Rabu, 01 Januari 2014

Pintar Merasa, Bukan Merasa Pintar

Terkadang, manusia lebih bisa merasa pintar daripada pintar merasa. Hal itu sering saya temukan dalam beragam masalah yang ada di sekitar saya. Berpendapat, tapi tidak memahami betul apa yang sekiranya harus diutarakan. Mengkritisi, tapi tidak tahu dasar kritiknya akan sesuatu hal. Sungguh, hal itu sama saja mempermalukan diri sendiri.

Sebenarnya, sah-sah saja untuk berpendapat akan sesuatu hal. Namun, berlindung pada orang lain atau figur tertentu atas pendapatnya yang melempar bola panas sama saja pengecut. Bila tidak puas dengan suatu sistem, ya hadapi sistem itu dan beri satu perubahan yang nyata. Bila tidak suka pada seseorang, hadapi jangan bergumam di belakang dan mencari simpatik opini publik. Kalau tidak berani, ya jangan melemparkan bola api.

Kalau memang ingin mengubah suatu sistem yang dirasa sudah tidak berkenan, cari tahu dulu sejarahnya baru buat suatu mekanisme yang sesuai untuk melakukan perubahan. Jangan sekedar mengeritik, melempar kesalahan lalu bersembunyi. Karena, dengan mempelajari sejarah sistem yang berlaku akan memberikan satu pemahaman mengapa sistem itu berlaku cukup lama. Jangan karena memang tidak suka atas konten-konten tertentu langsung berpendapat, mengeritik, membiaskan sistem tersebut dengan hal-hal yang buruk di mata publik. Melakukan pembenaran yang picik.

Ir. Soekarno pernah berkata, "Jangan Sampai Melupakan Sejarah". Maksud dari perkataan itu bukan sekedar mengingat semata, terjerembak dalam romansa-romansa masa lalu, namun juga untuk dipelajari kesalahan-kesalahan dan kekeliruan atas suatu hal. Sejenak menoleh ke belakang dan memproses maknanya kemudian lakukan gerakan untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan itu. Lihat prosesnya dahulu jangan langsung menyalahkan dan mengatakan hal itu semua keliru. Pelajari dulu, pahami dulu, dan cermati dulu. Hal itu perlu agar ketika melakukan perubahan tidak keliru.

Pada dasarnya segala sesuatu dibuat ada maksud dan tujuannya. Perlu dimaknai dulu sebuah sistem dibuat maksud dan tujuannya. Mungkin saja, melencengnya penerapan sistem tersebut bukan dikarenakan memang sistemnya sudah bobrok melainkan oknum yang melaksanakannya sudah tidak memahami sistem tersebut dan menyalahartikan dengan penalarannya sendiri. Perlu digarisbawahi hal tersebut. Suatu sistem yang baik akan menjadi buruk karena oknum tertentu menyelewengkannya. 

Terkadang juga, ketika kita sedang ada di dalam sistem kita tidak berani untuk berbuat dan cenderung masa bodoh dengan melencengnya sistem tersebut. Tapi, juga jangan jadi pahlawan kesiangan yang dengan gegap gempita berupaya merombak kekeliruan itu dengan biadab. Seharusnya, bila sudah berada di luar sistem tersebut, kita lebih bisa memaknainya secara objektif dan jangan berpegang pada subjektifitas semu. Dan, semestinya, perubahan atas sistem tersebut jangan ketika kita di luar sistem, melainkan ada di dalam sistemnya.

Berupaya mengorkesi sistem di luar sistem dengan pandangan subjektifitas adalah kebodohan. Pasalnya, koreksinya hanya akan berbuah ketidaksesuaian dan ketidakadilan bagi pelaku sistemnya. Bagi pelaku sistemnya tidak akan mampu berpikir logis dan berimbang karena sudah terdapat suatu opini publik. Hal itu sama saja membunuh upaya berkembangnya karakter dari si pelaku sistem. Tindakan macam itu ialah tindakan pengecut dan merusak dinamika dalam sistem tersebut.

Jangan sampai kita mengutuk oknum perusak sistem hingga menjadi bobrok dan melenceng, lalu malah kita yang menjadi sosok yang kita benci. Kebencian hanya melahirkan kebencian. Suatu siklus lingkaran setan, tiada berujung. Seharusnya, menghadapi kebencian dengan kelapangan, agar kebencian itu pun dapat memudar dengan sendirinya. Selama menghadapi suatu kebencian dengan kebencian hanya akan mengafirmasi diri kita menjadi sosok yang kita benci.

