Manusia di bumi terlahir sama
Tak ada pembeda, meski berbeda
Semua sama, tak ada miskin atau kaya
Hanya satu pembeda
Cara menghidupi hidup dalam keunikan dunia
Manusia di bumi tercipta atas cinta
Buah cinta sepasang manusia
Dengan karunia Tuhan Maha Penguasa
Cinta yang tulus tiada tara
Murni, bila dijaga dengan nurani terdalam manusia
Manusia di bumi tercerahkan dari pengetahuan dunia
Ilmu dari buah pengalaman manusia
Pengetahuan dari tanda-tanda alam semesta
Diolah dalam konsep di kepala
Diujarkan dengan retorika
Manusia di bumi, keberagaman membentuk kesatuan semesta
Pondasi nafas hakiki kehidupan peradaban dunia
Baik yang kelam maupun bercahaya
Manusia adalah manusia
Dinamis dalam evolusi tak berhenti, berkutat penuhi jelujur konsep di kepala
Menuangkan dalam kanvas, ilmu baru terus lahir bergantian dalam tiap generasi manusia
Manusia di bumi
Makhluk mendekati
Kesempurnaan hakiki
Dengan dinamika kekurangan di satu hari
Dan kelebihan di lain hari
Manusia di bumi
Diciptakan untuk bermimpi
Berkreasi mewujudkan mimpi
Melalui ancangan imaji
Bukan sekedar kesenangan dalam fantasi
Manusia di bumi
Kebanggaan pertiwi
Buah hasil kimiawi
Diberkahi hati
Untuk digunakannya nurani
Dalam memandang kegoncangan yang menanti
Di depan nanti
Di masa depan yang dinanti
Manusia adalah makhluk terberkahi
Tampilkan postingan dengan label sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sastra. Tampilkan semua postingan
Minggu, 24 Februari 2013
Senin, 04 Februari 2013
Pemuda, Nasib dan Kenyataan
Lidah ini kelu sejuta asa
Tak dapat meramu ucapan sedemikian rupa
Sehingga dapat menghibur sekumpulan pemuda
Di sebuah peraduan nasib dan kenyataan
Para pemuda tak ikhlas hati
Para pemuda berperang nurani
Membawa sebongkah igauan hakiki
Guna menyebulkan nasib dan kenyataan
Sungguh, melodi lagu itu
Sudah tak terdengar merdu
Lagu itu menjelma jadi sebuah gerutu
Akan kesialan nasib dan kenyataan
Sudah beberapa sore
Mengaumkan deritanya dalam aliran sake
Pemuda mabuk dan serasa sial tertusuk sate
Mereka murka salahkan nasib dan kenyataan
Mereka terdiam memandang sebuah foto
Mereka lupa bahwa leluhur pernah tersohor
Pemuda lupa dan meraung karena sebuah foto
Penyesalan mereka atas nasib dan kenyataan
Tak dapat meramu ucapan sedemikian rupa
Sehingga dapat menghibur sekumpulan pemuda
Di sebuah peraduan nasib dan kenyataan
Para pemuda tak ikhlas hati
Para pemuda berperang nurani
Membawa sebongkah igauan hakiki
Guna menyebulkan nasib dan kenyataan
Sungguh, melodi lagu itu
Sudah tak terdengar merdu
Lagu itu menjelma jadi sebuah gerutu
Akan kesialan nasib dan kenyataan
Sudah beberapa sore
Mengaumkan deritanya dalam aliran sake
Pemuda mabuk dan serasa sial tertusuk sate
Mereka murka salahkan nasib dan kenyataan
Mereka terdiam memandang sebuah foto
Mereka lupa bahwa leluhur pernah tersohor
Pemuda lupa dan meraung karena sebuah foto
Penyesalan mereka atas nasib dan kenyataan
Perempuan dan Kesedihannya
Pelangi indah di mata itu
Isyarat hujan kegundahan
Dalam palung hati seorang perempuan
Ia, perempuan idaman
Ia, perempuan harapan
Tak sanggup menatap rembulan
Karena matanya terkubangkan air mata yang tak mau dikeluarkan
Wajahnya sengaja tak dipalingkan
Karena ia ingin dunia menatap kesedihan
Dari rona wajah yang memucat dan penuh kerutan
Ia, perempuan yang syarat akan duka dalam hati penuh pergolakan
Dunia tak sadar akan dirinya
Tanah yang dipijaknya sudah lelah membantunya
Dan kini, tak ada yang memperhatikannya
Isyarat hujan kegundahan
Dalam palung hati seorang perempuan
Ia, perempuan idaman
Ia, perempuan harapan
Tak sanggup menatap rembulan
Karena matanya terkubangkan air mata yang tak mau dikeluarkan
Wajahnya sengaja tak dipalingkan
Karena ia ingin dunia menatap kesedihan
Dari rona wajah yang memucat dan penuh kerutan
Ia, perempuan yang syarat akan duka dalam hati penuh pergolakan
Dunia tak sadar akan dirinya
Tanah yang dipijaknya sudah lelah membantunya
Dan kini, tak ada yang memperhatikannya
Rabu, 23 Januari 2013
Kajian Alih Wahana Dalam Persepolis: Masa Kanak-Kanak Tokoh Marjane
Suatu
karya sastra atau seni memiliki media atau wahana yang digunakan untuk dapat
diapresiasikan. Sebuah novel menggunakan wahana teks, film menggunakan gambar
‘bergerak’, komik menggunakan gambar ‘diam’, dan tari menggunakan gerak tubuh.
Penggunaan wahana suatu karya juga dapat berpindah—misalnya dari novel ke film
atau komik ke film—dengan judul yang sama atau pengadopsian suatu karya dari
suatu wahan ke wahana lainnya. Perpindahan wahana suatu karya tersebut dapat
dikatakan sebagai alih wahana.
Sapardi Djoko Damono dalam bukunya Sastra Bandingan (2009: 121) menyatakan
bahwa alih wahana adalah perubahan dari satu kesenian ke jenis kesenian lain.
