam imaji, dan kau tuju dengan ketulusan dan kesungguhan hati. Dan, saya selalu mengingatnya hingga kini”, kisah Bagyo dengan semangatnya.

Aku pun semakin tersentak. Apakah mungkin ia anak dari Pak Giman? Aku pun memberanikan diri untuk bertanya padanya, “Maaf, kalo boleh saya tahu, siapa nama bapak mas?”.

“Oh, bapak saya namanya Sugiman. Orang biasa memanggilnya Pak Giman”, terang Bagyo dengan polos.

“Pak Giman? Kamu anak Pak Giman?”, tanyaku dengan kaget.

Keheranan, Bagyo pun menjawab, “Iya dok, memangnya ada apa ya?”.

“Dia orang yang berjasa buat saya. Bisa pertemukan saya dengan beliau?”, ujarku.

“Umm..”, ragu Bagyo, “Bapak sudah meninggal dok, tahun kemarin ia meninggal karena sakit”.

Aku pun kaget dan tidak menyangka. Bagaimana bisa ia meninggal tahun kemarin dan aku melihatnya ketika aku wisuda. Lalu, kami berbincang mengenai Pak Giman. Hingga aku meminta Bagyo mengantarkanku ke makan Pak Giman.

Sepanjang perjalanan menuju pemakaman, Bagyo dan aku bertukar cerita tentang Pak Giman. Ia mengajarkan anaknya sama seperti mengajarkan aku, yakni percaya akan mimpi dan teru mengejarnya. Aku pun masih tidak percaya bahwa Pak Giman sudah meninggal, karena aku begitu nyata melihatnya hadir dan tersenyum padaku saat wisudaku. Akhirnya mobilku sampai di sebuah tempat pemakaman. Aku dipandu oleh Bagyo menuju makam Pak Giman.

Setelah beberapa menit, aku sampai di sebuah makam sederhana. Tiada dihiasi oleh keramik, hanya papan kayu saja. Di papan kayu itu tertulis, nama Sugiman Bin Cahyadi. Benar, ini memang benar makam Pak Giman. Aku pun tak kuasa menahan airmataku, sudah lama aku tidak menangis semenjak bertemu dengan Pak Giman. Kini, ketika aku berhasil mewujudkan mimpiku, Pak Giman telah tiada. Lalu, aku melihat Bagyo, melihat wajah polosnya, aku pun berniat untuk membantu anak itu menggapai mimpinya, seperti Pak Giman yang membantuku menemukan mimpi sempurnaku.

“Aku berjanji Pak Giman, akan aku bantu Bagyo dan adik-adiknya menemukan mimpinya, seperti bapak yang membantuku menemukan mimpi sempurnaku. Hanya ini yang bisa ku perbuat untuk membalas budi baikmu. Dan, hidupku akan berarti jika dapat menjadi bagian dari mimpi yang sempurna bagi Bagyo serta adik-adiknya. Aku berjanji padamu. Selamat jalan Pak Giman, damai tentramlah di dalam kisah mimpi yang sempurnaku”, ucapku dalam hati. Aku dan Bagyo kemudian bergegas meninggalkan pemakaman.

Terinspirasi dari lagu peterpan yang berjudul "mimpi yang sempurna".

Selasa, 26 Juni 2012

Kesalahan Ada Untuk Dipelajari


Bila memandang daun menari bersama angin
Membuatku berangan, andai kehidupanku seindah tarian daun dan angin
Sederhana, bermakna, dan melegakan dalam tiap geraknya
Aku iri pada daun dan angin yang menari dengan indahnya

Bila memandang hujan berpacu dengan petir yang menggelegar
Membuatku berpikir, andai langkahku setegas petir yang menyertai hujan
Mungkin kesalahan hidup tak akan mekar
Menyulitkan langkahku menapaki jalan panjang yang terbentangkan

Andai kala bermurah hati
Ingin aku membujuknya
Memberikan satu kesempatan
Kembali ke masa-masa itu, sebelum terjadi kesalahan
Aku ingin menampar diriku pada masa itu, yang telah buta matanya
Oleh keegoisan diri

Namun itu hanya ada dalam fantasi semata
Bila memang kala menawarkan itu padaku
Aku tak ingin mengambil kesempatan itu
Karena kembali pada kala yang menyenangkan itu
Hanya menjegalku dari pemaknaan hidup berani dan dewasa

Kesalahan ada untuk dipelajari
Kesalahan ada untuk mengindahkan tarian kehidupan manusia
Tak ada salah, sama saja menjalani hidup dalam dunia fantasi
Di mana setiap lelaki adalah pengeran dan tiap perempuan adalah putri raja