Selasa, 24 September 2013

Pulau Pari, Swastanisasi Pulau-Pulau Di Kepulauan Seribu



Indonesia memiliki banyak potensi wisata alam yang dapat dimanfaatkan. Sebut saja kepulauan seribu. Di gugusan pulau yang ada di utara Jakarta itu memiliki beberapa objek wisata dengan keindahan alamnya, salah satunya ialah Pulau Pari. Nama Pari berasal dari bentuk pulau yang menyerupai ikan pari. Pulau ini memiliki penduduk lokal, namun ada kabar yang sedikit miris di telingaku. Kabar bahwa penduduk lokal di pulau Pari tidak memiliki tanahnya sendiri.

Ya, pulau Pari merupakan kepunyaan swasta, begitulah yang ku dengar dari penduduk sekitar sini. Ketika “pemilik” pulau itu suatu saat nanti hendak membangun pulau Pari demi kebutuhannya maka warga lokal pulau Pari harus bersiap angkat kaki. Entah kabar itu benar atau tidak. Hanya saja, saat mendengar hal itu sedikit iba hati saya pada para penduduk pulau itu.

Di pulau Pari, penduduk lokalnya tidak hanya berasal dari satu suku saja. Hal itu saya simpulkan ketika mendengar logat dan dialek yang digunakan oleh para penduduk lokal. Ada yang bersuku sunda dan ada yang bersuku Jawa. Meski demikian, warga pulau itu hanya mengatakan diri mereka orang pulau. Identitas suku mereka seakan dikesampingkan. Kondisi yang sekiranya sesuai dengan jargon K Hadjar Dewantara, Bhinneka Tunggal Ika.

Penduduk di sini pun rata-rata menyewakan rumah tinggal mereka sebagai tempat persinggahan para wisatawan. Saat wisatawan datang menginap, si empunya rumah akan menetap sementara di rumah saudaranya di sisi lainnya pulau Pari. Meski sederhana, rumah yang saya dan teman-teman saya tinggali selama di pulau itu cukup nyaman. Terdapatnya Air Conditioning (AC) di rumah singgah kami salah satu faktornya. Selain itu, di pulau ini terdapat pantai yang bernama Pasir Perawan. Dinamakan demikian, menurut pemandu wisata kami, karena pasir di pantai ini masih segar seperti belum tersentuh. Namun, nyatanya yang ada di lapangan pantai ini sudah cukup terkontaminasi sampah. Ya, sudah pasti sampah yang berasal dari para pelancong-pelancong yang datang ke pantai tersebut.

Selain objek wisata Pantai Pasir Perawan, di Pulau Pari juga terdapat wahana rekreasi lainnya bagi para pelancong. Di antaranya, Banana Boat, Sofa Boat, Cano, Camping Stay, Bersepeda, hingga Snorkling. Dengan wahana-wahana rekreasi tersebut, para wisatawan termanjakan dan menjadi betah selama berlibur di Pulau Pari. Salah satu tujuan tour di Pulau Pari ialah Pulau Tikus. Sebuah kepulauan kecil yang terdapat di gugusan kepulauan Seribu. Pulau tersebut merupakan pulau persinggahan untuk beristirahat bagi para wisatawan yang sudah puas snorkling atau penyelaman dangkal. Hanya saja, kondisi pulau tersebut lebih parah dari Pantai Pasir Perawan. Hal itu dikarenakan banyaknya sampah yang menggunung di sisi pantai pulau tersebut. Sampah-sampah tersebut sangat beragam, mulai dari sisa bungkus makanan hingga botol-botol kaca bekas minuman berenergi. Sungguh kotor pantai tersebut. Bila saja lebih diperhatikan kebersihannya, mungkin Pulau Tikus akan menjadi tempat persinggahan wisatawan sehabis penyelaman yang cukup menyenangkan.

Pantai Pasir Perawan


Kepulauan Swasta

Selama liburan saya di Pulau Pari, banyak hal menarik yang saya terima. Salah satunya ialah informasi bahwa kepulauan seribu kini hampir delapan puluh persennya dimiliki swasta. Informasi itu saya dapat dari salah satu instruktur selam yang kami sewa. Saya tidak menanyakan siapa namanya, hanya saja ia mengajak bicara kami yang tidak menyelam.

