Kamis, 21 Juni 2012

Penantianmu

Padang ini akan menyertai ingatanku
Penanda akan keperihatinan atas rindu api pada air
Selam malam memberikan rasa kehangatan padaku
Selumpur pun aku ingat, karena kau terindah dalam syair

Peluk angin pada bambu
Pelak waktu yang berkalang lalu
Sebelum bintang itu pun bersinar
Selalu aku memandangnya dan berusaha membuatnya membinar

Perinduan akan keadaanmu
Perinduan pada keelokan dirimu
Sendawa tawa pun terpancar
Selang kala pun tak papar

Parang ini pun akhirnya tak dapat melukaiku
Perang demi mewujudkan kala kebersamaanku dan mu
Sela-sela hujan selalu melindungi pijar
Sepuluh nyawa yang terpencar

Penantianmu, kala musim depan akan terwujudkan olehku
Pelaksanaan janji hatiku pada dunia, saksi keseriusan menggapai rembulan untukmu
Secuil saja, aku akan berusaha mempersembahkan bintang berpijar
Supaya embun-embun keraguan itu mampu tergeser, tak terpancar

Jumat, 15 Juni 2012

Apa Bisa Aku Menghapus?

Berjalan di atas mata pedang
Tak akan sesakit ini
Rasa sakit atas sebuah penyesalan yang meninggalkan lubang
Penyesalan atas perbuatan tanpa dasar nurani

Rasa kepemilikan tak harus berlebihan
Semua ada takarannya
Sesuatu yang berlebihan
Hanya membawa mala petaka

Kesenduan ini adalah buah nestapa
Dari perbuatan atas keegoan berikan lupa
Rasa memiliki sehingga takut kehilangan
Membuat keengganan melihat dengan hati dan kebijaksanaan

Kelu lidah tak bergeming
Saat nyala amarahnya menggelegar
Tak ada sejengkal jaripun mampu menghilangkan hening
Sebuah anomali kehidupan melayukan sekar

Perbuatan ini telah kurasa ganjarannya
Berbuah pahit karena bibit kemunafikan
Selongsong hati tak tenang hingga kini
Merasa ada yang salah pada keberadaan diri

Entah, apa bisa aku menghapus?
Setiap jengkal derita atas perbuatan sendiri
Menjauhkan kehangatan, hanya karena keinginan memuaskan rasa rakus
Semua berawal dari gelapnya mata nurani

Keindahan itu yang membuat gelap jiwa
Merasa ingin memonopoli sendiri
Semua kedigdayaan hati ingin merangkuhnya
Dalam setiap relung-relung estetika yang terhadiri

Biarkan Angin Sampaikan Pesanku

Jika menjadi abu lebih baik
Maka biarkan aku menjadi abu
Agar aku bisa menjadi sesuatu yang baik
Untuk selalu bersamamu

Jika menjadi batu aku bisa dekat denganmu
Maka biarkan aku menjadi batu
Menjadi dekat kembali denganmu
Meski aku tak dapat memiliki nuranimu

Jika menjadi asap aku bisa menyertaimu
Maka biarkan aku menjadi asap
Sehingga aku bisa menemani langkahmu
Dalam tiap langkah berderap

Aku hanya ingin berada dekat denganmu
Tidak ada maksud hati untuk lebih dari itu
Keadaan kemarin menjemukan aku
Membuatku merasa bersalah seumur nafasku

Kesalahan itu mengajarkan aku
Menjadi ikhlas atas keberadaanmu
Dan kini aku bahagia melihatmu
Bersama dengan dia, tambatan hati yang mampu menopangmu

Kini, aku ikhlas, karena selama jengkal waktu itu
Aku buta, tak ada rasa syukur dalam nadiku
Syukur atas kehidupan yang sudah berpeluh warna
Lebih indah dari goresan pelangi surga

Bilamana ada angin yang menyapamu nanti
Izinkan angin itu memberikan pesan maafku
Mungkin kau tak akan menerima permintaan maafku
Namun, izinkan pesan itu memberitahumu, sebuah penyesalan hati

