Manusia di bumi terlahir sama
Tak ada pembeda, meski berbeda
Semua sama, tak ada miskin atau kaya
Hanya satu pembeda
Cara menghidupi hidup dalam keunikan dunia
Manusia di bumi tercipta atas cinta
Buah cinta sepasang manusia
Dengan karunia Tuhan Maha Penguasa
Cinta yang tulus tiada tara
Murni, bila dijaga dengan nurani terdalam manusia
Manusia di bumi tercerahkan dari pengetahuan dunia
Ilmu dari buah pengalaman manusia
Pengetahuan dari tanda-tanda alam semesta
Diolah dalam konsep di kepala
Diujarkan dengan retorika
Manusia di bumi, keberagaman membentuk kesatuan semesta
Pondasi nafas hakiki kehidupan peradaban dunia
Baik yang kelam maupun bercahaya
Manusia adalah manusia
Dinamis dalam evolusi tak berhenti, berkutat penuhi jelujur konsep di kepala
Menuangkan dalam kanvas, ilmu baru terus lahir bergantian dalam tiap generasi manusia
Manusia di bumi
Makhluk mendekati
Kesempurnaan hakiki
Dengan dinamika kekurangan di satu hari
Dan kelebihan di lain hari
Manusia di bumi
Diciptakan untuk bermimpi
Berkreasi mewujudkan mimpi
Melalui ancangan imaji
Bukan sekedar kesenangan dalam fantasi
Manusia di bumi
Kebanggaan pertiwi
Buah hasil kimiawi
Diberkahi hati
Untuk digunakannya nurani
Dalam memandang kegoncangan yang menanti
Di depan nanti
Di masa depan yang dinanti
Manusia adalah makhluk terberkahi
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Minggu, 24 Februari 2013
Senin, 04 Februari 2013
Pemuda, Nasib dan Kenyataan
Lidah ini kelu sejuta asa
Tak dapat meramu ucapan sedemikian rupa
Sehingga dapat menghibur sekumpulan pemuda
Di sebuah peraduan nasib dan kenyataan
Para pemuda tak ikhlas hati
Para pemuda berperang nurani
Membawa sebongkah igauan hakiki
Guna menyebulkan nasib dan kenyataan
Sungguh, melodi lagu itu
Sudah tak terdengar merdu
Lagu itu menjelma jadi sebuah gerutu
Akan kesialan nasib dan kenyataan
Sudah beberapa sore
Mengaumkan deritanya dalam aliran sake
Pemuda mabuk dan serasa sial tertusuk sate
Mereka murka salahkan nasib dan kenyataan
Mereka terdiam memandang sebuah foto
Mereka lupa bahwa leluhur pernah tersohor
Pemuda lupa dan meraung karena sebuah foto
Penyesalan mereka atas nasib dan kenyataan
Tak dapat meramu ucapan sedemikian rupa
Sehingga dapat menghibur sekumpulan pemuda
Di sebuah peraduan nasib dan kenyataan
Para pemuda tak ikhlas hati
Para pemuda berperang nurani
Membawa sebongkah igauan hakiki
Guna menyebulkan nasib dan kenyataan
Sungguh, melodi lagu itu
Sudah tak terdengar merdu
Lagu itu menjelma jadi sebuah gerutu
Akan kesialan nasib dan kenyataan
Sudah beberapa sore
Mengaumkan deritanya dalam aliran sake
Pemuda mabuk dan serasa sial tertusuk sate
Mereka murka salahkan nasib dan kenyataan
Mereka terdiam memandang sebuah foto
Mereka lupa bahwa leluhur pernah tersohor
Pemuda lupa dan meraung karena sebuah foto