Perubahan tersebut tidak terbatas pada satu atau dua jenis karya. Damono juga
menyatakan bahwa karya sastra tidak hanya diterjemahkan dari satu bahasa ke
bahasa lainnya, tetapi juga dialihwahanakan atau diubah menjadi kesenian
lainnya. Berdasarkan pernyataan tersebut maka dapat dikatakan bahwa suatu karya
dapat berubah wahana dari satu wahana ke wahana lainnya, tidak terbatas pada
satu arah alih wahana melainkan juga dapat berubah ke berbagai macam bentuk—misalnya,
dari karya sastra dapat menjadi film atau komik dan juga dari film menjadi
karya sastra atau komik.
Salah satu karya yang mendapat
proses alih wahana ialah Persepolis karya
Marjane Satrapi. Persepolis mengisahkan
tentang kisah hidup seorang anak perempuan keturunan Iran yang bernama Marjane.
Ia dilahirkan di Teheran, Iran. Marjane hidup bersama kedua orang tuanya dan
neneknya di sebuah apartemen di Teheran. Kehidupannya mengalami banyak
pergolakan, karena ia hidup di masa transisi kekuasaan di Iran. Transisi
kekuasaan tersebut akhirnya memaksanya untuk keluar dari Iran dan menuju Eropa.
Pergolakan dalam dirinya terus berlangsung di Eropa dan akhirnya ia kembali ke
Teheran. Setelah menetap kembali di Teheran, ia malah mengalami sebuah fase
adaptasi kembali dan akhirnya ia pergi ke Prancis.
Persepolis: Masa
Kanak-Kanak Marjane Dalam Novel Grafis dan Film Animasi
Karya cerita rekaan Persepolis
pertama kali muncul dalam wahana novel grafis pada tahun 2000. Kisah
tersebut dalam wahana novel grafis terbagi atas empat buku yang terbit secara
berurut dari tahun 2000 hingga 2003. Pada tahun 2007, Persepolis akhirnya dibuatkan versi film animasinya.
Dalam proses peralihwahanaan karya
tersebut—dari novel grafis ke film animasi—terdapat beberapa perubahan.
Perubahan tersebut didasari bahwa dalam pengalihwahanaan suatu karya perlu
adaptasi dari wahana aslinya ke wahana yang baru. Perpindahan wahana (media)
mencakup empat modalitas (Lars Ellestrom 2010: 15), yakni modalitas materi,
modalitas panca indera, modalitas ruang temporal, dan modalitas semiotik. Lars
Ellestrom dalam tulisannya The Modalities
of Media: A Model For Understanding Intermedial Relation (2010) menyatakan
bahwa ‘Media and art forms are constantly
being described and defined on the basis of one or more of these modalities.
The categories of materiality, time and space, the visual and the auditory, and
natural and conventional sign, have been reshaped over and over again, but they
tend to be mixed up in fundamental ways... [Media dan bentuk seni yang
terus-menerus digambarkan dan didefinisikan berdasarkan satu atau lebih dari
modalitas. Kategori-kategori dari materialitas, waktu dan ruang, visual dan
auditori, dan tanda alam dan konvensional, telah dibentuk kembali lagi dan
lagi, tetapi mereka cenderung terlibat dalam cara yang mendasar...]. Dari
pernyataan tersebut dapat dipahami bahwa dalam perubahan wahana ada unsur-unsur
yang menjadi alasan perubahan-perubahan pada wahana karya yang baru. Hal
tersebut terkait dengan materialitas, fisik, dan segi tanda.
Dalam Persepolis, perubahan terjadi pada alur cerita. Pada versi novel
grafisnya, pengkisahan dimulai pada penggambaran suasana sosial di Teheran pada
Marjane berumur sepuluh tahun, sedangkan pada film animasinya, kisah dimulai
pada saat Marjane dewasa dan berada di bandar udara Perancis. Pada versi novel
grafisnya, latar belakang tokoh Marjane dijelaskan secara detil. Ia berasal
dari keluarga Iran modern yang kedua orang tuanya merupakan aktifis revolusi
Iran. Penandaan bahwa orang tua Marjane adalah bagian dari aktifis revolusi
terlihat dari penggambaran dalam cerita yang mengisahkan keduanya sedang
berjuang untuk revolusi, baik dari segi ideologi maupun gerakan-gerakannya,
seperti menjadi demonstran, jurnalis foto, dan lain sebagainya.
Selain
itu, juga dijelaskan kondisi politik pada masa tokoh Marjane lahir di Iran.
Kondisi politik yang mendesak pemerintahan saat itu untuk mundur dan beralih
peradaban menjadi demokrasi—yang tadinya berupa kerajaan. Penjelasan kondisi
politik tersebut terdapat pada bagian diskusi Marjane kecil dengan ayahnya.
Pada diskusi tersebut, ayahnya menceritakan asal-muasal kondisi politik yang
ada di Iran secara detil kepada Marjane. Mulai dari awal hingga pada kondisi
yang dirasakan pada saat ayahnya dan Marjane sedang berdiskusi. Lalu, juga
penjelasan mengenai nasib kakek dari Marjane yang akhirnya dipenjara karena
pandangan politiknya. Kondisi kakeknya divisualisasi dan tokoh kakek pun hadir
dalam versi novel grafis tersebut.
Penjelasan
detil juga tampak pada pergolakan Marjane kecil. Digambarkan bagaimana Marjane
yang merasa bahwa dirinya adalah seorang Nabi dan mengatakannya kepada gurunya
di sekolah. Selain itu, imaji Marjane kecil tentang tokoh-tokoh revolusi dunia
dan pandangan Marjane kecil tentang pergolakan politik juga diceritakan dalam
novel grafisnya. Simbol-simbol yang digunakan salah satunya ialah
digambarkannya diskusi antara Rene Descrates dan Karl Marx dalam sebuah bagian
dalam novel grafis tersebut. Dengan kata lain, penggambaran politik Iran pada
masa Marjane kecil sangat detil dan dibuat secara kronologis.