Awal Pembicaraan kami ialah mengenai perangkat selam. Ia bercerita bila perlengkapan selam dalam atau diving bisa mencapai tiga juta rupiah seperangkatnya. Ia pun bercerita mengenai spesifikasi baju selam, mulai fungsi hingga ketebalannya. Dari pembicaraan mengenai baju selam, ia pun membicarakan mengenai kehidupan pribadinya. Ia menceritakan tempat berkuliahnya dulu. Ia ternyata lulusan Universitas Negeri Jakarta, begitu pengakuannya. Ia pun bercerita tentang adiknya yang mengambil jurusan Bahasa Inggris di Uhamka. Lalu, sampailah pembicaraan kami ke topik yang menarik, yakni kehidupan warga kepulauan seribu.

Dari pembicaraan dengan instruktur selam tersebut, saya mengetahui bahwa kepulauan seribu hampir delapan puluh persennya milik swasta. Pulau yang benar-benar milik pemerintah kota Jakarta hanya dua puluh persen. Ada beberapa perasaan dan pertanyaan yang saya rasakan, pertama percaya tidak percaya. Dalam benak saya, apakah benar demikian? Kalau begitu, bagaimana nasib warga lokal? Pertanyaan-pertanyaan semacam itu mengganggu pikiran saya. Kedua, bila benar itu semua hampir dimiliki pihak swasta, kenapa pemerintah Jakarta tidak ambil tindakan? Apa memang pemerintah Jakarta tidak mampu mengurusnya? Saya rasa, tidak sepenuhnya milik swasta. Namun, instruktur selam tersebut menyatakan ada beberapa nama terkenal yang memiliki kepulauan seribu. Di antaranya ialah Tomy Winata, keluarga Cendana, Abu Rizal Bakri, dan keluarga Megawati Soekarno Putri.

Kesimpulan yang bisa saya dapat dari pembicaraan dengan instruktur selam tersebut ialah sebagian besar pulau di kepulauan seribu bukan milik warganya, melainkan milik pihak swasta yang sewaktu-waktu bisa mengusir warga lokal dari pulau tersebut, salah satunya Pulau Pari. Adapun, cerita instruktur selam tersebut juga menyentil rasa ingin tahu saya untuk mengetahui lebih lanjut tentang kehidupan warga lokal, khususnya warga Pulau Pari. Namun, waktu yang saya punya tidaklah banyak. Bila suatu saat nanti saya sudah memiliki uang yang cukup, saya akan kembali ke pulau ini untuk mengorek lebih banyak cerita.
 

Senin, 16 September 2013

Orang Tua Untuk Anak-Anak Peradaban I



Kahlil Gibran pernah menuliskan sebuah kalimat yang dahsyat menurut saya dalam buku “Sang Nabi”. Kalimat tersebut ialah “Anakmu bukanlah anakmu, ia anak dari sebuah peradaban”. Kalimat ini sangat menarik bagi saya karena dalam kalimat itu Gibran mengingatkan para orang tua jika anak mereka akan terus berkembang seraya perkembangan suatu peradaban sekitarnya.

Namun, akankah semua orang tua akan siap dengan itu? Harusnya setiap manusia yang sudah siap menjadi orang tua haruslah siap. Karena, disadari atau tidak manusia akan berkembang bersandingan perkembangan zaman di era-nya. Anak akan berkembang sesuai eranya dan era itu akan sulit diikuti orang tuanya nanti. Anak pun akan menjadi bagian dari fondasi berkembangnya suatu peradaban.

Bila dipertanyakan, bagaimanakah menjadi orang tua yang ideal bagi seorang anak? Mungkin sulit untuk menjawabnya dengan sempurna, karena tumbuh berkembangnya anak akan bergantung juga pada lingkungan ia berada. Meskipun demikian, peran orang tua sangat penting sebagai penanam kesadaran moral dan etika dasar pada anak. Apa yang harus diperbuatnya dan apa yang tidak. Orang tua berperan besar dalam penanaman moral dan etika dasar dalam seorang anak.

Saya pun teringat dengan proposisi Jawa “ing ngarsa sing tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani” yang sekiranya menurut saya dapat diterapkan untuk menjadi orang tua ideal bagi seorang anak. Ketika anak masih usia kanak-kanak orang tua hendaknya menjadi teladan mutlak bagi anaknya karena fase itu si anak akan membutuhkan suatu sosok yang akan dijadikan fondasi karakternya. Untuk itu, orang tua hendaknya memiliki kesadaran bahwa anak akan melakukan apapun yang ia lihat. Anak tidak mengerti mana salah dan benar. Orang tua harus memberikan contoh dalam berbagai lini pada anak fase kanak-kanak. Bagaimana bersikap pada orang lain, bagaimana bersosialisasi, apa yang boleh dan tidak untuk dilakukan kepada orang lain dan lain sebagainya.