Penyesalan mereka atas nasib dan kenyataan
Perempuan dan Kesedihannya
Pelangi indah di mata itu
Isyarat hujan kegundahan
Dalam palung hati seorang perempuan
Ia, perempuan idaman
Ia, perempuan harapan
Tak sanggup menatap rembulan
Karena matanya terkubangkan air mata yang tak mau dikeluarkan
Wajahnya sengaja tak dipalingkan
Karena ia ingin dunia menatap kesedihan
Dari rona wajah yang memucat dan penuh kerutan
Ia, perempuan yang syarat akan duka dalam hati penuh pergolakan
Dunia tak sadar akan dirinya
Tanah yang dipijaknya sudah lelah membantunya
Dan kini, tak ada yang memperhatikannya
Isyarat hujan kegundahan
Dalam palung hati seorang perempuan
Ia, perempuan idaman
Ia, perempuan harapan
Tak sanggup menatap rembulan
Karena matanya terkubangkan air mata yang tak mau dikeluarkan
Wajahnya sengaja tak dipalingkan
Karena ia ingin dunia menatap kesedihan
Dari rona wajah yang memucat dan penuh kerutan
Ia, perempuan yang syarat akan duka dalam hati penuh pergolakan
Dunia tak sadar akan dirinya
Tanah yang dipijaknya sudah lelah membantunya
Dan kini, tak ada yang memperhatikannya
Rabu, 05 Desember 2012
Deru Sendu
Ingin aku mencoba
Menjadi air yang mengalir
Namun selalu berakhir jadi limbah
Ingin aku mencoba
Menjadi udara yang berhembus
Namun selalu berkelok bagai asap polusi
Ingin aku mencoba
Menjadi pupuk yang tertanam
Namun selalu mengendap jadi racun kimiawi
Belumlah aku menemukan
Jadi apakah aku ini
Menjadi nafas bagi kehidupan
Atau menjadi arit yang mengambil kehidupan
Menjadi air yang mengalir
Namun selalu berakhir jadi limbah
Ingin aku mencoba
Menjadi udara yang berhembus
Namun selalu berkelok bagai asap polusi
Ingin aku mencoba
Menjadi pupuk yang tertanam
Namun selalu mengendap jadi racun kimiawi
Belumlah aku menemukan
Jadi apakah aku ini
Menjadi nafas bagi kehidupan
Atau menjadi arit yang mengambil kehidupan
Diskusi Pada Debu 1
Terkadang terpikir olehku
Bagaimana bisa bumi berputar pada porosnya?
Tanpa aku merasakan pergerakannya
Dan hanya bumi, tumbuhan, serta binatang yang mampu merasakannya
Apakah aku ada di bumi?
Atau sekedar rekayasa?
Tak pernah terpikir lelah olehku
Hanya sekelebatan dan pergi bersama angin
Begitu pula dengan hasrat
Betapa aku tak pernah tahu apa itu hasrat
Bentuk rupanya, datang dan perginya
Datang tidak ada tanda, pergi pun sekenanya
Hanya dedaunan runtuh yang selalu menyadarkan aku
Bahwa aku nyata, dapat menggenggamnya
Meski akhirnya aku menghancurkan daun runtuh itu
Dalam genggaman setengah lembut kekuatannya
Berpalang pada tanya dan bersanggah pada seru
Aku menikmati dan melarikan diri
Dari makna keberadaanku
Di atas bumi yang berputar pada porosnya
Bagaimana bisa bumi berputar pada porosnya?
Tanpa aku merasakan pergerakannya
Dan hanya bumi, tumbuhan, serta binatang yang mampu merasakannya
Apakah aku ada di bumi?
Atau sekedar rekayasa?