Sedangkan dalam film animasinya,
penjelasan latar belakang kedua orang tuanya—yang merupakan aktifis
revolusi—visualisasikan dalam hubungan kedua orang tuanya terhadap tokoh-tokoh
revolusi atau aktifis Iran. Fase penceritaan asal-muasal kondisi politik Iran
digambarkan dalam ilustrasi pendongengan ayah ke anak. Selain itu,
pandangan-pandangan politik Marjane kecil juga tidak dijelaskan secara detil.
Beberapa tokoh pun ada yang dihilangkan secara visualisasi, salah satunya ialah
tokoh kakek Marjane dan Rene Descartes.
Nuansa pemikiran-pemikiran revolusi
Iran pun tidak terlalu dijelaskan secara detil. Hanya beberapa bagian yang
berasal dari penjelasan beberapa tokoh. Pergolakan batin dari Marjane kecil
juga diperhalus dengan tidak terlalu dimasukan bagian-bagian penjelasan alur
pergerakan revolusi. Selain itu, penceritaannya kurang kronologis dari versi
novel grafisnya.
Perubahan-perubahan yang terjadi
dalam film animasinya disebabkan material dalam film tidak dapat menyamai
material dalam novel grafis. Dalam novel grafisnya, pembabagan materi
penceritaan tersusun dengan jelas karena tidak ada batasan waktu dan ruang,
sedangkan dalam film terbatas pada durasi film keseluruhan—pengkisahan Marjane
remaja dan dewasa. Selain itu, penjelasan detil dalam novel grafisnya
diperlukan untuk memunculkan emosi-emosi yang hanya tervisualisasikan dalam
bentuk gambar dan tulisan, sedangkan dalam film, efek emosi dan dramatikalnya
dapat dibantu oleh penambahan musik latar.
Penjelasan detil dalam novel
grafisnya juga berkaitan dengan pemaknaan tanda yang lebih memiliki kemungkinan
ambiguitas makna, sedangkan dalam film, ambiguitas makna dapat ditutupi oleh
audio (suara dan intonasi dialog).[1]
Hal tersebut berkaitan dengan bahasa tulis dalam novel grafis memiliki otonomi
dan tidak sekedar derivat dari bahasa lisan.[2]
Jadi, dalam novel grafisnya diperlukan penjelasan detil agar tidak terjadi
pemaknaan ganda—meskipun ada gambar, namun gambar juga dapat memiliki makna
ganda jika tidak disertai gerakan nyata yang menjadi pengarah makna.
Kesimpulan
Persepolis
dalam wahana novel grafis dan film animasinya memiliki perbedaan yang
didasari oleh beberapa faktor. Faktor pertama ialah modalitas materi yang
berbeda. Jika dalam novel grafis tidak dibatasi oleh durasi, maka dalam film
dibatasi oleh durasi film. Faktor kedua ialah modalitas panca indra (visual dan
audio visual). Dalam novel grafis, penggambaran cerita dalam novel grafis harus
disertai oleh penjelasan yang detil untuk membangkitkan emosi dan dramatikal
cerita—karena hanya berupa tulisan dan gambar ‘diam’—sedangkan dalam film, efek
tersebut dapat dimunculkan melalu musik latar, intonasi dialog, dan gambar
‘bergerak’ yang menunjukan pemaknaan adegan. Faktor ketiga dan keempat ialah
modalitas ruang temporal dan semiotik. Kedua faktor tersebut berkaitan dengan
pemaknaan cerita. Jika dalam novel grafis ada dapat muncul ambiguitas makna
cerita—jika tidak dijelaskan detil—maka dalam film ambiguitas makna tersebut
tertutupi oleh audio (suara, intonasi dialog, dan musik latar).
Daftar Referensi
Damono, Sapardi
Djoko. 2009. Sastra Bandingan. Jakarta:
Editum.
Ellestrom, Lars
(ed). 2010. Media Borders, Multymodality,
and Intermediality. Hampshire: Pallgrave Macmillan.
Hoed, Benny H.
2011. Semiotik dan Dinamika Sosial
Budaya. Depok: Komunitas Bambu.
http://en.wikipedia.org/wiki/Marjane_Satrapi
dilihat pada tanggal 8 April 2012 jam 23.30 WIB.
[1] Melalui
media audio (suara, intonasi dialog, dan musik latar) maka dapat memberikan
sebuah penegas makna dari penafsiran suatu cerita.
[2] Pandangan
mengenai tulisan memilki otonomi merupakan pandangan Jaques Derrida. Ia
berpendapat bahwa tulisan merupakan bahasa yang memenuhi dirinya sendiri tanpa
tergantung pada bahasa lisan. Benny H Hoed. Semiotik
dan Dinamika Sosial Budaya. (Depok: Komunitas Bambu, 2011). Hlm. 75.
Rabu, 05 Desember 2012
Deru Sendu
Ingin aku mencoba
Menjadi air yang mengalir
Namun selalu berakhir jadi limbah
Ingin aku mencoba
Menjadi udara yang berhembus
Namun selalu berkelok bagai asap polusi
Ingin aku mencoba
Menjadi pupuk yang tertanam
Namun selalu mengendap jadi racun kimiawi
Belumlah aku menemukan
Jadi apakah aku ini
Menjadi nafas bagi kehidupan
Atau menjadi arit yang mengambil kehidupan
Menjadi air yang mengalir
Namun selalu berakhir jadi limbah
Ingin aku mencoba
Menjadi udara yang berhembus
Namun selalu berkelok bagai asap polusi
Ingin aku mencoba
Menjadi pupuk yang tertanam
Namun selalu mengendap jadi racun kimiawi
Belumlah aku menemukan
Jadi apakah aku ini
Menjadi nafas bagi kehidupan
Atau menjadi arit yang mengambil kehidupan
Diskusi Pada Debu 1
Terkadang terpikir olehku
Bagaimana bisa bumi berputar pada porosnya?
Tanpa aku merasakan pergerakannya
Dan hanya bumi, tumbuhan, serta binatang yang mampu merasakannya
Apakah aku ada di bumi?