Beranjak remaja, anak akan memilah-milih sosok yang akan diidolakannya. Baik berasal dari kehidupan sebenarnya maupun dari dunia imajinasinya. Bisa jadi si anak akan mengidolakan pemusik idolanya ataupun mengidolakan tokoh yang ada dalam sebuah cerita fiksi. Untuk itu, orang tua harus mampu mengarahkannya dengan posisi sebagai teman. Orang tua harus mampu untuk mengarahkan kemauan dan kehendak anaknya agar bisa terarah untuk mencontoh sosok idolanya. Hal itu perlu agar anak tidak salah arah dalam mereduplikasi perilaku atau karakter dari tokoh yang diidolakannya. Dalam fase remaja memang sesekali orang tua harus mengubah peran teman menjadi orang tua bila perilaku anak sudah mulai mengkhawatirkan. Namun, tindakan itu merupakan tindakan terakhir bilamana negosiasi dengan si anak tidak berjalan mulus atau mengalami jalan buntu.

Saat sudah dewasa, peran orang tua agaknya harus berubah 180 derajat. Pada fase dewasa, anak akan sulit sekali menuruti orang tua untuk hal-hal yang menurutnya benar. Untuk menghadapi anak pada fase ini, orang tua haruslah menjadi energi pendorong sehingga anak menjadi lebih bertenaga untuk menghadapi masalah-masalah di depannya. Untuk dapat seperti itu, orang tua hendaknya mampu bercengkrama dengan anak dan menjadi penyedia saran serta kebijaksanaan bagi anak. Dengan menyediakan saran dan kebijaksanaan bagi si anak, maka anak akan belajar melihat masalah dari berbagai sudut pandang dan mencari solusi pada suatu masalah dengan seksama.

Menjadi orang tua memanglah tidak mudah. Ia harus memiliki kesabaran, ketelatenan, keuletan, dan determinasi diri sehingga tindak-tanduknya bisa menjadi keteladanan bagi anak. Anak haruslah didampingi oleh orang tuanya hingga kapanpun. Hanya saja, takaran pendampingan orang tua kepada anak berbeda-beda pada fase umurnya. Orang tua yang ideal merupakan orang tua yang mampu mendampingi anaknya dengan fleksibel dan mampu mencari celah untuk dapat berkomunikasi dengan anak.

Selasa, 18 Juni 2013

Momentum Berdikari

Polemik rutin yang sering dihadapi di Indonesia ialah masalah harga BBM (bahan bakar minyak). Kebijakan menaikan harga BBM menjadi satu kebijakan yang non populis. Banyak penentangannya, dengan beragam alasan dan kepentingan. Muncul pertanyaan di dalam benak saya, bila BBM naik memangnya ada apa? Mengapa begitu berpengaruh?

Pertanyaan-pertanyaan yang memang belum sepenuhnya saya pahami mendalam, meski setidaknya saya tahu sedikit mengapa BBM berpengaruh dengan harga sembako. Akhirnya, saya bertanya pada teman saya, kebetulan sarjana ekonomi. Saya bertanya pada teman saya itu, mengapa perubahan harga BBM berpengaruh kepada harga sembako dan beberapa pertanyaan sekitar masalah itu. Teman saya memberikan jawaban singkat nan padat melalui "BBM"-nya. Ia berkata, "Sembako kan butuh biaya transportasi". Sejenak saya merenung dan jawaban singkat teman saya itu memang masuk akal. Tak lama ia menambahkan jawabannya, "Orang-orang yang jualan sembako, yang kerja di toko sembako butuh transportasi untuk dateng kerja. Bensin naik, ongkos berangkat kerja naik, minta naik gaji, diskompensasi ke harga sembako". Penjelasan teman saya itu pun saya cermati seksama. Muncul satu pemahaman bahwa perubahan BBM di Indonesia berdampak sistemik pada perekonomian rakyatnya.