Tak pernah terpikir lelah olehku
Hanya sekelebatan dan pergi bersama angin
Begitu pula dengan hasrat
Betapa aku tak pernah tahu apa itu hasrat
Bentuk rupanya, datang dan perginya
Datang tidak ada tanda, pergi pun sekenanya
Hanya dedaunan runtuh yang selalu menyadarkan aku
Bahwa aku nyata, dapat menggenggamnya
Meski akhirnya aku menghancurkan daun runtuh itu
Dalam genggaman setengah lembut kekuatannya
Berpalang pada tanya dan bersanggah pada seru
Aku menikmati dan melarikan diri
Dari makna keberadaanku
Di atas bumi yang berputar pada porosnya
Minggu, 02 Desember 2012
Sendu 1
Bermukim pada kedukaan
Bukan sebuah kenangan antara hidup dan mati
Berjalan di atas titian kepekaan
Bukan sebuah paksaan memahami
Senja dan subuh
Di antara perantara waktu dunia
Leleh dan luluh
Bersenda gurau dalam kelangkaan kemanusiaan
Pohon layu dan bibit tumbuh
Waktu berjalan, waktu berlalu
Sunyi dan ramai pun bersebrangan
Hanya selalu bersandingan sambil lalu
Bernadi di atas tubuh
Dunia bermandikan sahaja kedukaan semu
Sampai nanti, sampai tubuh ini luluh
Hanya kepada angin dan awan
Cerah hari akan ku bagikan
Bukan sebuah kenangan antara hidup dan mati
Berjalan di atas titian kepekaan
Bukan sebuah paksaan memahami
Senja dan subuh
Di antara perantara waktu dunia
Leleh dan luluh
Bersenda gurau dalam kelangkaan kemanusiaan
Pohon layu dan bibit tumbuh
Waktu berjalan, waktu berlalu
Sunyi dan ramai pun bersebrangan
Hanya selalu bersandingan sambil lalu
Bernadi di atas tubuh
Dunia bermandikan sahaja kedukaan semu
Sampai nanti, sampai tubuh ini luluh
Hanya kepada angin dan awan
Cerah hari akan ku bagikan
Rabu, 21 November 2012
Balada Rindu Bumi
Senda gurau malam pada sang rumput
Menandakan harmoni yang selaras keindahannya
Nostalgia mentari pada sang langit
Menandakan cumbu rayu dunia pada kenikmatannya
Bahu-membahu petir dan hujan
Memberikan sebuah jejak kehidupan
Kehadiran mereka, hanya sesaat
Di kala awan sedang bersenang-duka
Perlu diingatkan angin, bahwa bumi sudah tak kuasa rindu
Pada celoteh bintang yang kian meniris
Sudikah asteroid-asteroid itu menyampaikan rindu bumi pada bintang?
Harusnya, mereka sudi, karena bumi tak bisa sampaikannya sendiri
Menandakan harmoni yang selaras keindahannya
Nostalgia mentari pada sang langit
Menandakan cumbu rayu dunia pada kenikmatannya
Bahu-membahu petir dan hujan
Memberikan sebuah jejak kehidupan
Kehadiran mereka, hanya sesaat
Di kala awan sedang bersenang-duka
Perlu diingatkan angin, bahwa bumi sudah tak kuasa rindu
Pada celoteh bintang yang kian meniris
Sudikah asteroid-asteroid itu menyampaikan rindu bumi pada bintang?