Perlahan namun pasti, dunia kita akan berbeda
Perlahan namun pasti, keindahan masa lalu akan sirna
Biarlah pesanku melalui angin
Menjadi bekalku mengenangmu dalam sebuah goresan tinta yang bermain

Balada Cinta

Perihal cinta, perihal hati
Tak dapat disembunyikan dalam genggaman
Kesunyian pun selalu membuatnya terungkapkan
Masalah hati selalu terpantuli

Perihal cinta, perihal asmara
Muncul tumbuh berkembang layu
Hadir semangati hidup, hadir membawa sengsara
Seakan hidup selalu payu

Sendawa itu hanya akan terkenang
Candaan itu hanya akan terekam
Semua menjadi abu menggenang
Membuat malam mencekam

Perihal cinta, perihal kedigdayaan
Hadir kapanpun, tak dinyana dan diduga
Serak suara melakukan penyangkalan
Tetap mampu bawa duka

Cinta seperti pisau
Saat salah digunakan, akan membuat luka
Saat tepat guna, akan membuka ketulusan dari relung jiwa

Cinta seperti sungai
Terlalu terbuai, akan hanyut termakan arus
Terlalu berhati-hati, tak mampu nikmati arus

Cinta seperti pohon
Ketika bersemi di musimnya akan bermekaran indah
Ketika bersemi di luar musimnya hanya akan memberikan nuansa gundah

Cinta dapat mengubah dunia
Menjadi lebih baik
Atau menjauh dari keadaan baik
Cinta akan indah pada masanya
Perlu pemaknaan
Perlu penelaahan
Agar tidak salah rasa itu muncul
Agar rasa itu muncul bukan suatu kesalahan

Jakarta, 15 Juni 2012

Sabtu, 19 Mei 2012

Bertoleransi Dalam Hidup

Entah karena memang Lady Gaga yang bermasalah atau otak bangsa ini yang ngeres, perihal konser saja menjadi buah bibir. Padahal, keberadaan Lady Gaga di industri musik internasional bukanlah sesuatu yang membahayakan bagi identitas etika dan moral bangsa ini. Etika dan moral asli binaan para intelektual lokal yang telah ada dalam naskah-naskah ataupun nasihat-nasihat orang tua semakin ditinggalkan. Hampir semua masyarakat di negeri ini melihat pada perspektif tidak original. Seperti, melihat masalah dari perspektif agama saja.

Bagi saya, agama hanyalah baju. Urusan dengan Tuhan semua kembali kepada niatan dan keyakinan diri bahwa dunia ini ada yang menciptakannya. Permasalahan macam konser Lady Gaga bukan untuk dikomentari sebelah mata dengan konteks agama. Masalah terbesar ialah bagaimana pola pendidikan etika dan moral kepada generasi muda. Lihat saja, upaya pemblokiran situs porno yang dilakukan oleh Kementrian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia (Kemenkoinfo RI) tidak sepenuhnya mengurangi pikiran-pikiran ngeres bangsa ini. Masih banyak pelaku penyebaran dan produsen film-film porno yang berbasis 3.gpa ataupun video. Perhatian utama ialah pada pola pikir bangsa ini.

Jika melihat fenomena pelarangan pornoaksi dan pornografi perlu ada sebuah pembatasan dan pengklasifikasian yang jelas. Bagaimana sebuah seni dikatakan sebagai sebuah pornografi? Bagaimana sebuah busana disebut sebagai tindakan pornoaksi? Perlu sebuah kriteria yang jelas. Karena, saat ini, kriteria suatu hal dikatakan sebagai pornografi dan pornoaksi masih samar. Apa seorang yang menggunakan rok empat jari di atas lutut adalah sebuah pornoaksi? Apakah seorang pria dengan celana yang sangat ketat dikatakan pornoaksi? Atau sebuah patung manusia tidak berbusana disebut pornografi? Belum jelas kurasa.