Atau sekedar rekayasa?
Tak pernah terpikir lelah olehku
Hanya sekelebatan dan pergi bersama angin
Begitu pula dengan hasrat
Betapa aku tak pernah tahu apa itu hasrat
Bentuk rupanya, datang dan perginya
Datang tidak ada tanda, pergi pun sekenanya
Hanya dedaunan runtuh yang selalu menyadarkan aku
Bahwa aku nyata, dapat menggenggamnya
Meski akhirnya aku menghancurkan daun runtuh itu
Dalam genggaman setengah lembut kekuatannya
Berpalang pada tanya dan bersanggah pada seru
Aku menikmati dan melarikan diri
Dari makna keberadaanku
Di atas bumi yang berputar pada porosnya
Bagaimana bisa bumi berputar pada porosnya?
Tanpa aku merasakan pergerakannya
Dan hanya bumi, tumbuhan, serta binatang yang mampu merasakannya
Apakah aku ada di bumi?
Atau sekedar rekayasa?
Tak pernah terpikir lelah olehku
Hanya sekelebatan dan pergi bersama angin
Begitu pula dengan hasrat
Betapa aku tak pernah tahu apa itu hasrat
Bentuk rupanya, datang dan perginya
Datang tidak ada tanda, pergi pun sekenanya
Hanya dedaunan runtuh yang selalu menyadarkan aku
Bahwa aku nyata, dapat menggenggamnya
Meski akhirnya aku menghancurkan daun runtuh itu
Dalam genggaman setengah lembut kekuatannya
Berpalang pada tanya dan bersanggah pada seru
Aku menikmati dan melarikan diri
Dari makna keberadaanku
Di atas bumi yang berputar pada porosnya
Minggu, 02 Desember 2012
Sendu 1
Bermukim pada kedukaan
Bukan sebuah kenangan antara hidup dan mati
Berjalan di atas titian kepekaan
Bukan sebuah paksaan memahami
Senja dan subuh
Di antara perantara waktu dunia
Leleh dan luluh
Bersenda gurau dalam kelangkaan kemanusiaan
Pohon layu dan bibit tumbuh
Waktu berjalan, waktu berlalu
Sunyi dan ramai pun bersebrangan
Hanya selalu bersandingan sambil lalu
Bernadi di atas tubuh
Dunia bermandikan sahaja kedukaan semu
Sampai nanti, sampai tubuh ini luluh
Hanya kepada angin dan awan
Cerah hari akan ku bagikan
Bukan sebuah kenangan antara hidup dan mati
Berjalan di atas titian kepekaan
Bukan sebuah paksaan memahami
Senja dan subuh
Di antara perantara waktu dunia
Leleh dan luluh
Bersenda gurau dalam kelangkaan kemanusiaan
Pohon layu dan bibit tumbuh
Waktu berjalan, waktu berlalu
Sunyi dan ramai pun bersebrangan
Hanya selalu bersandingan sambil lalu
Bernadi di atas tubuh
Dunia bermandikan sahaja kedukaan semu
Sampai nanti, sampai tubuh ini luluh
Hanya kepada angin dan awan
Cerah hari akan ku bagikan
Minggu, 12 Agustus 2012
Jejak Kehidupan (2)
Biarkan senja menjadi narator kenangan kita bersama
Biarkan ia membacakan bait-bait keberadaan kita
Agar dunia mengerti, betapa jalur kehidupan kita
Bertemu dalam sebuah rangkulan hangat, sebuah bukti kita keluarga
Candamu, menjadi awan teduh bagiku
Candaku, menjadi angin sejuk bagimu
Kebahagiaan hakiki, kebahagiaan bersama
Sedihmu, menjadi sesak di hatiku
Sedihku, menjadi peretak di hatimu
Kesedihan hakiki, kesedihan berpeluk kasih
Bilamana hari itu datang
Biarkan senja mengisahkan kisah kita
Pada generasi mendatang
Agar kebersamaan ini menjadi abadi dalam kebersamaan mereka
Tiada awan kelabu mampu palingkan ikatan ini
Tiada badai berdecit mampu putuskan genggaman tangan ini
Karena aku dan engkau, berpeluh bersama dalam kesenangan dan kedukaan
Saling memaknai maksud keberadaan diri dalam keberbedaan
Biarkan ia membacakan bait-bait keberadaan kita
Agar dunia mengerti, betapa jalur kehidupan kita
Bertemu dalam sebuah rangkulan hangat, sebuah bukti kita keluarga
Candamu, menjadi awan teduh bagiku
Candaku, menjadi angin sejuk bagimu
Kebahagiaan hakiki, kebahagiaan bersama
Sedihmu, menjadi sesak di hatiku
Sedihku, menjadi peretak di hatimu
Kesedihan hakiki, kesedihan berpeluk kasih
Bilamana hari itu datang
Biarkan senja mengisahkan kisah kita
Pada generasi mendatang
Agar kebersamaan ini menjadi abadi dalam kebersamaan mereka
Tiada awan kelabu mampu palingkan ikatan ini
Tiada badai berdecit mampu putuskan genggaman tangan ini
Karena aku dan engkau, berpeluh bersama dalam kesenangan dan kedukaan
Saling memaknai maksud keberadaan diri dalam keberbedaan
Jejak Kehidupan (1)
Suara-suara yang bergumul dalam benak
Saling berpeluh dalam jenuh sejenak
Palung kehidupan yang berorasi
Di tiap jengkal selaksa nafas hakiki
Perlahan hutan pun berdendang
Mengumandangkan seru-seru kehidupan
Benak yang dianugerahi perlu bersenang
Agar penat jenuh berlalu dengan kelegaan
Kumandang hutan bermakna jejak di atas bumi
Berdecak kagum pada goresan tarian pena
Dari jemari manusia mengukir kisah terkasihi
Di dalam aliran kenangan hati
Serukanlah, walau hanya sedetik
Kumandang itu, agar se-antero jagad memaknainya
Menjadi sebuah kisahan termegah dan terbaik
Menjadi jelmaan kisah hidup yang terus terpandangi di antara jejak lainnya
Serukanlah, walau hanya dengan sejengkal suara
Kumandangkan itu, agar dirimu tak menyesal nantinya
Bilamana nafasmu sudah beradu di peraduan nyawa
Bilamana belum sempatlah dirimu mengabadikan bukti dirimu ada di dunia
Saling berpeluh dalam jenuh sejenak
Palung kehidupan yang berorasi
Di tiap jengkal selaksa nafas hakiki
Perlahan hutan pun berdendang
Mengumandangkan seru-seru kehidupan
Benak yang dianugerahi perlu bersenang
Agar penat jenuh berlalu dengan kelegaan
Kumandang hutan bermakna jejak di atas bumi
Berdecak kagum pada goresan tarian pena
Dari jemari manusia mengukir kisah terkasihi
Di dalam aliran kenangan hati
Serukanlah, walau hanya sedetik
Kumandang itu, agar se-antero jagad memaknainya
Menjadi sebuah kisahan termegah dan terbaik
Menjadi jelmaan kisah hidup yang terus terpandangi di antara jejak lainnya
Serukanlah, walau hanya dengan sejengkal suara
Kumandangkan itu, agar dirimu tak menyesal nantinya
Bilamana nafasmu sudah beradu di peraduan nyawa
Bilamana belum sempatlah dirimu mengabadikan bukti dirimu ada di dunia
Rabu, 08 Agustus 2012
Mimpi Yang Sempurna
Manusia hidup bersama mimpinya. Manusia hidup dengan menghidupi mimpinya.