Harusnya, mereka sudi, karena bumi tak bisa sampaikannya sendiri
Minggu, 12 Agustus 2012
Jejak Kehidupan (2)
Biarkan senja menjadi narator kenangan kita bersama
Biarkan ia membacakan bait-bait keberadaan kita
Agar dunia mengerti, betapa jalur kehidupan kita
Bertemu dalam sebuah rangkulan hangat, sebuah bukti kita keluarga
Candamu, menjadi awan teduh bagiku
Candaku, menjadi angin sejuk bagimu
Kebahagiaan hakiki, kebahagiaan bersama
Sedihmu, menjadi sesak di hatiku
Sedihku, menjadi peretak di hatimu
Kesedihan hakiki, kesedihan berpeluk kasih
Bilamana hari itu datang
Biarkan senja mengisahkan kisah kita
Pada generasi mendatang
Agar kebersamaan ini menjadi abadi dalam kebersamaan mereka
Tiada awan kelabu mampu palingkan ikatan ini
Tiada badai berdecit mampu putuskan genggaman tangan ini
Karena aku dan engkau, berpeluh bersama dalam kesenangan dan kedukaan
Saling memaknai maksud keberadaan diri dalam keberbedaan
Biarkan ia membacakan bait-bait keberadaan kita
Agar dunia mengerti, betapa jalur kehidupan kita
Bertemu dalam sebuah rangkulan hangat, sebuah bukti kita keluarga
Candamu, menjadi awan teduh bagiku
Candaku, menjadi angin sejuk bagimu
Kebahagiaan hakiki, kebahagiaan bersama
Sedihmu, menjadi sesak di hatiku
Sedihku, menjadi peretak di hatimu
Kesedihan hakiki, kesedihan berpeluk kasih
Bilamana hari itu datang
Biarkan senja mengisahkan kisah kita
Pada generasi mendatang
Agar kebersamaan ini menjadi abadi dalam kebersamaan mereka
Tiada awan kelabu mampu palingkan ikatan ini
Tiada badai berdecit mampu putuskan genggaman tangan ini
Karena aku dan engkau, berpeluh bersama dalam kesenangan dan kedukaan
Saling memaknai maksud keberadaan diri dalam keberbedaan
Jejak Kehidupan (1)
Suara-suara yang bergumul dalam benak
Saling berpeluh dalam jenuh sejenak
Palung kehidupan yang berorasi
Di tiap jengkal selaksa nafas hakiki
Perlahan hutan pun berdendang
Mengumandangkan seru-seru kehidupan
Benak yang dianugerahi perlu bersenang
Agar penat jenuh berlalu dengan kelegaan
Kumandang hutan bermakna jejak di atas bumi
Berdecak kagum pada goresan tarian pena
Dari jemari manusia mengukir kisah terkasihi
Di dalam aliran kenangan hati
Serukanlah, walau hanya sedetik
Kumandang itu, agar se-antero jagad memaknainya
Menjadi sebuah kisahan termegah dan terbaik
Menjadi jelmaan kisah hidup yang terus terpandangi di antara jejak lainnya
Serukanlah, walau hanya dengan sejengkal suara
Kumandangkan itu, agar dirimu tak menyesal nantinya
Bilamana nafasmu sudah beradu di peraduan nyawa
Bilamana belum sempatlah dirimu mengabadikan bukti dirimu ada di dunia
Saling berpeluh dalam jenuh sejenak
Palung kehidupan yang berorasi
Di tiap jengkal selaksa nafas hakiki
Perlahan hutan pun berdendang
Mengumandangkan seru-seru kehidupan
Benak yang dianugerahi perlu bersenang
Agar penat jenuh berlalu dengan kelegaan
Kumandang hutan bermakna jejak di atas bumi
Berdecak kagum pada goresan tarian pena
Dari jemari manusia mengukir kisah terkasihi
Di dalam aliran kenangan hati
Serukanlah, walau hanya sedetik
Kumandang itu, agar se-antero jagad memaknainya
Menjadi sebuah kisahan termegah dan terbaik
Menjadi jelmaan kisah hidup yang terus terpandangi di antara jejak lainnya
Serukanlah, walau hanya dengan sejengkal suara
Kumandangkan itu, agar dirimu tak menyesal nantinya
Bilamana nafasmu sudah beradu di peraduan nyawa
Bilamana belum sempatlah dirimu mengabadikan bukti dirimu ada di dunia
Selasa, 26 Juni 2012
Kesalahan Ada Untuk Dipelajari
Bila memandang daun menari bersama angin
Membuatku berangan, andai kehidupanku seindah tarian daun
dan angin