Akan tetapi, ada satu fenomena yang saya catat kemarin dalam benak saya kala menonton penggalan berita sidang paripurna BBM. Ada fenomena "tebar pesona" partai, baik secara terang-terangan mengacungkan jari berjumlah "3" ataupun melalui bahasa-bahasa puitis yang mengatasnamakan rakyat. Dalam sepersekian detik dan menit, mereka sadar kamera, sadar sedang menjadi "selebritis" dadakan, dan sadar betul banyak yang menonton liputan paripurna DPR itu. Sungguh, hanya menggelengkan kepala yang saya lakukan.

Beruntung saya menonton liputan khusus malam itu. Ada satu konklusi yang bisa saya ambil, sebagai seorang pemilik hak suara, yakni saya tidak akan memilih partai "sadar" kamera, tidak akan memilih figur calon pemimpin bangsa berdasarkan partai yang diusungnya, dan yang pasti saya tidak akan memilih partai inkonsisten. Sederhananya, jika tidak ada sosok yang memang saya rasa bisa dan mampu memimpin maka saya tidak akan memilih untuk tidak memilih.

Kembali lagi masalah BBM, menurut saya, pemerintah memang harus menaikan harga BBM. Bukan tidak memandang rakyat tidak mampu ataupun tidak merasakan. Namun, saya berpikir hal itu perlu dilakukan agar Indonesia bisa lebih berdikari. Sebenarnya, banyak yang tidak pernah tersorot media dalam kebiasaan rakyat Indonesia. Bila dibilang miskin, banyak pula rakyat Indonesia yang tidak bisa dan tidak mau mengukur dirinya. Misal, banyaknya yang mengambil kredit kendaraan pribadi sedangkan penghasilan tetap pun belum ada. Dengan mengambil kredit memang membuat rakyat ekonomi menengah ke bawah mampu memiliki kendaraan, namun dengan mengambil kendaraan kredit maka ada pengeluaran rutin perbulan untuk cicilan dan pengeluaran harian untuk BBM. Contoh lainnya ialah "penyesakan" kota sehingga membuat "kampung" kehilangan produktifitasnya. Banyak rakyat di Indonesia yang selalu pergi ke kota dan tidak kembali ke kampungnya. Hal itu membuat kota menjadi semakin padat, lahan produktif pemkot terjejali oleh pendatang sehingga tidak maksimal dalam memanfaatkan lahan serta anggaran, dan membuat kampung kehilangan produktifitas sehingga kampung hanya menjadi "penyetor" sumber daya manusia bukan "penyetor" pendapatan negara. Selain itu, pendatang-pendatang yang kalah juang dalam persaingan di kota tidak segera pulang melainkan menetap dan menambah jumlah pengangguran.

Poin saya, kita perlu sadar diri akan kemampuan diri kita. Peluang untuk menyukseskan diri dapat diciptakan di kampung halaman sendiri. Dengan kampung yang produktif, maka kemungkinan impor Indonesia bisa saja berkurang. Untuk mendukung produktifitas kampung perlulah para ahli turun kampung dan membuat kampung binaan sehingga kampung pun mampu memberikan pendapatan bagi rakyatnya sendiri dan tidak sekedar mengirim sumber daya manusianya ke kota. Selain itu, dengan sadar diri maka ada satu kepastian pemerataan pembangunan di daerah-daerah. Pasalnya, dengan kembalinya orang-orang ke kampung dan membangun kampungnya denga produktifitasnya maka akan infrasturktur pun terbangun. Untuk sampai ke sana, jangan sekedar menyerahkan pada pemerintah daerah. Perlu sikap berdikari dari warga untuk membangun kampungnya sendiri.

Sudah saatnya rakyat Indonesia bangun dari kemanjaannya dan mulai berproduksi. Banyak peluang dan banyak kesempatan yang bisa dibuat. Jangan sekedar menunggu kesempatan ataupun mencari kesempatan, namun buat kesempatan. Sudah saatnya rakyat Indonesia kembali berdikari.

Selasa, 28 Mei 2013

Penggemar Cerdas Tanpa Bullying

Ajang pencarian bakat di manapun dan genre apapun akan menghasilkan seorang bintang yang nantinya akan bersaing di industri entertaintment. Bersinar atau tidaknya si pemenang atau para finalis ajang pencarian bakat tersebut berada di tangan orang tersebut. Hanya saja, bila pemenang dari ajang tersebut tidak berkenan di hati beberapa oknum penggemar maka orang yang memenangkan ajang tersebut akan habis "dilumat". Sungguh tidak manusiawi.