Pun sudah dibuatkan klasifikasi yang jelas, juga masih perlu menindak pola pemikiran yang ngeres. Entah dalam pendidikan formal diajarkan dan didoktrinan masalah berpikir ngeres adalah sebuah keperluan atau memang keharusan. Namun, hendaknya pola pemikiran yang selalu terbelenggu atas nama agama tersebut haruslah diperjelas. Selalu saja, jika ada sebuah seni atau gaya berbusana yang dikatakan seronok memicu kehebohan di negeri ini. Kasus pemerkosaanlah, artis porno ingin datang ke negeri ini lah, dan lain sebagainya.

Perlu sebuah pemikiran bijak. Perlu pemisahan antara stigma-stigma yang kental dengan "porno" sebagai barang tabu dan personal pelaku yang melakukannya. Artis porno pun pasti tidak ingin "bermain" dengan sembarangan orang ketika ada di sebuah negara yang bukan negara asalnya. Coba saja, jika Maria Ozawa datang lagi ke Indonesia, coba ajak dia untuk melakukan hubungan sex. Belum tentulah ia mau.

Bagi para pelaku atau artis porno, sex yang mereka tontonkan adalah upaya mereka meraup rejeki. Sama saja dengan orang bekerja di manapun. Untuk memandang stigma mereka, hendaknya perlu ada toleransi. Karena, mereka menjadi seperti itu merupakan upayanya untuk hidup. Banyak hal di dunia ini yang harus dipandang dengan bijak dan dibumbui rasa toleransi. Tak berbeda dengan Ledy Gaga, ia pun menjadi seperti sekarang juga merupakan upayanya bertahan hidup. Bertahan hidup atau survive merupakan kodrat alam.

FPI Bukan Utusan Tuhan

Masalah yang berkaitan dengan porno-pornoan entah mengapa mengundang para aktivis Front Pembela Islam (FPI) untuk maju perang. Padahal, FPI bukanlah utusan Tuhan dan mereka juga sekelompok manusia yang terkadang khilaf. Aksi-aksi yang dilakukannya pun tidak mencerminkan sebagian besar pemikiran rakyat Indonesia. Seharusnya FPI pun juga bisa memandang sebuah masalah dengan pemikiran yang dingin dan berani melakukan debat tanpa ayat-ayat Al Qur'an--karena itu hanya akan menodai Kitab Suci.

Jika diizinkan menyarankan solusi, hendaknya FPI dan organisasi masyarakat yang vandalis dikirimkan sebagai simpatisan perang untuk membantu Palestina atau negara yang sedang berkonflik. Karena, jika hanya dipelihara di negeri ini, maka kemajemukan bangsa akan ternoda dan muncul sebuah aroganitas homogenitas idelogi. Negara ini bukanlah negara Islam, juga bukan negara Katolik ataupun Budha. Negara ini adalah negara Bhinneka Tunggal Ika. Negara yang menghargai kemajemukan suku bangsa, ideologi, agama, hingga kreatifitas.

Porno atau tidak sebuah tindakan, salah atau benar suatu perbuatan, tidaklah ditentukan oleh sekelompok manusia yang selalu berlindung di balik agama. Kebenaran memiliki unsur subyektifitas dan harus diadu dengan argumen yang kuat. Berdebat dengan ideologi masih lebih kesatria ketimbang maju memprotes dengan mengatasnamakan lambang-lambang tertentu. Dengan sebuah alur perdebatan, maka akan muncul dinamika positif bagi bangsa ini. Sebuah dinamika yang mengajarkan bagi generasi muda arti sebuah perbedaan dan penghargaan atas perbedaan. Selain itu, dinamika perdebatan juga mengajarkan generasi muda untuk bertoleransi atas pemikiran orang lain, ideologi yang dianut orang lain, hingga kepercayaan orang lain.

Harus diingat kembali, Tuhan tidak pernah meminta umatnya untuk mengatasnamakan diri-Nya untuk melakukan kekerasan. Bagi saya yang beragama Islam, agama manapun mengajarkan sebuah cinta kasih dan toleransi. Tak ada satupun agama di dunia yang mengajarkan umatnya untuk berperang dan melakukan hal-hal keji. Hanya saja, perspektif nilai atas kebenaran yang dianut berbeda.Dan perbedaan itulah yang harus dipahami dan saling didiskusikan agar tercipta sebuah keharmonisan.