Sederhana, bermakna, dan melegakan dalam tiap geraknya
Aku iri pada daun dan angin yang menari dengan indahnya
Bila memandang hujan berpacu dengan petir yang
menggelegar
Membuatku berpikir, andai langkahku setegas petir yang
menyertai hujan
Mungkin kesalahan hidup tak akan mekar
Menyulitkan langkahku menapaki jalan panjang yang
terbentangkan
Andai kala bermurah hati
Ingin aku membujuknya
Memberikan satu kesempatan
Kembali ke masa-masa itu, sebelum terjadi kesalahan
Aku ingin menampar diriku pada masa itu, yang telah buta
matanya
Oleh keegoisan diri
Namun itu hanya ada dalam fantasi semata
Bila memang kala menawarkan itu padaku
Aku tak ingin mengambil kesempatan itu
Karena kembali pada kala yang menyenangkan itu
Hanya menjegalku dari pemaknaan hidup berani dan dewasa
Kesalahan ada untuk dipelajari
Kesalahan ada untuk mengindahkan tarian kehidupan manusia
Tak ada salah, sama saja menjalani hidup dalam dunia
fantasi
Di mana setiap lelaki adalah pengeran dan tiap perempuan
adalah putri raja
Kamis, 21 Juni 2012
Penantianmu
Padang ini akan menyertai ingatanku
Penanda akan keperihatinan atas rindu api pada air
Selam malam memberikan rasa kehangatan padaku
Selumpur pun aku ingat, karena kau terindah dalam syair
Peluk angin pada bambu
Pelak waktu yang berkalang lalu
Sebelum bintang itu pun bersinar
Selalu aku memandangnya dan berusaha membuatnya membinar
Perinduan akan keadaanmu
Perinduan pada keelokan dirimu
Sendawa tawa pun terpancar
Selang kala pun tak papar
Parang ini pun akhirnya tak dapat melukaiku
Perang demi mewujudkan kala kebersamaanku dan mu
Sela-sela hujan selalu melindungi pijar
Sepuluh nyawa yang terpencar
Penantianmu, kala musim depan akan terwujudkan olehku
Pelaksanaan janji hatiku pada dunia, saksi keseriusan menggapai rembulan untukmu
Secuil saja, aku akan berusaha mempersembahkan bintang berpijar
Supaya embun-embun keraguan itu mampu tergeser, tak terpancar
Penanda akan keperihatinan atas rindu api pada air
Selam malam memberikan rasa kehangatan padaku
Selumpur pun aku ingat, karena kau terindah dalam syair
Peluk angin pada bambu
Pelak waktu yang berkalang lalu
Sebelum bintang itu pun bersinar
Selalu aku memandangnya dan berusaha membuatnya membinar
Perinduan akan keadaanmu
Perinduan pada keelokan dirimu
Sendawa tawa pun terpancar
Selang kala pun tak papar
Parang ini pun akhirnya tak dapat melukaiku
Perang demi mewujudkan kala kebersamaanku dan mu
Sela-sela hujan selalu melindungi pijar
Sepuluh nyawa yang terpencar
Penantianmu, kala musim depan akan terwujudkan olehku
Pelaksanaan janji hatiku pada dunia, saksi keseriusan menggapai rembulan untukmu
Secuil saja, aku akan berusaha mempersembahkan bintang berpijar
Supaya embun-embun keraguan itu mampu tergeser, tak terpancar
Jumat, 15 Juni 2012
Apa Bisa Aku Menghapus?
Berjalan di atas mata pedang
Tak akan sesakit ini
Rasa sakit atas sebuah penyesalan yang meninggalkan lubang
Penyesalan atas perbuatan tanpa dasar nurani
Rasa kepemilikan tak harus berlebihan
Semua ada takarannya
Sesuatu yang berlebihan
Hanya membawa mala petaka
Kesenduan ini adalah buah nestapa
Dari perbuatan atas keegoan berikan lupa
Rasa memiliki sehingga takut kehilangan
Membuat keengganan melihat dengan hati dan kebijaksanaan
Kelu lidah tak bergeming
Saat nyala amarahnya menggelegar
Tak ada sejengkal jaripun mampu menghilangkan hening
Sebuah anomali kehidupan melayukan sekar
Perbuatan ini telah kurasa ganjarannya
Berbuah pahit karena bibit kemunafikan
Selongsong hati tak tenang hingga kini
Merasa ada yang salah pada keberadaan diri
Entah, apa bisa aku menghapus?