Mimpi menjadi bahan bakar menuju sebuah kebanggaan seorang manusia. Malam
menjadi bunga sketsa merancang mimpi dan pagi menjadi arena pertarungan untuk
mewujudkan mimpi. Tak pelak, deru nafas yang berjenjang ini selalu aku
mempercayai mimpi.
Rasa percayaku akan mimpi bermula dari dongeng seorang kakek penjaga
sekolahku, Pak Sugiman namanya. Asal Kebumen, beranak tiga, dan ia membesarkan
anak-anaknya sendiri karena istrinya meninggal setelah kelahiran anak
ketiganya. Persahabatanku dengan Pak Giman, panggilan akrab Pak Sugiman,
berawal kala aku menginjak kelas 1 SMA. Saat itu, aku tengah duduk berpangku di
sudut tangga sekolah, menahan isak tangis karena sekelompok teman-teman sekelas—yang
merupakan anak bengal di kelas—memperolok diriku karena aku berbadan gemuk
gempal. Selalu setiap hari, aku selalu menjadi bahan tertawaan. Selalu dibilang
lamban, menyusahkan, dan tidak akan pernah sukses dalam hidup.
Sendiri dengan isak tangis yang sunyi dan air mata menetes perlahan, aku
terduduk diam hingga sore menjelang. Aku enggan pulang, aku merasa malu untuk
berjalan pulang, karena aku gemuk. Sungguh, aku merasa sudah tidak tahan dengan
hidupku dan ingin rasanya mengakhiri hidupku. Saat sepiku berpeluh air mata,
sesosok bayangan menutupi cahaya lampu tangga. Aku menoleh ke belakang,
ternyata Pak Giman berdiri di belakangku. Ia berdiri tegap dengan kaus oblong
dan celana lusuhnya. Dengan sapu lidi di tangan kanannya dan tong sampah besar
di tangan kirinya, ia menatapku dengan hangat.
“Sedang apa le?”, tanya Pak
Giman. “Kok belum pulang?”
“Ah, Pak Giman, tidak apa-apa”, jawabku dengan menyeka air mata yang
membekas.
“Ana apa ta le? Kok menangis”
Mendengar pertanyaan itu aku terdiam. Lalu, dengan sedikit berpaling muka
aku menjawab, “Tidak ada apa-apa kok pak”.
“Ya Wis le, kalau ada hal yang
mengganjal hati, jangan ragu cerita sama bapak. Bapak ini walau sudah tua,
setidaknya masih bisa menjadi pendengar yang baik. Ya”, ujarnya dengan senyum
lebar. “Kamu pulanglah, sudah sore besok pasti harus berangkat pagi kan?”.
“Iya pak”, lalu aku meninggalkan Pak Giman dengan tanpa berpamitan meski
lewat pandangan mata.
***
Suatu hari, aku sudah tidak tahan akan perlakuan teman-temanku yang selalu
memperolokku. Aku melawannya, dan mendorong temanku sebelum keluar kelas untuk
pulang. Karena perlawananku itu, mereka melawan dan menyeretku menuju kamar
mandi sekolah.
Aku dikerumuni lima orang. Mereka merupakan anak-anak bengal yang ada di
kelasku. Mereka berkuasa di kelas dan tak ada satu pun anak yang berani melawan
mereka. Wajah mereka kesal, karena aku melawan dari kekuasaan mereka dan
membuat mereka malu di depan kelas. Akhirnya, satu persatu dari mereka memukuliku.
Di tengah mereka dengan asyiknya memukuliku, tiba-tiba salah satu di antara
mereka ada yang menarik dan melemparnya kepada yang lainnya. Hingga akhirnya
pukulan mereka berhenti. Ternyata yang datang ialah Pak Giman.
“Sudah merasa jago kalian?”, geram Pak Giman. “Akan saya laporkan ke kepala
sekolah nanti”.
“Eh, penjaga sekolah macem-macem, kami yang bayar sekolahan jadi penjaga
sekolah itu sama saja kami yang bayar”, tantang salah satu temanku.
“Oo, bocah kemarin sore sudah kurang ajar, maaf saja, rezeki itu bukan
datang dari kamu, tapi dari Tuhan, meskipun saya dipecat, nama baik saya tidak
akan berpengaruh apa-apa, tapi orang tua kalian akan malu seumur hidup”, jawab
Pak Giman dengan lantang.
Mendengar jawaban Pak Giman yang berani membuat teman-teman yang
mengeroyokku geram tapi mereka tak berani dan meninggalkan kami berdua.