Padahal, di zaman sekarang hampir semua pencarian bakat yang disiarkan di televisi nasional bergantung pada penggemar atau penonton. Jadi, kemenangannya merupakan hasil dari tangan penggemar atau penonton juga. Meski demikian, banyak pula oknum yang kecewa tersebut menyatakan adanya konspirasi di balik voting melalui telepon atau sms tersebut. Selalu saja ada alasan yang dikemukakan untuk mendukung rasa kecewa "jagoannya" kalah.

Segala macam cara dilakukan para penggemar yang "jagoannya" kalah.  Salah satu cara yang paling kejam ialah bullying atau kekerasan tak langsung melalui media sosial. Mencerca, menghina, bahkan terkadang hingga menyinggung salah satu ras atau agama. Sisi bar-bar itu akan selalu keluar pada orang-orang yang hidupnya sebagai penggemar fanatik. Padahal, idola yang mereka usung tidak semua merasa dirugikan dengan keputusan yang diambil oleh penyelenggara ajang pencarian bakat itu. Penggemar-penggemar fanatik di Indonesia sudah pada taraf yang memprihatinkan.

Akhirnya, korbannya ialah orang-orang yang ada dalam ajang pencarian bakat, baik peserta, juri hingga orang-orang di balik layar. Padahal, apa yang mereka lakukan hanya untuk menyuguhkan sebuah pertunjukkan yang menghibur dan dapat membuat orang bisa melemaskan urat saraf dari kesibukan sehari-hari. Namun hal itu tidak bersambut baik, di mata para penggemar fanatik. Sungguh disesalkan.

Perseteruan Semu

Tindakan-tindakan semacam bullying dapat membuat mengubah seseorang, bahkan dapat berpotensi menyebabkan perseteruan antara dua orang atau sekelompok orang. Perputaran perseteruan yang diakibatkan oleh tindakan bullying hanya akan menyebabkan suatu perseteruan semu. Tak ada masalah utamanya, tak ada penyelesaian, dan tak ada pelaku utama. Hanya ada korban dan efek barbarisme massal.

Perseteruan semu antar penggemar fanatik hanya menjadi tontonan publik dan membuat publik semakin kehilangan simpatik pada idola para penggemar fanatik. Tindakan itu hanya akan merugikan sang idola dan membuatnya kehilangan kepercayaan publik. Bagi si penggemar fanatik, mungkin tidak akan terasa efeknya, namun bagi si idola akan dirugikan secara pencitraannya. Seberapapun idola tersebut berprestasi, publik akan selalu melihat kenegatifan penggemar fanatiknya. Akhirnya, idola tersebut benar-benar menjadi satu momok yang ditakuti atau dicibir bukan sebagai sosok yang memang bertalenta.

Entah para penggemar fanatik itu sadar atau tidak, namun, tindakan penggemar fanatik dengan bullying hanya akan berdampak negatif bagi idolanya. Semakin mereka barbar, maka semakin  menurunlah simpatik publik pada sang idola. Niatnya memang baik, menjadi barisan pembela idolanya, namun eksekusinya salah dan cenderung penuh emosi. Untuk membela idola tidak hanya diperlukan niat yang baik namun juga harus disertai tindakan yang tepat.

Bila bicara seada-adanya, maka penggemar fanatik yang "buta" itu hanya satu mekanisme pendorong penjajahan mental melalui ranah hiburan. Ketidaksadaran mereka akan tindakan mereka yang menunjukkan bahwa bangsa Indonesia masih merupakan bangsa inlander atau bangsa terjajah. Menggemari secara membabi-buta itu hanya mengakibatkan satu keruntuhan pondasi mentalitas. Adapun, penggemar seharusnya bisa berbuat selayaknya teman bagi idolanya. Teman yang saya maksud ialah menjadi wadah kritik bila idolanya berbuat salah dan menjadi bahan bakar semangat bila idolanya sedang menjalani atau menghadapi satu cobaan.

Akhir kata, hanya satu yang ingin saya ingatkan, yakni tindakan bullying di media sosial bukanlah tindakan yang tepat dan saya mengecamnya. Ada baiknya bila para penggemar mulai cerdas dan mampu bersikap tepat. Jangan terlalu terbuai pada sebuah fantasi sehingga meninggikan idolanya dan membuatnya seakan-akan melebihi apapun. Cukup menjadi teman bagi idolanya, maka idolanya pun akan selalu berprestasi dan gemilang di jagad industri hiburan tanah air.