Setiap jengkal derita atas perbuatan sendiri
Menjauhkan kehangatan, hanya karena keinginan memuaskan rasa rakus
Semua berawal dari gelapnya mata nurani
Keindahan itu yang membuat gelap jiwa
Merasa ingin memonopoli sendiri
Semua kedigdayaan hati ingin merangkuhnya
Dalam setiap relung-relung estetika yang terhadiri
Tak akan sesakit ini
Rasa sakit atas sebuah penyesalan yang meninggalkan lubang
Penyesalan atas perbuatan tanpa dasar nurani
Rasa kepemilikan tak harus berlebihan
Semua ada takarannya
Sesuatu yang berlebihan
Hanya membawa mala petaka
Kesenduan ini adalah buah nestapa
Dari perbuatan atas keegoan berikan lupa
Rasa memiliki sehingga takut kehilangan
Membuat keengganan melihat dengan hati dan kebijaksanaan
Kelu lidah tak bergeming
Saat nyala amarahnya menggelegar
Tak ada sejengkal jaripun mampu menghilangkan hening
Sebuah anomali kehidupan melayukan sekar
Perbuatan ini telah kurasa ganjarannya
Berbuah pahit karena bibit kemunafikan
Selongsong hati tak tenang hingga kini
Merasa ada yang salah pada keberadaan diri
Entah, apa bisa aku menghapus?
Setiap jengkal derita atas perbuatan sendiri
Menjauhkan kehangatan, hanya karena keinginan memuaskan rasa rakus
Semua berawal dari gelapnya mata nurani
Keindahan itu yang membuat gelap jiwa
Merasa ingin memonopoli sendiri
Semua kedigdayaan hati ingin merangkuhnya
Dalam setiap relung-relung estetika yang terhadiri
Biarkan Angin Sampaikan Pesanku
Jika menjadi abu lebih baik
Maka biarkan aku menjadi abu
Agar aku bisa menjadi sesuatu yang baik
Untuk selalu bersamamu
Jika menjadi batu aku bisa dekat denganmu
Maka biarkan aku menjadi batu
Menjadi dekat kembali denganmu
Meski aku tak dapat memiliki nuranimu
Jika menjadi asap aku bisa menyertaimu
Maka biarkan aku menjadi asap
Sehingga aku bisa menemani langkahmu
Dalam tiap langkah berderap
Aku hanya ingin berada dekat denganmu
Tidak ada maksud hati untuk lebih dari itu
Keadaan kemarin menjemukan aku
Membuatku merasa bersalah seumur nafasku
Kesalahan itu mengajarkan aku
Menjadi ikhlas atas keberadaanmu
Dan kini aku bahagia melihatmu
Bersama dengan dia, tambatan hati yang mampu menopangmu
Kini, aku ikhlas, karena selama jengkal waktu itu
Aku buta, tak ada rasa syukur dalam nadiku
Syukur atas kehidupan yang sudah berpeluh warna
Lebih indah dari goresan pelangi surga
Bilamana ada angin yang menyapamu nanti
Izinkan angin itu memberikan pesan maafku
Mungkin kau tak akan menerima permintaan maafku
Namun, izinkan pesan itu memberitahumu, sebuah penyesalan hati
Perlahan namun pasti, dunia kita akan berbeda
Perlahan namun pasti, keindahan masa lalu akan sirna
Biarlah pesanku melalui angin
Menjadi bekalku mengenangmu dalam sebuah goresan tinta yang bermain
Maka biarkan aku menjadi abu
Agar aku bisa menjadi sesuatu yang baik
Untuk selalu bersamamu
Jika menjadi batu aku bisa dekat denganmu
Maka biarkan aku menjadi batu
Menjadi dekat kembali denganmu
Meski aku tak dapat memiliki nuranimu
Jika menjadi asap aku bisa menyertaimu
Maka biarkan aku menjadi asap
Sehingga aku bisa menemani langkahmu
Dalam tiap langkah berderap
Aku hanya ingin berada dekat denganmu