“Kamu tidak apa-apa le?”, tanya
Pak Giman padaku.
“Tidak apa-apa pak”, jawabku dengan mencoba berdiri “Terima kasih pak”. Aku
berdiri dan berjalan keluar.
“Le, tunggu sebentar”, panggil
Pak Giman. “Biar bapak antar kamu pulang, takutnya para begundal itu akan
menyegatmu di depan sana”.
Mendengar tawaran Pak Giman membuatku sedikit bimbang untuk pulang ke
rumah. Pertimbangannya ada benarnya dalam benakku. “Baik pak, maaf kalau saya
merepotkan”, jawabku menerima tawaran Pak Giman.
“Oia le, aku belum sempat
mengenal namamu, siapa namamu le?”,
tanya PaK Giman dengan Ramah.
“Umm, namaku Arya pak”, jawabku dengan suara lelah karena sedang menahan
sakit sisa dari pemukulan teman-temanku itu.
Lalu kami berdua berjalan keluar dan Pak Giman menyertaiku hingga aku naik
ke dalam angkutan umum. Di dalam mobil angkutan umum, entah mengapa aku merasa
ada kehangatan yang berasal dari perhatian Pak Giman padaku.
***
Esok harinya, di kelas aku sudah tidak merasa nyaman, karena teman-temanku
yang kemarin mengerjaiku memandangku dengan tatapan dendam. Selama jam
pelajaran aku berkeringat dingin dan ketakutan. Aku pun panik, karena jam
pelajaran akan usai dan berganti jam istirahat. Suara bell yang menggelegar
membuatku pucat pasih dan sudah mulai terdengar sorak-sorai kecil dari kelompok
anak bengal itu.
Sebelum guru keluar kelas, tiba-tiba Pak Giman datang dan meminta izin
untuk masuk ke kelas pada guruku. Aku tak tahu apa yang mereka berdua bicarakan
di depan kelas. “Arya, kamu ikut Pak Giman keluar ya, orang tuamu datang di
bawah dan mencarimu. Katanya ada urusan penting”, ujar guruku.
Mendengar perkataan guruku itu, aku bingung. “Baik bu”, jawabku keheranan.
Aku pun tak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk keluar kelas karena ingin
menghindari teman-temanku yang ingin kembali menyiksaku. Lalu aku mengikuti Pak
Giman keluar kelas dan menuju warung di luar sekolah.
“Maaf Pak Giman, kenapa kita ke sini? Dan apakah orang tuaku ada di warung
ini?”, tanyaku keheranan.
Pak Giman tersenyum. “Maaf ya le,
bapak bohong, bapak sengaja membawa kamu ke warung ini untuk mengamankanmu dari
pengeroyokmu yang kemarin, sebab tadi pagi bapak tidak sengaja mendengar mereka
berkumpul dan merencanakan untuk menjahilimu lagi”, jelas Pak Giman.
Jawaban Pak Giman tersebut membuatku merasa bahwa kini aku tidak sendiri di
sekolah. “Umm, terima kasih pak, sudah dua kali bapak menolong saya”, ujarku.
“Oh, tak usah sungkan le, ini
minum es blewah, di warung ini es ini rasanya enak loh”, ujar Pak Giman sembari
menyodorkan segelas es blewah padaku. Kami pun bercengkrama dan menjadi
sahabat. Sejak saat itu, aku tidak pernah takut lagi di sekolah. Aku pun berani
melawan jika ada yang mencercaku, karena aku yakin di belakangku ada yang
mendukungku. Aku dan dan Pak Giman sering bertukar cerita. Ia sering sekali
menceritakan kampungnya, cerita wayang yang dikisahkan turun temurun dari orang
tuanya, hingga menceritakan ketiga buah hatinya di kampung. Anaknya yang
pertama baru masuk sekolah menengah pertama, anak keduanya baru masuk sekolah
dasar, dan anak bungsunya masih berumur dua tahun. Ia juga sering bercerita
tentang mimpi-mimpinya, terutama mimpinya untuk membahagiakan keluarganya dan
menyekolahkan anaknya hingga jenjang yang paling tinggi.
***
Persahabatanku dengan Pak Giman menjadi warna tersendiri dalam kehidupan
semasa SMA ku. Kami saling bercerita, baik tentang keluarga maupun tentang hal
yang sedang dialami. Perbincangan kami selalu berujung dengan pertanyaan Pak
Giman kepadaku. Pertanyaan yang selalu ia tanyakan padaku, yakni “Apa mimpimu le?”. Dan, setiap ia menanyakan itu, aku
pun tak dapat menjawabnya. Pak Giman seakan memahami aku yang tidak mau
menanyakannya dan tidak memaksaku untuk menjawabnya.
Hingga akhirnya aku menginjak semester terakhir di kelas 3, Pak Giman pun
sudah semakin terlihat kerut di wajahnya. Ya, waktu itu berputar cepat.
Terkadang aku masih merasa baru mengenal Pak Giman di hari kemarin dan kini aku
sudah tiga tahun berada di sekolah ini. Sudah semenjak kenaikan dari kelas 1 ke
kelas 2, kelompok berandal yang sering menggangguku tak pernah mengusikku lagi.
Semua berkat Pak Giman yang selalu ada di sampingku dan mendorongku untuk
berani jika aku benar.
Suatu hari, setelah jam sekolah selesai, aku mampir ke rumah petak Pak
Giman di belakang sekolah. Rumah kontrakan kecil tempatku menghabiskan sebagian
waktuku ketika aku jengah dengan sekolah ataupun sekedar beristirahat kecil dan
belajar untuk ujian. Seperti biasa, Pak Giman selalu membuatkan aku teh manis
hangat dan sepiring kecil gorengan untuk menemaniku di rumahnya itu. Di hari
itu, Pak Giman kembali menanyakan pertanyaan yang sama kepadaku. “Le, kamu punya mimpi tidak?”, tanya Pak
Giman sembari menaruh segelas teh manis hangat dan gorengan di lantai tempat
kami duduk bersila.
“Aku tak tahu pak, mungkin dulu pernah”, jawabku datar.
Pak Giman tersenyum dan berkata, “Akhirnya kamu menjawab juga le. Mengapa kau bilang begitu?”.
“Tak tahu pak, jika saja aku bisa bertanya pada bintang-bintang mengapa aku
berjalan di jalan kesunyian, mungkin mereka akan memberikan jawabannya. Aku dulu
pernah memiliki mimpi, namun hancur ketika ayahku meninggal dalam sebuah
kecelakaan. Karena, aku ingin menjadi petugas medis atau dokter, tapi ketika
ayahku sekarat tak ada dokter yang sanggup menyelamatkannya”, jawabku dengan
diakhiri dengan helaan nafas halus. “Beragam alasannya, ada yang bilang ayahku
harus didaftarkan dulu ke rumah sakitlah, menunggu kamar kosonglah, macam-macam
dan berbeda-beda tiap petugas medis yang ditanya ibuku. Hingga akhirnya ayah
meninggal di IGD dan aku...”.
“Seharusnya kamu teruskan mimpimu”, potong Pak Giman.
“Mengapa? Aku kesal dengan orang yang tidak bisa menyelamatkan ayahku dan
aku tidak mau berprofesi seperti mereka”, jawabku dengan nada bicara sedikit
meninggi.
Pak Giman menepuk pundakku, “Mereka seperti itu karena menjadi seorang
penyelamat jiwa bukanlah impian mereka”.
Mendengar perkataan Pak Giman aku terdiam. Sebuah perkataan sederhana yang
mampu meredam amarah singkatku pada kenangan masa lalu.
“Ketika kamu menjadi sesuatu berdasarkan mimpimu, maka kau akan
menjalaninya dengan tulus. Tak peduli rintangan dan hal-hal menghambat di
depanmu. Mimpi yang sempurna ialah mimpi yang kau niatkan dalam hati, kau
rancang dalam imaji, dan kau tuju dengan ketulusan dan kesungguhan hati”, ujar
Pak Giman dengan menatap mataku. “Kalau menjadi dokter itu mimpimu, kejarlah
hingga kamu mendapatkannya, le”.
Aku tertegun atas perkataan Pak Giman. Ia hampir tidak pernah memaksaku
untuk menjawab pertanyaannya tentang mimpi, tapi sore ini ia seakan-akan ingin
mengembalikan aku kepada mimpi besarku yang telah lama ku kubur. Aku hanya bisa
terdiam, dan tidak bisa menjawab atau pun menyahuti perkataan Pak Giman.
“Ya wis, direnungkan lagi apa
mimpimu le”, tenang Pak Giman setelah
melihat wajahku yang menjadi serius dan sedikit murung. “Tapi, jangan lama-lama
kau renungkan, ingat, kamu sebentar lagi akan lulus sekolah dan harus
menetapkan langkah kakimu kedepannya”.
Akhirnya kami berbincang santai hingga malam menjelang. Meski hanya dengan
teh manis hangat dan gorengan, bagiku, jamuan Pak Giman adalah jamuan yang
mewah dan mengisi kenangan masa SMA.
***
Kenangan sore itu terus membekas dalam ingatanku. Sudah empat tahun lamanya
semenjak terakhir aku bertemu Pak Giman. Aku mengikuti perkataannya dulu, aku
kembali pada mimpiku. Setelah lulus sekolah, aku mengambil ujian masuk kuliah
untuk jurusan kedokteran di salah satu perguruan tinggi negeri. Berusaha sebaik
mungkin, dan benar adanya perkataan Pak Giman, aku memang menjalani
perkuliahanku dengan tulus.
Dan kini aku berdiri di sebuah auditorium kampus untuk diwisuda. Bersama teman-temanku,
aku berdiri di barisan mahasiswa berprestasi. Di saat pidato rektorku, entah
mengapa aku merasa ada yang sedang memperhatikanku dari kejauhan. Hingga akhirnya
acara wisudaku selesai, aku pun menghampiri ibuku dan membereskan barang-barang
ke dalam mobil. Saat aku tengah membereskan barang-barangku, aku melihat Pak
Giman di pinggir parkiran gedung auditorium. Ia tersenyum ke arahku, dan sesaat
kemudian ia menghilang terhalangi oleh orang yang berlalu-lalang. Aku mencoba
memastikan penglihatanku. Aku berjalan cepat menuju tempat aku melihat Pak
Giman. Namun, ia memang sudah menghilang tanpa jejak. Kemudian ibu memanggilku
dan aku menghampirinya dengan rasa heranku terhadap kejadian barusan. Apakah itu
imajinasi? Atau halusinasi? Akhirnya aku pulang bersama ibuku.
Setelah semua urusanku di kampus selesai, aku segera membuat surat lamaran
pekerjaan ke sebuah rumah sakit. Tidak memakan waktu lama, aku pun dipanggil
dan diterima di rumah sakit tersebut. Semua berjalan seperti adanya, aku
memeriksa pasien, dan merawatnya hingga sehat kembali. Semua ku lakukan dengan
segenap tenagaku. Hingga suatu hari, aku sedang duduk menunggu pasien, datang
pasien yang ku tunggu duduk di depan mejaku. Aku terkejut melihat wajah pasien
itu, ia begitu mirip dengan Pak Giman, hanya saja ia jauh lebih muda bahkan
lebih muda dariku.
“Ya, ada yang bisa saya bantu?”, tanyaku dengan suara sedikit ragu.
“Anu dok, saya mau melakukan pemeriksaan badan saya untuk mengikuti seleksi
akademi kepolisian”, ujarnya sedikit terbata. “Tapi saya tidak punya uang sama
sekali dok. Saya dengar, untuk dapat lulus seleksi masuk akademi kepolisian,
saya harus membayar dokter yang memeriksa kesehatan saya”.
Aku tersenyum, dengan merapikan data-data pasien itu aku berkata “Tidak
apa-apa, tidak usah bayar juga tidak apa-apa. Tapi kamu janji sama saya, jangan
melihat saya sama dengan dokter-dokter seperti itu ya”.