Tidak ada maksud hati untuk lebih dari itu
Keadaan kemarin menjemukan aku
Membuatku merasa bersalah seumur nafasku
Kesalahan itu mengajarkan aku
Menjadi ikhlas atas keberadaanmu
Dan kini aku bahagia melihatmu
Bersama dengan dia, tambatan hati yang mampu menopangmu
Kini, aku ikhlas, karena selama jengkal waktu itu
Aku buta, tak ada rasa syukur dalam nadiku
Syukur atas kehidupan yang sudah berpeluh warna
Lebih indah dari goresan pelangi surga
Bilamana ada angin yang menyapamu nanti
Izinkan angin itu memberikan pesan maafku
Mungkin kau tak akan menerima permintaan maafku
Namun, izinkan pesan itu memberitahumu, sebuah penyesalan hati
Perlahan namun pasti, dunia kita akan berbeda
Perlahan namun pasti, keindahan masa lalu akan sirna
Biarlah pesanku melalui angin
Menjadi bekalku mengenangmu dalam sebuah goresan tinta yang bermain
Balada Cinta
Perihal cinta, perihal hati
Tak dapat disembunyikan dalam genggaman
Kesunyian pun selalu membuatnya terungkapkan
Masalah hati selalu terpantuli
Perihal cinta, perihal asmara
Muncul tumbuh berkembang layu
Hadir semangati hidup, hadir membawa sengsara
Seakan hidup selalu payu
Sendawa itu hanya akan terkenang
Candaan itu hanya akan terekam
Semua menjadi abu menggenang
Membuat malam mencekam
Perihal cinta, perihal kedigdayaan
Hadir kapanpun, tak dinyana dan diduga
Serak suara melakukan penyangkalan
Tetap mampu bawa duka
Cinta seperti pisau
Saat salah digunakan, akan membuat luka
Saat tepat guna, akan membuka ketulusan dari relung jiwa
Cinta seperti sungai
Terlalu terbuai, akan hanyut termakan arus
Terlalu berhati-hati, tak mampu nikmati arus
Cinta seperti pohon
Ketika bersemi di musimnya akan bermekaran indah
Ketika bersemi di luar musimnya hanya akan memberikan nuansa gundah
Cinta dapat mengubah dunia
Menjadi lebih baik
Atau menjauh dari keadaan baik
Cinta akan indah pada masanya
Perlu pemaknaan
Perlu penelaahan
Agar tidak salah rasa itu muncul
Agar rasa itu muncul bukan suatu kesalahan
Jakarta, 15 Juni 2012
Tak dapat disembunyikan dalam genggaman
Kesunyian pun selalu membuatnya terungkapkan
Masalah hati selalu terpantuli
Perihal cinta, perihal asmara
Muncul tumbuh berkembang layu
Hadir semangati hidup, hadir membawa sengsara
Seakan hidup selalu payu
Sendawa itu hanya akan terkenang
Candaan itu hanya akan terekam
Semua menjadi abu menggenang
Membuat malam mencekam
Perihal cinta, perihal kedigdayaan
Hadir kapanpun, tak dinyana dan diduga
Serak suara melakukan penyangkalan
Tetap mampu bawa duka
Cinta seperti pisau
Saat salah digunakan, akan membuat luka
Saat tepat guna, akan membuka ketulusan dari relung jiwa
Cinta seperti sungai
Terlalu terbuai, akan hanyut termakan arus
Terlalu berhati-hati, tak mampu nikmati arus
Cinta seperti pohon
Ketika bersemi di musimnya akan bermekaran indah
Ketika bersemi di luar musimnya hanya akan memberikan nuansa gundah
Cinta dapat mengubah dunia
Menjadi lebih baik
Atau menjauh dari keadaan baik
Cinta akan indah pada masanya
Perlu pemaknaan
Perlu penelaahan
Agar tidak salah rasa itu muncul
Agar rasa itu muncul bukan suatu kesalahan
Jakarta, 15 Juni 2012
Langganan:
Postingan (Atom)