Pasien itu kemudian mengangkat kepalanya dan memercikkan ekspresi senang. Melihat
ekspresinya, ada kelegaan dalam hatiku. Lalu, aku membaca data diri dari pasien
tersebut mencari nama dari pasien mudaku itu. “Namamu Subagyo ya, salam kenal,
saya Dokter Arya”, sapaku hangat. “Oke, kita mulai, coba buka mulutnya, aahh”. Aku
memeriksanya hingga tak terasa sudah satu jam berlalu.
“Hasilnya akan selesai diurus suster nanti sekitar tigapuluh menit lagi”,
ujarku.
“Terima kasih dok, akhirnya saya bisa mewujudkan mimpi sempurnaku”, ujar Bagyo.
Mendengar kata-katanya barusan, aku tersentak. “Mimpi sempurna? Ya, memang
itu harus kau kejar”, ujarku menyemangati Bagyo.
“Kata bapak saya dok, Ketika kamu menjadi sesuatu berdasarkan mimpimu, maka
kau akan menjalaninya dengan tulus. Tak peduli rintangan dan hal-hal menghambat
di depanmu. Mimpi yang sempurna ialah mimpi yang kau niatkan dalam hati, kau
rancang dalam imaji, dan kau tuju dengan ketulusan dan kesungguhan hati. Dan,
saya selalu mengingatnya hingga kini”, kisah Bagyo dengan semangatnya.
Aku pun semakin tersentak. Apakah mungkin ia anak dari Pak Giman? Aku pun
memberanikan diri untuk bertanya padanya, “Maaf, kalo boleh saya tahu, siapa
nama bapak mas?”.
“Oh, bapak saya namanya Sugiman. Orang biasa memanggilnya Pak Giman”,
terang Bagyo dengan polos.
“Pak Giman? Kamu anak Pak Giman?”, tanyaku dengan kaget.
Keheranan, Bagyo pun menjawab, “Iya dok, memangnya ada apa ya?”.
“Dia orang yang berjasa buat saya. Bisa pertemukan saya dengan beliau?”,
ujarku.
“Umm..”, ragu Bagyo, “Bapak sudah meninggal dok, tahun kemarin ia meninggal
karena sakit”.
Aku pun kaget dan tidak menyangka. Bagaimana bisa ia meninggal tahun
kemarin dan aku melihatnya ketika aku wisuda. Lalu, kami berbincang mengenai
Pak Giman. Hingga aku meminta Bagyo mengantarkanku ke makan Pak Giman.
Sepanjang perjalanan menuju pemakaman, Bagyo dan aku bertukar cerita
tentang Pak Giman. Ia mengajarkan anaknya sama seperti mengajarkan aku, yakni
percaya akan mimpi dan teru mengejarnya. Aku pun masih tidak percaya bahwa Pak
Giman sudah meninggal, karena aku begitu nyata melihatnya hadir dan tersenyum
padaku saat wisudaku. Akhirnya mobilku sampai di sebuah tempat pemakaman. Aku dipandu
oleh Bagyo menuju makam Pak Giman.
Setelah beberapa menit, aku sampai di sebuah makam sederhana. Tiada dihiasi
oleh keramik, hanya papan kayu saja. Di papan kayu itu tertulis, nama Sugiman
Bin Cahyadi. Benar, ini memang benar makam Pak Giman. Aku pun tak kuasa menahan
airmataku, sudah lama aku tidak menangis semenjak bertemu dengan Pak Giman. Kini,
ketika aku berhasil mewujudkan mimpiku, Pak Giman telah tiada. Lalu, aku
melihat Bagyo, melihat wajah polosnya, aku pun berniat untuk membantu anak itu
menggapai mimpinya, seperti Pak Giman yang membantuku menemukan mimpi
sempurnaku.
“Aku berjanji Pak Giman, akan aku bantu Bagyo dan adik-adiknya menemukan
mimpinya, seperti bapak yang membantuku menemukan mimpi sempurnaku. Hanya ini
yang bisa ku perbuat untuk membalas budi baikmu. Dan, hidupku akan berarti jika
dapat menjadi bagian dari mimpi yang sempurna bagi Bagyo serta adik-adiknya. Aku
berjanji padamu. Selamat jalan Pak Giman, damai tentramlah di dalam kisah mimpi
yang sempurnaku”, ucapku dalam hati. Aku dan Bagyo kemudian bergegas meninggalkan
pemakaman.
Terinspirasi dari lagu peterpan yang berjudul "mimpi yang sempurna".
Selasa, 26 Juni 2012
Kesalahan Ada Untuk Dipelajari
Bila memandang daun menari bersama angin
Membuatku berangan, andai kehidupanku seindah tarian daun
dan angin
Sederhana, bermakna, dan melegakan dalam tiap geraknya
Aku iri pada daun dan angin yang menari dengan indahnya
Bila memandang hujan berpacu dengan petir yang
menggelegar
Membuatku berpikir, andai langkahku setegas petir yang
menyertai hujan
Mungkin kesalahan hidup tak akan mekar
Menyulitkan langkahku menapaki jalan panjang yang
terbentangkan
Andai kala bermurah hati
Ingin aku membujuknya
Memberikan satu kesempatan
Kembali ke masa-masa itu, sebelum terjadi kesalahan
Aku ingin menampar diriku pada masa itu, yang telah buta
matanya
Oleh keegoisan diri
Namun itu hanya ada dalam fantasi semata
Bila memang kala menawarkan itu padaku
Aku tak ingin mengambil kesempatan itu
Karena kembali pada kala yang menyenangkan itu
Hanya menjegalku dari pemaknaan hidup berani dan dewasa
Kesalahan ada untuk dipelajari
Kesalahan ada untuk mengindahkan tarian kehidupan manusia
Tak ada salah, sama saja menjalani hidup dalam dunia
fantasi
Di mana setiap lelaki adalah pengeran dan tiap perempuan
adalah putri raja
Langganan:
Postingan (Atom)